all_header_1
Rabu, 26 Nov 2014 - 08.22 WIB
Follow : Like : RSS : Mobile :
Latest News

Jokowi-Ahok Dianggap Simbol Nasionalisme Baru

Selasa, 17 Jul 2012 - 19.57 WIB

johok7

Jokowi-Ahok. Foto:centroone.com

Jakarta - Pilkada DKI Jakarta 2012 digelar untuk mencari sosok pemimpin yang mampu menciptakan ruang demokrasi bagi warganya. Kedua pasangan Cagub yang tersisa melaju di putaran dua, yakni pasangan incumbent Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) dan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Menurut pakar politik Timur Tengah, Zuhaeri Misrawi, kalau dibandingkan Jakarta dengan Mesir, Ibukota sangat potensial memiliki banyak calon pemimpin. Seharusnya siapa pun bisa menjadi pemimpin, tanpa harus memiliki uang banyak. Berbicara demokrasi itu, tanpa melihat latar belakang sosok calon pemimpin yang maju dalam Pilkada DKI.

"Di Jakarta, Jokowi-Ahok menjadi simbol nasionalisme. Ahok menjadi Bupati di Belitung yang 80% muslim. Di mana demokrasi memberikan pesan kesetaraan dan citizenship. Kita harus coba sekali-kali pemimpin dari yang non-muslim. Kita harus beri kesempatan sebagai konsekuensi dari demokrasi," katanya di Rumah Perubahan, Kompleks Duta Merlin Blok C, Jakarta Pusat, Selasa (17/7/2012).

Meskipun saat ini sudah muncul kampanye hitam melalui isu agama dan etnis, namun sekarang ini isu tersebut dinilai sudah tidak manjur lagi. Karena pola pikir masyarakat Jakarta saat ini sudah pintar dan cerdas, sehingga kampanye hitam sudah tidak relevan lagi digunakan di Jakarta.

"Sekarang isu SARA sudah dimunculkan, tapi rakyat tidak bergeming, itu menunjukan suara rakyat adalah suara Tuhan, bukan suara survei. Ketika rakyat menentukan pilihannya tanpa dimanipulasi oleh uang, iklan dan lain-lain, adalah hal baik dalam berdemokrasi," tutur Misrawi.

Sebelumnya ia sempat berpikir Indonesia mengalami krisis pemimpin. Indonesia memiliki banyak calon pemimpin tetapi mereka tidak memiliki kesempatan yang sama. Karena sebelum sekarang ini, faktor kepartaian dan uang merupakan kunci keberhasilan seorang pemimpin bakal terpilih.

"Ketika demokrasi dibuka secara transparan, akan muncul pemimpin alternatif di tengah masyarakat yang mampu membuat sebuah perubahan," tandasnya.

Reporter: Dominicus Alvin - Editor: Raden Trimutia Hatta

Komentar

Belum ada yang memberikan komentar.

Kirim Komentar

Untuk kirim komentar silahkan Login atau Register

NEWSLETTER
Get our free Centro One newsletter and stay in touch with the latest news and updates from your email inbox!
POLLING