Rabu, 03 Sep 2014 - 11.32 WIB
Follow : Like : RSS : Mobile :
Latest News

Tuntut Kemenag Mundur, Guru & Aparat Terlibat Bentrok

Senin, 04 Jun 2012 - 11.44 WIB

kemenag

Demo menuntut Kemenang Pamekasan Nurmaluddin mundur. (Ist)

Pamekasan - Sebanyak tiga orang guru terluka dalam unjuk rasa di depan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Senin (04/06), yang menuntut pimpinan lembaga itu mundur dari jabatannya.

Ketiga orang guru ini terluka karena terkena pukulan petugas saat mereka berupaya membakar karikatur Kepala Kantor Kemenag Pamekasan Normaluddin.

"Kami sangat menyayangkan tindakan represif petugas. Padahal kami tidak melakukan perusakan, hanya hendak membakar karikatur Kepala Kemenag," kata korlap aksi itu, Zainal Abidin.

Ketiga orang guru itu terluka di bagian wajah, bibir dan sebagian kepala mereka.

Kericuhan antara pengunjuk rasa perwakilan guru yang berada dibawah naungan kantor Kemenag Pamekasan tidak berlangsung lama, karena massa memilih untuk mengundurkan diri.

Saat ini, ketiga guru yang mengalami luka-luka akibat tindakan represif petugas tersebut dilarikan ke rumah sakit Pamekasan untuk divisum.

Selain membakar karikatur Kepala Kemenag Normaluddin, guru pengunjuk rasa ini sempat melempari tomat dan telur busuk ke kantor Kemenag sebagai bentuk kekecewaan mereka.

Ada dua tuntutan yang disampaikan para pengunjuk rasa dalam aksi tersebut. Pertama, menuntut Kepala Kemenag Normaluddin mundur dari jabatannya, karena yang bersangkutan selama ini dinilai telah membuat kebijakan yang merugikan para guru dan menodai institusi agama.

"Tuntutan yang kedua, kami meminta agar Kepala Kemenag bersikap sopan, dan tidak bersikap sewenang-wenang terhadap bawahannya," kata Zainal Abidin.

Kapolres Pamekasan AKBP Nanang Chadarusman yang memimpin pengamanan unjuk rasa guru ini mengaku, anggotanya terpaksa melakukan tindakan represif, karena pembakaran karikatur Kepala Kemanag di jalan raya itu bisa mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

"Di sini kan jalan raya. Jadi wajar jika kita berupaya menggagalkan aksi yang dilakukan mereka," terang Nanang Chadarusman.

Aksi unjuk rasa menuntut Kepala Kemenag mundur kali ini merupakan kali ketiga selama kurun waktu Mei hingga Juni 2012.

Pertama kali unjuk rasa ke kantor Kemenag menuntut pimpinan lembaga itu mundur karena telah melakukan pungutan liar dalam program sertifikasi digelar pada tanggal 15 Mei 2012.

Aksi menuntut pengunduran diri Nurmaluddin ini dipicu adanya instruksi dari yang bersangkutan kepada para siswa di sekolah-sekolah yang berada dibawah lembaga itu agar membayar biaya ujian kenaikan kelas sebesar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu.

Tidak hanya itu saja, para guru yang telah mengikuti program sertifikasi dan akan mengambil sertifikatnya, harus membayar Rp50 ribu. Kepala kantor di masing-masing kecamatan juga dikenakan pungutan Rp40 ribu untuk setiap urusan perkawinan.

Praktik pungli yang telah diterapkan Kepala Kemenag Pamekasan itu dinilai telah menodai nilai moral agama dan lembaga yang dipimpinnya sebagai lembaga yang bergerak pada bidang urusan agama.

Tidak hanya sampai disitu saja, delapan hari kemudian, yakni pada tanggal 23 Mei 2012, sekitar 200 orang perwakilan guru, kepala sekolah dan pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) se Pamekasan juga berunjuk rasa ke kantor wilayah Kemenag Jatim di Surabaya dengan tuntutan yang sama.

Para pengunjuk rasa datang langsung ke Kanwil Kemanag Jatim guna meminta agar Nurmaluddin hendaknya dipecat sebagai Kepala Kemenag Pamekasan karena dinilai sudah tidak pantas lagi menjabat kepala Kemenag.

Di kalangan internal institusi Kemenag, kebijakan Nurmaludin juga banyak menuai protes. Hal ini terbukti dengan adanya aksi dari karyawannya sendiri dengan cara melakukan mogok kerja yang digelar pada Kamis (31/5) kemarin.

Aksi mogok kerja sebagian pegawai di Kantor Kemenag Pamekasan ini digelar sebagai bentuk protes adanya sejumlah staf yang dimutasi Nurmaluddin, karena membocorkan pungutan liar yang dilakukan dirinya kepada media dan diduga memprovokasi guru dan para kepala KUA berunjuk rasa.

Namun, Kepala Kantor Kemenag Pamekasan Nurmaluddin sendiri sebelumnya telah membantah semua tudingan para guru dan kepala sekolah, serta Kepala KUA se-Pamekasan tentang tuduhan pungli yang dilakukan oleh dirinya.

Ia juga membantah sering melakukan intimidasi terhadap bawahannya yang tidak mau menyetorkan sejumlah uang, sebagaimana disampaikan pengunjuk rasa sebelumnya.

"Saya tidak pernah melakukan itu. Justru saya merasa terhina dengan apa yang disampaikan pengunjuk rasa itu," terang Nurmaludin.

Mantan pejabat di Kemenag Sampang ini lebih lanjut mengaku, selama ini tidak ada konflik horisontal di tubuh Kemenag Pamekasan dan tidak ada keputusan kontroversi dan melanggar hukum yang dilakukan dirinya. (Ant/rur)

 

Komentar

Belum ada yang memberikan komentar.

Kirim Komentar

Untuk kirim komentar silahkan Login atau Register

NEWSLETTER
Get our free Centro One newsletter and stay in touch with the latest news and updates from your email inbox!
POLLING