Senin, 01 Sep 2014 - 14.27 WIB
Follow : Like : RSS : Mobile :
Latest News

Kala Demokrat di Bibir Jurang

Rabu, 20 Jun 2012 - 09.47 WIB

pd3

Jakarta - Sejumlah lembaga survei menunjukkan elektabilitas Partai Demokrat mengalami keanjlokan. Menjelang Pemilu 2014, posisi partai binaan SBY ini kian berada di bibir jurang ketidakpercayaan publik.

Pengamat Politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin menilai, anjloknya hasil survei Partai Demokrat adalah hal yang wajar dan menjadi konsekuensi logis dari suatu proses kontestasi politik demokratis. Ada beberapa alasan yang membuat partai pemenang Pemilu 2009 ini tak dipercaya masyarakat lagi.

"Pertama, adanya rentetan kasus korupsi yang menimpa petinggi dan kader partai itu. Utamanya menyangkut Nazarudin, Angelina Sondakh dan dugaan terhadap Ketua Umumnya Anas Urbaningrum. Pemberitaan media yang gencar dan seolah tak pernah berhenti mengangkat isu itu dalam kurun wktu yang panjang, membuat publik menjadi semakin sadar bahwa ada yang tidak beres dalam tubuh partai binaan SBY itu," papar Said kepada centroone.com di Jakarta, Rabu (20/6/2012).

Menurut Said, turunya elektabilitas Partai Demokrat juga didasari karena ketidakmampuan SBY sebagai simbol partai mengemban amanat rakyat. "Masyarakat dalam masa pemerintahan SBY tidak merasakan adanya perbaikan terhadap taraf hidup dan tingkat kesejahteraan mereka setelah 8 tahun SBY berkuasa sejak 2004," ujarnya.

Selain itu, kata Said, momentum gonjang-ganjing di tubuh Partai Demokrat dimaanfaatkan secara lihai oleh partai politik pesaing Demokrat. 'Musuh-musuh' Demokrat berhasil mengungkap kelemahan kepemimpinan nasional di bawah pemerintahan SBY di setiap ruang publik.

"Walhasil, masyarakat mulai melirik kepada Golkar, PDIP dan partai baru Nasdem. Meningkatnya preferensi terhadap parpol non-Demokrat itu sudah barang tentu memperkecil perolehan dukungan publik kepada Demokrat karena suara dukungan itu beralih ke partai lain," ujarnya.

Strategi SBY untuk menyelesaikan persoalan di internal partainya pun dilihat Said tidak jitu. Dimana upaya untuk melemahkan posisi Anas melalui konsolidasi para pendiri dan deklarator, justru tidak mencerminkan kemampuan SBY dalam mengelola dan menerapkan manajemen penyelesaian konflik pada partai modern.

Lebih buruk lagi, lanjut Said, selain elektabilitas yang menurun, krisis luar-dalam, juga tidak adanya figur sekaliber SBY yang bisa dijual Demokrat pada pemilu 2014 punya andil menjorokan partai penguasa itu ke bibir jurang.

Senada dengan Said Salahudin, Pengamat Politik UIN Achmad Bakir Ihsan berpendapat, merosotnya citra dan elektabilitas Demokrat tak lepas dari kasus korupsi yang membelit dan terus diumbar media tanpa langkah radikal dari Demokrat menyelesaikan kasus tersebut.

Ia pun berpendapat bila masa krisis PD dalam elektabilitas tidak menemukan solusi atau jalan keluar, belum tentu Demokrat mampu bersaing pada pemilu 2014. "Ya jelas ini masa krisis bagi Demokrat yang bila tidak direspons secara cepat dan tepat akan sangat berpengaruh bagi hidup mati di 2014," tukasnya.

Merosotnya elektabilitas Partai Demokrat sudah mengkhawatirkan para politisi di partai penguasa itu. Anggota Dewan Pembina PD Hayono Isman sampai menyebut partainya dalam masa krisis.

Menurut Hayono, masa ini merupakan yang terburuk sejak partai itu didirikan pada tahun 2003. Pada masa jayanya, elektabilitas PD tidak pernah ada di bawah angka 20 persen.

"Ini yang paling buruk dari sejarah keberadaan partai. Ini kondisi yang terburuk seingat saya," ucap Hayono.

Reporter: Luki Junizar - Editor: Raden Trimutia Hatta

Komentar

cimong

24 Jun 2012 - 23:21 (2 years ago)

I just want to say that This article is basically fascinating I am looking for. like :
http://bokase2012.tk

Kirim Komentar

Untuk kirim komentar silahkan Login atau Register

NEWSLETTER
Get our free Centro One newsletter and stay in touch with the latest news and updates from your email inbox!
POLLING