Geliat Animator Indonesia
Jumat, 17 Peb 2012 - 16.21 WIB
Inilah animasi-animasi garapan anak bangsa - CentroOne/istimewa
Tintin. Tokoh pria berjambul, dengan didampingi si anjing setianya, Snowy. Ya, film The Adventures Of Tintin sempat menarik perhatian kita, bukan karena cerita dan teknologi animasinya yang canggih, melainkan siapa dibelakang layar itu semua.
Film animasi yang mendunia itu memang produksi Hollywood, tapi rupanya memiliki rasa Indonesia. Kenapa Indonesia? Rupanya, dibalik kesuksesan film animasi yang sempat box office di seluruh dunia ini ada orang Indonesia yang mengerjakannya.
Adalah Rini Sugianto. Rini merupakan animator utama untuk film produksi Hollywood asal Indonesia dalam proyek film animasi Steven Spielberg bertajuk The Adventures Of Tintin. Film ini sendiri, sempat booming dan menjadi box office di tahun 2011. Pasalnya, tokoh Tintin dan anjingnya, Snowy, merupakan tokoh kartun legenda, yang berawal dari serial komik laris.
Dikutip dari laman VOA (Voice Of America), kiprah Rini di industri perfilman papan atas dunia itu berawal dari kecintaannya terhadap karakter fiksi seorang jurnalis berjambul bernama Tintin.
Rini bekerja sebagai animator di perusahaan WETA digital di Selandia Baru. Ia adalah lulusan S2 dari Academy of Arts di San Francisco, California. Ia rela untuk meninggalkan pekerjaan dan kehidupannya di Amerika dan pindah ke Selandia Baru, setelah mendapat tawaran untuk menggarap film yang disutradarai oleh Steven Spielberg itu.
Rini mengungkapkan, saat itu WETA lagi hiring untuk Tintin sama Rise Of The Apes. Lalu, setelah itu ia ditelepon dan ditawari apakah mau pindah ke Selandia Baru.
"Saya grew up dengan Tintin, sewaktu masih kecil baca Tintin terus. Akhirnya saya nggak bisa nolak dan pindah ke sini tahun kemarin,” ucap Rini dikutip dari laman VOA.
Dalam film itu, Rini bertindak sebagai animator dengan andil paling besar. Kebetulan, di film ini, ia mengerjakan paling banyak adegannya, total ada 70 shot di film Tintin. Melihat nama orang Indonesia di film sebesar Tintin, tentunya merupakan kebanggaan tersendiri bagi kita. Bahkan, film The Avengers yang sebentar lagi bakal tayang, juga melibatkan Rini sebagai animatornya.
Film The Avengers merupakan sekuel dari Captain America, yang sempat box office tahun 2011. Film ini juga diangkat dari komik laris produksi Marvel. Rini memang sudah seperti jadi langganan animator kelas Hollywood disaat Indonesia sedang mengalami krisis di segala bidang.
Pun, kondisi seni, budaya, perfilman yang naik-turun. Banyak SDM (Sumber Daya Manusia) yang memiliki kemampuan bagus, tapi kurang didukung oleh fasilitas, plus dukungan dari pemerintah yang terkesan kurang menghargai produktifitas anak bangsa.
Tak hanya Rini, film yang digemari anak-anak Indonesia di tahun 2011, Upin - Ipin pun juga dikerjakan oleh orang Indonesia yang malah memilih bekerja di Malaysia. Untuk itulah, film si kembar lucu ini merupakan produksi Malaysia. Jadi, film hasil karya orang asli Indonesia - gempar di Indonesia, tapi diproduksi di negara tetangga.
Tak hanya Upin - Ipin ada tenaga muda Indonesia, di film animasi Malaysia lainnya pun ternyata memakai tenaga-tenaga andal dari Indonesia. Dikutip dari sebuah laman media OL, dibalik layar Upin - Ipin adalah Marsha Chikita Fawzi dan Aditya Prabaswara. Mereka, sudah lama tinggal di Malaysia, meski keduanya berasal dari Jakarta.
Mereka masuk dalam tim Las Copac, studio yang memproduksi film Upin - Ipin di Malaysia. Marsha yang merupakan putri sulung dari rocker kawak kita, Ikang Fawzi dan Marissa Haque, mengawali dunia animasi sejak di bangku kuliah. Kebetulan, Marsha menimba ilmu di Multi Media University di Selangor Malaysia. Kebetulan seniornya bekerja di Las Copac dan menawarinya untuk magang sekaligus bekerja paruh waktu (part time) disana.
Atas kinerjanya yang memuaskan, Marsha pun dipanggil oleh Las Copac dan ditawari untuk bekerja disana. Namun, untuk masuk ke studio tersebut juga tidak gampang, karena harus melalui tes dan sudah memiliki keterampilan di bidang animasi. Awalnya, Marsha bekerja serabutan di studio itu. Maklum, untuk bisa menjadi profesional, pekerja disana harus bisa mengerjakan semua bagian.
Kini, Marsha sudah mendapat posisi yang pasti, yaitu di bagian komposter. Bagian tersebut khusus menangani efek visual, termasuk pewarnaan pada animasi agar terlihat sempurna dan enak dilihat. Baginya, film animasi Upin - Ipin adalah salah satu film animasi untuk anak-anak yang memberi pelajaran sopan santun.
Nah, itulah salah satu misi Marsha, yang berkeinginan memberikan sesuatu yang dibuatnya bisa bermanfaat bagi semua yang menontonnya. Sementara, Aditya Prabaswara juga sudah menyenangi dunia animasi sejak kecil. Dia juga kebetulan satu almamater dengan Marsha di Multi Media University Malaysia.
Ya, geliat animasi di Indonesia sebenarnya tak kalah dengan di luar negeri. Rini, Marsha, dan Aditya hanyalah contoh dari sebagian besar muda-mudi kita yang sebenarnya memiliki kemampuan sama. Namun, karena kurang diasah, SDM yang ada jadi kurang terlihat di permukaan.
Lihat saja film animasi kita bertajuk The Chronicles of Java. Film yang digarap oleh STMIK AMIKOM Jogjakarta ini resmi memulai tahapan pra-produksi film 3D berskala Hollywood sejak pertengahan tahun 2011. Digarap oleh Tristan Strange, yang merupakan sutradara asal New Zealand, film ini akan diangkat ke produksi Hollywood.
Lalu, ada film Meraih Mimpi tahun 2009. Ini, adalah kali pertama Indonesia berhasil membuat film animasi 3D yang ditayangkan di layar lebar. Konon, kabarnya film ini siap Go Internasional dan bersaing dengan film animasi sekelas Hollywood. Film ini diproduksi Infinite Frameworks (IFW), studio animasi yang berpusat di Batam dan bekerjasama dengan rumah produksi Nia Dinata, Kalyana Production.
Belum lama ini, bahkan muncul film animasi singkat bertajuk Pada Suatu Ketika. Film animasi rasa Indonesia ini bahkan penggarapannya 'sempurna' menyerupai transformer, tapi ada nuansa asli Indonesia-nya. Dimulai dari warung kopi, lalu ada UFO, dan bajaj, metromini hingga bis kopaja yang berubah menjadi robot-robot canggih.
Orang menyebutnya transformer-nya Indonesia. Film ini digarap singkat oleh Lakon Animasi, sebuah sekolah animasi yang berbasis di kota Solo, Jawa Tengah. Penggarapannya sudah canggih seperti film-film animasi kelas dunia, seperti Shrek dan Smurf. Namun, usut punya usut ternyata film ini hanya untuk keperluan promo sekolah animasi tersebut. Bahkan, sudah ada yang mendanai untuk memperpanjangnya jadi film layar lebar, tetap Lakon Animasi menolaknya.
Indonesia sebenarnya kaya dengan segala hal. Hanya, kurang adanya dukungan pemerintah, sehingga kebanyakan animatornya bergerak sendiri. Padahal, contohnya di Malaysia, Aditya mengatakan, mereka difasilitasi berupa dukungan dana hingga kantor. Promosi film animasi juga didukung oleh berbagai pihak, terutama agar film animasi tersebut bisa dinikmati di negara lain.
Oleh: Berbagai Sumber - Editor: Ary Nugraheni