Rabu, 17 Sep 2014 - 18.28 WIB
Follow : Like : RSS : Mobile :
Latest News

Gonjang-ganjing Rupiah..Oh..Rupiah

Senin, 26 Agu 2013 - 07.35 WIB

dolar2

Nilai tukar rupiah terhadap dollar. (Ist)

Jakarta - Depresiasi rupiah yang terjadi saat ini berpotensi mengganggu stabilitas nasional. Selain merongrong keseimbangan neraca perdagangan, bisa dipastikan bahwa penguatan nilai tukar dolar AS akan mendongkrak harga bahan pangan di pasar dalam negeri, karena belasan komoditi kebutuhan pokok masih diimpor.

Hal ini dikemukakan Politisi Golkar, Bambang Soesatyo, terkait melemahnya nilai rupiah terhadap dollar.

"Saya melihat bahwa depresiasi rupiah saat ini akan menghadirkan dilema yang cukup serius bagi pemerintah. Pemerintah harus memilih satu di antara dua opsi yang tersedia. Yakni, fokus menjaga keseimbangan neraca perdagangan, atau all out menjaga stabilitas," kata Bambang.

"Sebab, neraca perdagangan kini mendapatkan tambahan faktor pengganggu. Kalau selama ini gelembung nilai impor BBM nyaris menjadi satu-satunya faktor perusak keseimbangan, pertumbuhan nilai impor bahan pangan kini mulai ikut merongrong neraca perdagangan," lanjut anggota DPR RI itu.

Akan tetapi, sambung Bambang, demi stabilitas nasional, ketersediaan dua kelompok komoditas strategis ini harus selalu terjaga alias tidak boleh kurang. Bahkan, persoalannya bukan sekadar stok yang mencukupi, tetapi juga menyangkut harga yang relatif terjangkau rakyat kebanyakan.

Lebih jauh pria yang akrab disapa Bamsoet ini berpendapat, di tahun 2012, nilai impor bahan pangan mencapai Rp 125 triliun. Lonjakannya relatif tinggi, karena tahun 2011 masih di kisaran Rp 90 triliun. Komoditi pangan yang diimpor meliputi beras, jagung, kedelai, biji gandum, tepung terigu, gula pasir, daging sapi dan daging ayam, garam, singkong dan kentang.

"Tahun ini, nilai impor bahan pangan pasti melonjak lagi karena krisis daging sapi," cetus Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini.

Dia pun menambahkan dengan menguatnya nilai tukar dollar AS terhadap rupiah, harga bahan pangan impor pun otomatis naik. Kemungkinan ini tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi rakyat kebanyakan yang berpenghasilan pas-pasan.

Sedangkan untuk komoditi BBM bersubsidi, Bambang menyatakan kekuatan pemerintah kembali diuji.

"Kalau gangguan dari faktor BBM bersubsidi terhadap neraca perdagangan sangat serius karena kuotanya begitu cepat terlampaui, bukan tidak mungkin pemerintah akan menaikkan lagi harga BBM bersubsidi," tandasnya.

 

Oleh: Luki Junizar - Editor: Masruroh

 

Komentar

Belum ada yang memberikan komentar.

Kirim Komentar

Untuk kirim komentar silahkan Login atau Register

NEWSLETTER
Get our free Centro One newsletter and stay in touch with the latest news and updates from your email inbox!
POLLING