Kamis, 31 Jul 2014 - 04.12 WIB
Follow : Like : RSS : Mobile :
Latest News

DPR Kecam Boikot Buku 'Allah, Liberty and Love'

Kamis, 10 Mei 2012 - 08.02 WIB

Irshad Manji 060512 Z 2

Buku Irshad Manji. Foto: Antara

DPR Kecam Boikot Buku "Allah, Liberty and Love"
Semarang - Anggota Komisi III DPR RI Eva Kusuma Sundari menyesalkan penyerangan sekelompok massa ke lokasi acara LKIS Sorowajan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk membubarkan diskusi, Irshad Manji, pengarang buku "Allah, Liberty and Love".
"Sungguh menyesalkan penyerangan terhadap Irshad Manji, hanya memunculkan kehebohan dan meniadakan kesempatan untuk mendebat, menantang, bahkan mementahkan pemikiran-pemikiran yang dituduh menyesatkan," kata Eva di Semarang, Kamis (9/5/2012).
Wakil rakyat di Komisi III yang membidangi hukum dan perundang-undangan, hak asasi manusia, dan keamanan ini menyayangkan kelompok intoleran itu bukannya mengirim ahli pikir tangguh untuk beradu akal, tetapi justru mengerahkan massa untuk merusak properti orang, mengancam, dan memukuli peserta diskusi.
Sebagai anggota masyarakat dari negara hukum dan berdasar kepada konstitusi yang demokratis, kata Eva, harusnya segala perbedaan diselesaikan secara beradab. Menurut dia, penyerangan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) terhadap acara Lembaga Kajian Ilmu Sosial (LKIS) itu menunjukkan pikiran yang pendek.
"Sikap menolak perdebatan, bahkan juga dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang harusnya mengembangkan kebebasan akademik," kata Eva yang juga Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR RI itu.
Di lain pihak, Eva juga mempersoalkan tindakan aparat Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam menangani insiden di LKIS. "Para korban justru diinterogasi, dan buku-buku Irsyad Manji dan buku-buku lain (yang tidak dilarang Kejaksaan Agung) diusung," ujarnya.
Sebagaimana pola standar eskapisme kepolisian, kata Eva, mereka tidak fokus pada tindakan (pidana/kejahatan) kekerasan para aktivis MMI, tetapi justru terkesan menyalahkan pihak korban kekerasan, yaitu LKIS sebagai penyelenggara diskusi tertutup.
"Secara pribadi, saya menolak pemikiran-pemikiran Irshad Manji, tetapi tidak setuju dia diserang karena pemikiran-pemikirannya. Kita harus menarik pembelajaran dari reaksi emosional dan 'short minded' masyarakat terhadap sosok Manji karena eksesnya semata negatif, baik ke dalam (rasa aman masyarakat) dan ke luar negeri (sebagai negara muslim paling demokratis)," katanya.
Oleh karena itu, kata anggota DPR RI berasal dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VI tersebut, polisi harus mulai tegas untuk mengembangkan penegakan hukum dengan berkeadilan secara substantif, tidak justru mengkriminalkan korban kekerasan.
"Saat yang sama, maraknya kekerasan oleh kelompok masyarakat intoleran (akibat lemahnya aparat kepolisian) bukan tanda yang baik bagi kemajuan demokrasi karena dasar demokrasi adalah nalar, bukan otot," demikian Eva Kusuma Sundari.
Sebelumnya, Ketua Center for Religius and Cross Cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Zaenal Arifin Bagir, menyatakan kecewa dengan sikap pimpinan universitas yang membatalkan diskusi bersama Irshad Manji. "Pembatalan diskusi bersama aktivis feminisme dari New York University, Amerika Serikat (AS), Irshad Manji yang akan membedah bukunya berjudul 'Allah, Liberty and Love' itu merupakan hal yang mengecewakan dan merupakan bukti bahwa atmosfer akademik sudah terancam," katanya di Yogyakarta, Rabu (9/5). (ant)
Editor: Hatta

Semarang - Anggota Komisi III DPR RI Eva Kusuma Sundari menyesalkan penyerangan sekelompok massa ke lokasi acara LKIS Sorowajan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk membubarkan diskusi, Irshad Manji, pengarang buku "Allah, Liberty and Love".

"Sungguh menyesalkan penyerangan terhadap Irshad Manji, hanya memunculkan kehebohan dan meniadakan kesempatan untuk mendebat, menantang, bahkan mementahkan pemikiran-pemikiran yang dituduh menyesatkan," kata Eva di Semarang, Kamis (9/5/2012).

Wakil rakyat di Komisi III yang membidangi hukum dan perundang-undangan, hak asasi manusia, dan keamanan ini menyayangkan kelompok intoleran itu bukannya mengirim ahli pikir tangguh untuk beradu akal, tetapi justru mengerahkan massa untuk merusak properti orang, mengancam, dan memukuli peserta diskusi.

Sebagai anggota masyarakat dari negara hukum dan berdasar kepada konstitusi yang demokratis, kata Eva, harusnya segala perbedaan diselesaikan secara beradab. Menurut dia, penyerangan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) terhadap acara Lembaga Kajian Ilmu Sosial (LKIS) itu menunjukkan pikiran yang pendek.

"Sikap menolak perdebatan, bahkan juga dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang harusnya mengembangkan kebebasan akademik," kata Eva yang juga Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR RI itu.

Di lain pihak, Eva juga mempersoalkan tindakan aparat Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam menangani insiden di LKIS. "Para korban justru diinterogasi, dan buku-buku Irsyad Manji dan buku-buku lain (yang tidak dilarang Kejaksaan Agung) diusung," ujarnya.

Sebagaimana pola standar eskapisme kepolisian, kata Eva, mereka tidak fokus pada tindakan (pidana/kejahatan) kekerasan para aktivis MMI, tetapi justru terkesan menyalahkan pihak korban kekerasan, yaitu LKIS sebagai penyelenggara diskusi tertutup.

"Secara pribadi, saya menolak pemikiran-pemikiran Irshad Manji, tetapi tidak setuju dia diserang karena pemikiran-pemikirannya. Kita harus menarik pembelajaran dari reaksi emosional dan 'short minded' masyarakat terhadap sosok Manji karena eksesnya semata negatif, baik ke dalam (rasa aman masyarakat) dan ke luar negeri (sebagai negara muslim paling demokratis)," katanya.

Oleh karena itu, kata anggota DPR RI berasal dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VI tersebut, polisi harus mulai tegas untuk mengembangkan penegakan hukum dengan berkeadilan secara substantif, tidak justru mengkriminalkan korban kekerasan.

"Saat yang sama, maraknya kekerasan oleh kelompok masyarakat intoleran (akibat lemahnya aparat kepolisian) bukan tanda yang baik bagi kemajuan demokrasi karena dasar demokrasi adalah nalar, bukan otot," demikian Eva Kusuma Sundari.

Sebelumnya, Ketua Center for Religius and Cross Cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Zaenal Arifin Bagir, menyatakan kecewa dengan sikap pimpinan universitas yang membatalkan diskusi bersama Irshad Manji. "Pembatalan diskusi bersama aktivis feminisme dari New York University, Amerika Serikat (AS), Irshad Manji yang akan membedah bukunya berjudul 'Allah, Liberty and Love' itu merupakan hal yang mengecewakan dan merupakan bukti bahwa atmosfer akademik sudah terancam," katanya di Yogyakarta, Rabu (9/5). (ant)

 

Editor: Hatta

Komentar

Belum ada yang memberikan komentar.

Kirim Komentar

Untuk kirim komentar silahkan Login atau Register

NEWSLETTER
Get our free Centro One newsletter and stay in touch with the latest news and updates from your email inbox!
POLLING