Sabtu, 01 Nov 2014 - 08.37 WIB
Follow : Like : RSS : Mobile :
Latest News

Masjid Tua Itu Masih Kokoh Berdiri

Sabtu, 28 Jul 2012 - 11.18 WIB

masjid kemayoran

Masjid Kemayoran, salah satu masjid tertua di Surabaya yang hingga kini masih kokoh berdiri. Foto: Centroone.com/Suryanto

Surabaya - Banyak warga Surabaya yang tak mengetahui kalau di kota ini ada tiga masjid tertua. Yakni Masjid Kemayoran, Masjid Rahmat Kembang Kuning dan Masjid Peneleh. Masing-masing cerita sejarahnya pun berbeda-beda.

Masjid Kemayoran yang berada di Jl Indrapura, dulu merupakan bagian dari komplek alun-alun Surabaya yang terletak di Jl Pasar Besar (dulu bernama Aloen-aloen Straat). Bahkan pada 1905, masjid ini mendapat cap sebagai masjid terbesar pertama di Surabaya.

Masjid yang dipugar pada 1844-1848 ini memiliki arsitektur Jawa kuno, dan gaya itu masih bisa terlihat di bagian dalam masjidnya.

Dulu masjid ini memiliki dua menara namun satu menara sampai saat ini roboh dan tak pernah dibangun ulang. Robohnya menara itu akibat disambar petir.

Masjid ini dirancang warga Belanda, JWB Wardenaar. Masjid yang sekarang ini ada, berdiri di bekas reruntuhan bangunan masjid lama.

Dulu masjid itu sebetulnya berdiri di atas tanah yang sekarang jadi Tugu Pahlawan sejak 1772. Penjajah Belanda saat itu mendirikan kantor gubernuran yang sekarang jadi kantor Gubernur Jatim dulu bernama Hoeve Kamtoer (kantor besar).

Di lokasi masjid, Belanda ingin mendirikan kantor Pengadilan, maka Belanda membongkar masjid tersebut tapi mendapat perlawanan masyarakat.

Kemudian terjadi pertempuran antara masyarakat yang membela keberadaan masjid dengan Belanda. Untuk meredakan situasi yang memanas, akhirnya Belanda berunding dengan tokoh masyarakat dan mau mengganti masjid yang saat ini ada.

Masjid itu didirikan di tanah bekas rumah seorang Mayor Angkatan Darat Belanda. Dan pada jaman perjuangan kemerdekaan, masjid itu jadi markas pejuang Hizbullah yaitu tepatnya di SMPN 2 Surabaya, yang dulunya merupakan SD Islam milik yayasan masjid.

Kini masjid yang dikelola Yayasan Takmirul Masjid Kemayoran mempunyai Taman Pendidikan Ta’miriyah Surabaya dari TK, SD, SMP dan SMA.

Sejarah berdirinya masjid Kemayoran Surabaya ini diperkuat adanya prasasti yang terbuat dari logam berwarna kuning bertuliskan huruf Jawa dan berbahasa Jawa pada masa pemerintahan Bupati Surabaya, Raden Tumenggung Kromojoyo Dirono (tahun 1772-1776).

Masjid lain yang juga dikenal adalah Masjid Jami Peneleh. Masjid yang dikenal sebagai masjid yang banyak menghasilkan hafidz Qur’an, berada di kawasan Jl Peneleh V.

Masjid yang berdekatan dengan rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, salah satu pahlawan kemerdekaan RI, tercatat sebagai masjid tertua di Kota Surabaya yang berdiri pada 1421, dibangun beberapa bulan sebelum dibangun Masjid Ampel. Pendirinya juga Sunan Ampel. Kini masjid ini berada satu kompleks dengan pondok pesantren.

Seperti Masjid Ampel, masjid Peneleh ini memiliki keistimewaan, yakni memiliki air sumur yang diyakini banyak orang, memiliki tuah.

Sumur itu diyakini sebagai petilasan Sunan Ampel. Letak sumur ini tersembuyi di bawah tangga dan bedug, sehingga sulit dilihat. Hanya saja air itu mengalir ke tempat wudlu.

Masjid ini memiliki arsitektur new imperial Belanda dan karakter bangunannya seperti gedung negara Grahadi. Masjid ini pernah direnovasi pada tahun 1800.

Tiang penyangganya dari kayu jati termasuk rangka langit-langitnya. Ada 10 tiang kayu jati raksasa menjulang tinggi dan saling menyambung di bagian langit-langit. Dipadu dengan kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid.

Lokasinya yang tersembunyi di tengah kampung Peneleh menjadikannya kalah pamor dari masjid-masjid lain di Surabaya.

Di Surabaya, masjid lain yang tak kalah tuanya adalah Masjid Rahmat Kembang Kuning. Hanya saja, saat Sunan Ampel bersama Mbah Karimah menciptakannya, tempat itu hanyalah sebuah langgar tiban, bukan berupa masjid.

Kabarnya langgar yang jadi cikal bakal masjid, dibangun di era awal keruntuhan Kerajaan Majapahit atau sekitar abad XV. Namun melihat kondisi masjid saat ini, tentu akan sulit mencari dimana langgar tiban itu berdiri. Menurut pengurus masjid di tempat itu, langgar itu berada di bagian tengah masjid.

Semangat syiar Islam di Masjid Rahmat masih tetap tinggi. Hingga kini, Masjid Rahmat menjadi corong waktunya sholat seluruh Jawa Timur lewat siaran radio Yasmara.

Sayangnya, saat Ramadhan ini, tak ada ciri khas dari tiga masjid ini, khususnya dalam menu andalan berbukanya. Di tiga masjid itu, hanya ditemui makanan yang didapat dari bantuan warga, biasanya berupa nasi bungkus.

“Kalau di Masjid Rahmat, setiap hari ada 300 lebih nasi bungkus hasil bantuan warga. Setiap warga sekitar mendapat giliran sebulan sekali selama Ramadhan untuk 25 nasi bungkus. Di masjid ini memang tak ada ritual berbuka yang menjadi andalan. Di tempat ini banyak warga dari daerah lain yang ikut berbuka puasa,” ujar Winarto, salah satu pengurus di masjid itu.

Begitu juga di Masjid Kemayoran, sudah tak lagi memiliki menu khas. Hanya saja, saat berbuka, warga akan duduk rapi berbanjar untuk menunggu waktunya berbuka puasa.

Di depan warga akan tersedia makanan dan minuman yang disediakan Takmir Masjid yang didapat dari bantuan warga.

Pemandangan berbuka puasa ini tak beda jauh dengan masjid-masjid yang ada di Surabaya. Sudah tak banyak ada masjid di Surabaya yang memiliki menu khusus atau andalan saat Ramadhan.

 

Oleh: Windhi Ariesman - Editor: Masruroh

Foto-foto: Centroone.com/Suryanto

 

Komentar

Belum ada yang memberikan komentar.

Kirim Komentar

Untuk kirim komentar silahkan Login atau Register

NEWSLETTER
Get our free Centro One newsletter and stay in touch with the latest news and updates from your email inbox!
POLLING