all_header_1
Saturday, 19 Apr 2014 - 14.01 WIB
Follow : Like : RSS : Mobile :
Latest News

Pro Kontra Mobil Murah

Monday, 23 Sep 2013 - 15.20 WIB

mobil murah FIX

Desain oleh Centroone.com/Achmad

Jakarta - Peredaran mobil murah ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC) di Indonesia saat ini jadi perbincangan banyak kalangan baik pemerintah dan masyarakat.

Ada yang berpendapat bahwa dengan dipasarkan mobil murah tersebut akan menambah kemacetan di Jakarta. Kemudian ada yang mengatakan dengan adanya mobil murah golongan ekonomi menengah akan merasakan punya mobil baru dengan harga terjangkau.

Menanggapi persoalan bertambahnya kemacetan di Jakarta akibat peredaran mobil murah tersebut, Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa peredaran mobil tersebut tidak hanya di Jakarta, tetapi dipasarkan di seluruh Indonesia.

Seperti dikutip dari website Kementerian Perhubungan, Presiden telah menandatangani Peraturan Pemerintah No.41/2013 tentang Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor Yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang resmi diterbitkan Rabu 5 juni 2013.

Peraturan ini menjadi payung hukum atas proyek Low Carbon Emission Program yang diharapkan dapat mendorong produksi dan penggunaan mobil ramah lingkungan di Indonesia. Salah satu poin dalam aturan ini memberikan kemudahan fiskal bagi produsen mobil ramah lingkungan, yang bertujuan merangsang industri menciptakan kendaraan hemat bahan bakar minyak.

Payung hukum ini antara lain meliputi insentif perpajakan dan persyaratan pengembangan mobil Low Cost Green Car (LCGC), hybrid, listrik dan kendaraan dengan bahan bakar biofuel.

Dalam pasal 3 ayat 1 huruf c disebutkan bahwa mobil hemat energi dan harga terjangkau selain sedan atau station wagon akan terkena Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak sebesar 0 persen. Peraturan tentang LCGC tersebut dikeluarkan sekaligus dalam rangka penghematan penggunaan bahan bakar minyak.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai dengan dipasarkannya LCGC tersebut terlihat bahwa pemerintah pusat tidak serius mengatasi kemacetan. Di tengah upaya beberapa kepala daerah mengatasi kemacetan di daerahnya, malah pemerintah pusat mengeluarkan paket mobil murah (LGCG). Lebih bijak, sub mobil murah tersebut diberikan pada daerah yang serius menata transportasi umum murah dan memadai.

"Mau meniru luar negeri, seperti Jepang, Taiwan dan Korea, tapi tidak melihat kondisi awalnya seperti apa. Mantapkan dulu kebijakan transportasi massal yang murah dan memadai, kemudian baru buat mobil murah," kata Djoko di Jakarta, Senin (23/9/2013).

Menurut Djoko, mobil murah tersebut tidak ada kaitan dengan ramah lingkungan atau hemat energi. Jika banyak yang gunakan, pasti boros energi.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, bahwa Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) tidak perlu khawatir mobil tersebut akan memadati jalan di Ibu Kota.

Hidayat menyebutkan bahwa pemerintah sedang membuat peraturan untuk mobil murah dan ramah lingkungan (Low Cost and Green Car/LCGC). Peraturan tersebut nantinya mengharuskan mobil tersebut mengkonsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi.

Sementara Ketua DPR Marzuki Alie sambut positif industrialisasi mobil murah ramah lingkungan (LCGC) di Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia harus ikut meramaikan pasar mobil murah dengan memproduksi mobil murah buatan dalam negeri.

"Begini, saya suka mobil nasional tapi juga murah yah. Mobil nasional tapi mahal justru bebani rakyat. Sebaiknya mobil nasional juga murah, itu penting," kata Marzuki di Jakarta.

Banyak kalangan yang berpendapat bahwa mobil murah tersebut bakal menambah kemacetan di Jakarta, tetapi menurut Marzuki, industrialisasi mobil murah jangan dikaitkan dengan kemacetan.

"Bangun industri itu penting loh, ada lokomotif yang harus kita kedepankan. Ada prime overnya dalam industri itu, kita unggulnya dalam bidang apa di kawasan Asia kalo kita unggulnya dalam bidang otomatif maka kita kembangkan dalam bidang otomotif, jangan nanti pasar ASEAN justru dipenuhi oleh mobil-mobil produk-produk hasil dari negara-negara ASEAN lainnya," jelasnya.

 

Oleh: Fajar Sudrajat - Editor: Masruroh

Komentar

Belum ada yang memberikan komentar.

Kirim Komentar

Untuk kirim komentar silahkan Login atau Register

NEWSLETTER
Get our free Centro One newsletter and stay in touch with the latest news and updates from your email inbox!
POLLING