Novel (?) Bentuk Perjuangan Hanung
Rabu, 22 Peb 2012 - 10.43 WIB
Hanung Bramantyo - CentroOne/Yose Riandi
Jakarta - Sutradara Hanung Bramantyo kembali buka suara mengenai filmnya bertajuk Tanda Tanya (?). Sebuah film, yang diawal kemunculannya pada bulan April 2011 lalu, banyak menarik perhatian, bahkan menuai protes dari para Ormas (Organisasi Massa). Pasalnya, film ini banyak mengangkat tentang kepercayaan dari beberapa agama yang ada di Indonesia. Tentang ke-tidak percayaan terhadap salah satu agama, bahkan Tuhan.
Disini, Hanung dianggap beberapa Ormas telah melakukan pelecehan terhadap salah satu agama di negeri ini. Meski begitu, dengan segala kontroversinya, film ini berhasil menjadi salah satu film box office lokal di tahun 2011. Pun, masuk ke dalam 9 nominasi Piala Citra.
Kini, membuka lembaran kedua tahun 2012, Hanung kembali merilis (?) dalam bentuk novel dan DVD. Padahal, biasanya film itu banyak diadaptasi dari novel. Tapi kali ini, jelas berbeda, film terlebih dulu yang keluar, baru novelnya.
"Idealnya, film itu setahun sesudah novel rilis. Untuk kali ini, memang film duluan yang keluar, setelah tiga bulan baru muncul novelnya," ujar Hanung, Selasa (21/2), di kawasan Gandaria Jakarta.
Itu, ia lakukan, karena sempat ada intimidasi yang datang dari Ormas. Nah, khawatirnya hal itu menjadi momok berkepanjangan. Untuk itulah, Hanung lebih dulu membuat filmnya, agar masyarakat bisa segera menikmati karya kontroversial suami Zaskia Adya Mecca ini.
Menurut Hanung, rilisnya kedua karya ini merupakan perjuangannya melawan hak kebebasan berkarya, dan kesamaan hak atas diluncurkan film ini. Jadi, kata Hanung, film ini sempat tertunda pengerjaannya. Begitu pula novelnya. Lalu sekarang, hadirlah kedua karya ini, yaitu novel dan DVD. Dua karya ini, tambah Hanung, memang harus mengalah dari launching filmnya, sehingga sengaja mencari waktu yang pas saat peluncurannya.
"Film ini juga tidak merusak akidah Islam ataupun merugikan siapapun. Film ini mendidik atau tidak, biarlah masyarakat yang menilainya," urai Hanung.
Oleh: Fahrul Anwar - Editor: Ary Nugraheni