Rabu, 27 Agu 2014 - 20.04 WIB
Follow : Like : RSS : Mobile :
Latest News

Ibu RT, Penderita Tertinggi HIV/AIDS

Sabtu, 01 Des 2012 - 05.40 WIB

AIDS

Ist.

Surabaya - Tepat 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS se-Dunia. Namun, sudahkah masyarakat kita sadar akan penyakit itu? Bagaimana sikap masyarakat kita jika di lingkungannya ada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)?

Stigma AIDS sebagai penyakit menular dan mematikan itulah yang membuat pemahaman masyarakat kita masih rendah, sehingga ODHA sering kali dikucilkan.

Bagaimana penanganan HIV/AIDS oleh pemerintah maupun organisasi non-pemerintah? Sejauh mana perkembangan penyakit tersebut dan komunitas apa saja yang rawan terjangkiti penyakit ini?

Segudang pertanyaan ada di benak kita jika membicarakan hal ini. Namun kenyataannya, memang benar jika di lingkungan kita ada yang terjangkiti penyakit ini, akan menimbulkan ketakutan luar biasa di lingkungan itu.

Sebenarnya jika paham dengan penularan, pencegahan serta penanganan penyakit ini, tentu masyarakat tak perlu was-was. Bahkan yang dibutuhkan penderita itu adalah kebesaran hati lingkunganya untuk bisa menerima si penderita. Pemberian semangat atau spirit hidup bagi si penderita termasuk obat luar biasa untuk mereka.

Di tingkat Nasional, Jatim pada 2011 justru masuk pada 10 provinsi dengan penderita AIDS terbanyak. Jatim menduduki posisi kedua setelah DKI Jakarta.

Penderita AIDS di Jakarta mencapai angka 5.117, Jatim 4.598, Papua 4.449, Jabar 3.939, Bali 2.428, Jateng 1.602, Kalimantan Barat 1.269, Sulawesi Selatan 874, Riau 705 dan DI Yogyakarta 536 penderita.

Namun ada kabar, pada 2012 ini, posisi Jatim sudah turun, tidak lagi pada peringkat kedua. Ini menunjukkan peran seluruh stakeholder yang peduli dengan masalah ini sudah tinggi.

Disampaikan Meytha Nurari dari SUM Programme (Program kerjasama Indonesia-Amerika/USAID SUM/Scaling Up For Most At Risk Populations), penurunan peringkat itu tentu patut diapresiasi seluruh warga dan elemen kesehatan serta pemerhati AIDS agar angka itu justru bisa hilang.

“Dari peringkat Jatim itu, Surabaya menempati peringkat paling atas, lalu Sidoarjo, Kota/Kabupaten Malang dan Pasuruan. Namun secara rinci, angka penderita HIV/AIDS di Surabaya sampai September 2012, mencapai 1.254. Dan jangan salah, penderita paling tinggi sekarang bukan lagi pecandu NAPZA tapi justru ibu rumah tangga (Ibu RT) yang mencapai angka 911 kasus dan PSK saja hanya mencapai 478 kasus,” kata Meytha.

Lebih lanjut dijelaskan, untuk di Jatim sampai September 2012 ini, faktor resiko yang paling tinggi adalah heteroseksual (seks bebas) lalu diikuti IDU (Pengguna NAPZA Suntik/Penasun), Homoseksual, Perinatal dan Biseksual.

IDU relatif turun lantaran ada kecenderungan penggunanya tak lagi menggunakan injeksi melainka pindah ke oral.

“Untuk kelompok umur, paling tinggi di Jatim sampai September 2012 adalah umur antara 25-29 tahun lalu umur 30-34 tahun. Angka kematian sejak 2003 sampai tahun ini mencapai 1.794 kasus. Dari angka itu, laki-laki ada 4.208 jiwa dan wanita 2.294 jiwa. Sementara penderita anak di bawah 15 tahun tercatat 195 anak,” beber Meytha mengutif data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jatim.

Yang terpenting saat ini adalah menurunkan jumlah penderita HIV/AIDS serendah mungkin, menurunkan tingkat diskriminasi serendah mungkin, menurunkan angka kematian AIDS serendah mungkin dan meningkatkan kualitas hidup ODHA. Hal ini sesuai tujuan penanggulangan AIDS di Jatim.

Meytha menegaskan, untuk di Surabaya, ODHA masih banyak yang belum bisa menerimanya, stigmanya, warga takut tertular. Pemahaman yang belum ketat ini membuat kualitas hidup ODHA sendiri jadi turun dan banyak ODHA yang tak berani berterus terang menyatakan dirinya ODHA.

Sementara mereka berani comming out atau menyatakan keluar hanya kepada komunitas atau kelompok atau penggiat HIV/AIDS.

“Selama ini, pemerintah maupun kelompok atau penggiat HIV/AIDS sudah cukup bergerak. Kendalanya, susah menyampaikan isu karena masalah ini sudah terdiskriminasi. ‘Awas HIV/AIDS menular’. Hal semacam ini, jika itu menyangkut seks bebas, maka pencegahan alatnya hanyalah kondom. Sementara ketika penggiat bicara masalah kondom, itu dianggap porno, dianggap dosa, dianggap mensupport seks bebas. Ini sudah dimaknai negatif di masyarakat,” beber Meytha.

Kampanye masalah penanggulangan HIV/AIDS ini yang harus hati-hati dilakukan. Stigma di masyarakat itu menyebabkan para penggiat penanggulanan ini berjalan pelan-pelan agar bisa diterima umum. Susah untuk go public melakukan kampanye ini.

Bagi Meytha, pemerintah selama ini sudah sangat mensupport pencegahannya. Apalagi sudah ada KPA. Namun jika KPA itu ada orang pemerintahannya dan paham masalah itu, akan terkendala saat PNS tersebut dimutasi ke tempat lain. Tentu harus melakukan pembelajaran baru lagi kepada orang baru atau penggantinya. Padahal informasi masalah ini tak boleh putus.

“Program apapun, pengobatan jenis apapun, jika tak didukung keterlibatan keluarga atau lingkungannya, maka ODHA itu akan semakin terpuruk. Dukungan atau dorongan orang lain itu sangat membantu kualitas hidup ODHA. Kita berharap, masyarakat paham akan hal ini sehingga tak ada lagi diskriminasi,” tegas Meytha.

 

Oleh: Windhi Ariesman - Editor: Masruroh

 

Komentar

said arza husein

31 Dec 2012 - 02:49 (2 years ago)

Said Arza Husein/22/Mahasiswa/bandung/Weezer/ubu ibu RT mengidap hiv/aids mungkin dikarenakan penularan dari suaminya yg suka jajan :p

maghfra

07 Dec 2012 - 14:38 (2 years ago)

Maghfira/16/pelajar/Jakarta/2 PM/ selalu takut kalo denger HIV. sebisa mungkin jaga kesehatan dan perilaku tapi jangan jauhi pengidapnya kasian mereka juga manusia

mega kusuma wardani

07 Dec 2012 - 10:43 (2 years ago)

Mega kusuma wardani/21/Mahasiswi/gg.lontar II/22 RT.012 RW.06 tanjung duren utara,Jakarta barat/2 PM/saya setuju dengan komentar Meytha dalam artikel,sebenarnya para penderita penyakit aids itu harus didukung untuk sembuh bukan dijauhi,bagaimana dia bisa sembuh jika tak ada keluarga atau sahabat yg memberi semangat hidup?

Yahsya Azzahra

06 Dec 2012 - 11:35 (2 years ago)

azzahra/16/pelajar/jakarta/2PM/yang harus kita hindari, cegah dan musnahkan adalah virusnya. bukan penderita dari virus tersebut, jadi aku turut prihatin aja dan semoga lekas sembuh :)

frederica rahayu

06 Dec 2012 - 01:39 (2 years ago)

Frederica/20/Mahasiswi/Jakarta/2 PM/yaampun miris bgd, justru kalo ibu2 RT mah biasanya ga kedeteksi sbg pengidap

Dwi Oriza Sativa

06 Dec 2012 - 00:21 (2 years ago)

Dwi/21/Mahasiswa/Jakarta/2PM/penyaktnya dijauhi bukan orang yang menderitanya,,

Asti Pramita

05 Dec 2012 - 22:28 (2 years ago)

Asti/21/mahasiswi/Tangerang/2 PM/jauhi penyakitnya, bukan orangnya :)

merlin

05 Dec 2012 - 21:23 (2 years ago)

Merlin/20/Mahasiswi/Jakarta/2 PM/ cukup prihatin sama ibu RT yang kena HIV AIDS , jangan jauhin org2 pengidap odha, harus terus di support supaya mereka tetep semangat di tengah2 masyarakat

Kirim Komentar

Untuk kirim komentar silahkan Login atau Register

NEWSLETTER
Get our free Centro One newsletter and stay in touch with the latest news and updates from your email inbox!
POLLING