Minggu, 21 Des 2014 - 07.22 WIB
Follow : Like : RSS : Mobile :
Latest News

Stabilkan Harga, Pemerintah Impor Bawang Putih

Kamis, 14 Mar 2013 - 07.24 WIB

bawang putih 1

Ist

Jakarta- Untuk mengendalikan harga bawang putih, Kementerian Perdagangan mengambil langkah konkrit dengan menerbitkan Surat Persetujuan Impor (SPI) untuk importasi bawang putih.  

Kemendag telah menerbitkan SPI berdasarkan RIPH yang diajukan oleh Kementerian Pertanian. SPI yang diterbitkan oleh Kemendag sebanyak 134,6 ribu ton untuk 92 perusahaan Importir Terdaftar (IT) atau 84,15 persen dari total kebutuhan untuk periode Semester I yang sebesar 160.000 ton.  

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi mengatakan, bahwa dengan diterbitkannya SPI tersebut dalam waktu kurang lebih 10-14 hari mendatang, maka pasokan bawang putih ke Pasar Induk dan Pasar Eceran, baik pasar tradisional maupun ritel modern, diharapkan dapat segera bertambah dan pada akhirnya membantu menurunkan harga bawang putih di pasar.  

Bachrul menuturkan upaya menambah pasokan melalui importasi akan tetap berpedoman pada aturan yang berlaku. Kemudian Kemendag juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk kelancaran arus barang dan distribusi dari empat pelabuhan, yaitu Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta), Pelabuhan Belawan (Medan), Pelabuhan Soekarno-Hatta (Makassar) dan Tanjung Perak (Surabaya).  

"Koordinasi ini penting dilakukan guna memastikan ketersediaan produk hortikultura dengan harga yang terjangkau bagi konsumen dalam negeri," kata Bachrul dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (14/03/2013).  

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustina mengatakan, harga bawang putih dan bawang merah mengalami kenaikan cukup signifikan dan menjadi penyumbang inflasi terbesar pada bulan Maret 2013.  

“Pemerintah terus berupaya untuk menstabilkan harga bahan kebutuhan pokok, termasuk bawang putih dan bawang merah tersebut," ujar Srie.  

Menurut Srie, harga bawang putih meningkat rata-rata sebesar 31,38 persen pada Februari 2013 jika dibandingkan pada bulan sebelumnya. Menurut beberapa pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, kenaikan harga tersebut dipicu oleh kurangnya pasokan dari China yang merupakan eksportir terbesar bawang putih ke Indonesia (sebanyak 95 persen dari total kebutuhan nasional).Sementara itu, China juga mengalami kenaikan harga bawang putih dari Rp 13.000 menjadi Rp 18.000 karena naiknya permintaan masyarakat lokal China.  

"Kenaikan harga di China juga turut mendorong naiknya harga bawang putih di Indonesia," jelasnya.  

Srie melanjutkan, penyebab lain kenaikan harga adalah menurunnya produktivitas di sentra produksi di dalam negeri. Selain itu, pengeluaran Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) yang dibutuhkan dalam proses importasi juga sebelumnya sempat mengalami kendala.  

Srie mengungkapkan bahwa bawang merah juga mengalami kenaikan harga rata-rata 11,36 persen selama Februari 2013 jika dibandingkan pada bulan sebelumnya. Berbeda dengan bawang putih, menurut Srie kenaikan harga bawang merah lebih disebabkan karena adanya perubahan cuaca yang disertai curah hujan yang tinggi. Selain itu, kegagalan panen yang terjadi di beberapa daerah, serta terhambatnya distribusi dari sentra produksi ke daerah konsumsi akibat banjir di sejumlah wilayah sentra produksi juga turut menyebabkan kenaikan harga bawang merah. 

Stok bawang putih di Pasar Induk Keramat Jati yang rata-rata 5-10 ton per hari kini menipis hingga mencapai hanya rata-rata 1 ton setiap harinya. Akibatnya harga bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati yang senilai Rp 29.000 per kilo pada 4 Maret 2013 naik menjadi Rp. 45.000 per kilo pada 12 Maret 2013. Sementara itu, bawang merah juga mengalami kenaikan harga dimana pada 4 Maret 2013 harganya sebesar Rp 21.000 per kilo menjadi Rp 40.000 per kilo pada tanggal 12 Maret 2013.  

Srie menambahkan bahwa Kemendag akan terus mendorong peningkatan produksi bawang putih lokal. Srie menilai bahwa importasi yang dilakukan pemerintah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, dan bukan untuk mengurangi pendapatan petani di dalam negeri. Menurut data pemerintah, produksi bawang putih nasional rata-rata 14.200 ton per tahun, sementara itu kebutuhan konsumsi dalam negeri sebesar 400.000 ton per tahun.  

"Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, bawang putih masih perlu diimpor. Namun demikian, Kemendag akan terus bersinergi dengan Kementan dalam mendorong produksi bawang putih lokal melalui permintaan konsumen dengan meningkatkan edukasi kepada konsumen agar dapat mendiversifikasi permintaan mereka terhadap bawang putih lokal yang saat ini kurang diminati," pungkasnya.  

Oleh: Fajar Sudrajat - Editor: Vivi Irmawati

Komentar

Belum ada yang memberikan komentar.

Kirim Komentar

Untuk kirim komentar silahkan Login atau Register

NEWSLETTER
Get our free Centro One newsletter and stay in touch with the latest news and updates from your email inbox!
POLLING