Rabu, 30 Jul 2014 - 03.48 WIB
Follow : Like : RSS : Mobile :
Latest News

Anand Krishna Tolak Putusan MA

Senin, 24 Sep 2012 - 21.06 WIB

anand krishna

Anand Krishna

Denpasar - Tokoh spiritual Anand Krishna menolak putusan Mahkamah Agung (MA) yang mengabulkan kasasi jaksa penuntut umum dalam kasus pelecehan seksual kepada muridnya. Penolakan itu disampaikan Anand di dinding Facebook mantan Menristek Muhammad AS Hikam, Senin (24/9/2012).

Anand Krishna mengungkapkan bahwa posisi dirinya sangat jelas bahwa tidak akan menaati putusan yang dinilainya cacat hukum.

Wayan Suyoga dari Komunitas Pecinta Anand Ashram (KPAA) di Denpasar, menyatakan, akan melakukan perlawanan terhadap putusan MA yang dinilai sesat.

"Kami akan mengadakan perlawanan atas putusan sesat MA dalam mengkriminalisasikan Anand Krishna," ujar Sayoga.

Ia menilai, permohonan dan pengabulan kasasi atas putusan bebas Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, adalah pelanggaran hukum. "Bila oknum-oknum lembaga penegak hukum di Kejaksaan Negeri dan MA sendiri punya nyali untuk melanggar UU yang berlaku, tentu sudah saatnya bagi rakyat untuk melawan atas kesewenang-wenangan ini," katanya.

Sayoga menjelaskan, menurut KUHAP Pasal 244 dan 67, putusan bebas tidak dapat dibanding atau dimintakan kasasinya agar setiap warga negara mendapatkan pengakuan, persamaan, dan jaminan kepastian hukum yang adil seperti yang diamanatkan Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945.

Sebelumnya, spiritualis lintas agama Anand Krishna diputus bebas dan dipulihkan hak atas kedudukan, harkat, dan martabatnya oleh majelis hakim PN Jakarta Selatan yang diketuai oleh Albertina Ho pada 22 Nopember 2011 lalu.

Majelis hakim di MA yang dipimpin oleh Zahruddin Utama, kemudian mengabulkan permohonan kasasi ini pada tanggal 24 Juli 2012, walau pun banyak kalangan hukum menganggap permohonan ini cacat hukum karena berisikan tiga halaman kasus lain yang sama sekali tidak terkait dengan kasus ini sebagai bahan pertimbangan.

Salinan putusan kasasi MA ini muncul di website resmi MA (21/9), bertepatan dengan acara tahunan KPAA, yakni International Bali Meditators Festival (IBMF) yang digelar di Ubud, Bali, 20-23 September 2012.

"Waktu keluarnya salinan putusan MA dan munculnya desakan untuk menahan Anand Krishna yang bertepatan dengan dimulainya acara besar kami adalah upaya sistematis untuk membungkamkan dan menghentikan kegiatan-kegiatan kami yang mempromosikan perdamaian, cinta kasih dan keharmonisan lintas agama dan bangsa," ucap Sayoga.

Sebelumnya, Romo Franz Magnis Suseno yang ditemui saat menandatangani prasasti peresmian Anand Ashram di Ubud mengaku sangat prihatin dengan preseden kriminalisasi sistematik terus menerus oleh oknum-oknum di dalam lembaga penegak hukum, terhadap salah satu tokoh lintas agama ini.

"Ini merupakan upaya pembungkaman dan penghentian kegiatan-kegiatan lintas agama yang diprakarsainya," ujar Franz.

Majelis Kasasi yang terdiri dari Zaharuddin SH, Achmad Yamanie,SH dan Sofyan Sitompul,SH mengabulkan Kasasi JPU yang menuntut Anand Khrisna selama dua tahun enam bulan. Putusan itu, lebih berat dari putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang dipimpin Albertina Ho yang telah membebaskan AK dari dakwaan.

Dalam tuntutan JPU, Anand Khrisna telah terbukti melakukan perbuatan cabul dan dijerat dengan Pasal 294 ayat (2) ke-2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) jo Pasal 64 ayat (1) KUHP tentang perbuatan cabul terhadap anak muridnya Tara Pradipta Laksmi. (ant)

Editor: Raden Trimutia Hatta

Komentar

Belum ada yang memberikan komentar.

Kirim Komentar

Untuk kirim komentar silahkan Login atau Register

NEWSLETTER
Get our free Centro One newsletter and stay in touch with the latest news and updates from your email inbox!
POLLING