Menjaga Cinta dengan Sederhana
Selasa, 14 Peb 2012 - 17.20 WIB
Pasutri Widyawati&Alm Sophan Sophian (kiri) - Rima Melati&Frans Tumbuan CentroOne/istimewa
Masihkah Anda ingat, beberapa bait puisi karya Sapardi Djoko Damono yang fenomenal ini. Sebuah bait demi bait yang melantun pelan, indah, dan menyentuh dari seorang pujangga kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940: "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan api kepada kayu, yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada."
Ya, puisi itu mengingatkan kita betapa cinta tak membutuhkan sesuatu yang besar, tapi melalui kesederhanaan, cinta bisa tumbuh apa adanya, mengalir seperti air, dan tumbuh abadi di dalam hati.
Seperti hari kasih sayang Valentine, Selasa (14/2) hari ini. Selalu mengingatkan kita betapa pentingnya kasih sayang diwujudkan dalam berbagai kondisi dan keadaan. Tak perlu sesuatu yang besar, tapi istimewa di hati pasangan masing-masing, membuat cinta itu sendiri selalu tersimpan indah di dalam wadahnya.
Pun, sebenarnya, kasih sayang itu tak selalu terpaut dengan adanya hari Valentine, tapi momen ini seperti menjadi pengingat bagi kita betapa pentingnya mengungkapkan kasih sayang kepada seseorang yang istimewa dalam hidup. Dan, inilah beberapa pasangan di negeri ini yang mampu menjaga kasih sayangnya dalam ritme waktu yang cukup lama. Bahkan, hingga maut memisahkan.
Frans Tumbuan dan Rima Melati
Aktor senior Frans Tumbuan menikah dengan aktris cantik di era 1970-an, Rima Melati, pada akhir tahun 1973. Dari pernikahannya itu, Frans-Rima dikarunia seorang putra bernama Aditya Tumbuan, yang akhirnya menikah dan bercerai dengan model Aline.
Hingga kini, Frans-Rima dijuluki banyak orang sebagai pasangan 'abadi', karena mereka mampu menjaga cintanya hingga di usia senja. Beberapa orang pun penasaran, apa kiranya kiat mereka hingga bisa menjaga keharmonisan dalam rumah tangganya tersebut. Ternyata, jawaban mereka cukup simpel:
"Kami menjaganya dengan cinta, komunikasi, humor, dan kejujuran," jawab Rima saat dihubungi via ponsel pribadinya belum lama ini.
Cinta, lanjut Rima, apabila tidak dijaga dengan komunikasi, humor, dan kejujuran rasanya hambar. Nah, dalam mengisi hari-harinya itulah, keduanya selalu menerapkan empat hal itu hingga kini. Dengan humor, kata Rima, semuanya bisa tersenyum. Begitupula dengan kejujuran, komunikasi pun bisa selalu terbuka dan terjaga dengan baik.
Tak hanya itu, aktifitas pun diperlukan keduanya, agar tak jenuh dalam menjalani biduk rumah tangga selama bertahun-tahun, bahkan hingga maut memisahkan. Bagi Rima, dengan sama-sama bekerja, itu bisa menghindari kejenuhan buat keduanya. Dan, bekerja bisa membuang pikiran negatif jadi positif. Sebab, kita bisa menemukan banyak teman dan pengalaman yang berbeda setiap harinya.
Valentine sendiri, buat Rima dan Frans, hanyalah sebuah mitos dari dunia barat. Sebab, kasih sayang itu bisa tumbuh kapan dan dimana saja. Pembuktian akan ketulusan cinta dan kasih sayang itu, tak perlu menunggu Valentine.
"Terpenting adalah kita harus bisa saling memahami kekurangan, bukan kelebihan. Sebab, kalau memahami kelebihan itu lebih mudah daripada memahami kekurangan," ucap Rima.
Widyawati dan Alm. Sophan Sophiaan
Pasangan suami - istri (Pasutri) yang satu ini patut kita acungi jempol. Aktris kawak Widyawati, mampu menjaga cintanya bersama almarhum aktor gaek Sophan Sophiaan hingga maut memisahkan. Menikah pada tanggal 9 Juli 1972, pasangan ini dikarunia dua putra, yaitu Roma dan Romi.
Dunia filmlah yang mempertemukan keduanya. Salah satunya dalam film bertajuk Pengantin Remaja (1971). Disitu, Widyawati memerankan tokoh Yuli dan Sophan sebagai Romi. Takdir telah memisahkan mereka pada tahun 2008, Sophan diambil terlebih dulu oleh Yang Maha Kuasa. Sophan meninggal dalam kecelakaan saat mengendari sepeda motor gede (Moge) di perbatasan Sragen Jawa Tengah dan Ngawi
Jawa Timur.
Widyawati tak berhenti menangis setelah tahun pertama ditinggal sang suami untuk selama-lamanya. Ia masih belum menerima, karena Sophan meninggalkannya secara mendadak.
Kini, Widyawati sudah bisa menerima kenyataan. Dan, ia hanya berpesan bahwa cinta abadi itu bisa dijaga dengan saling percaya dan pengertian yang tulus dari masing-masing pasangan.
Debby Sahertian dan Andri Dumais
Pasangan Debby Sahertian dan Andri Dumais menikah pada tahun 2006. Mereka menikah dalam kabar yang tidak menggembirakan. Dimana, Debby dituduh sebagai wanita perebut suami orang. Waktu berlalu, nyatanya hingga kini Debby-Andri masih langgeng dan terlihat selalu bahagia.
Menurut Debby, kunci menjaga keharmonisan dalam rumah tangga itu simpel saja. Yakni, kepercayaan dan komunikasi. Kepada CentroOne, belum lama ini di kawasan Kemang Jakarta, Debby mengaku, selain itu juga ada kebebasan.
"Kita berikan kebebasan. Artinya, pasangan kita biar gimana, dia adalah human being, ya jadi seorang individual yang punya kepribadian dan kebiasaan yang beda sama kita," papar Debby.
Merayakan Valentine kali ini, Debby dan suami hanya merayakannya biasa saja. Seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu makan bareng keluarga. Nah, pas malam Valentine-nya kadang sang suami memberikan surprise kepada Debby.
"Dia (Andri, red) bukan pria yang romantis, jadi kalau kasih surprise bukan dalam bentuk bunga, tapi ciuman di pipi, di dahi, dan memberikan kata-kata yang ada pujiannya," papar Debby.
Ussy Sulistyawati dan Andhika Pratama
Meski pernikahan Ussy Sulistyawati dan Andhika Pratama baru seumur jagung, tapi keduanya sudah memiliki tips jitu untuk menjaga keharmonisan dalam rumah tangga. Nah, inilah jurus langgeng mereka: "Pastinya komunikasi, jujur, dan paling penting nggak bohong. Sebab, kalau sudah ada kebohongan, itu yang paling nggak kami sukai."
Menurut Ussy, meski usianya jauh lebih tua lima tahun dari sang suami, tapi tetap merasakan kedewasaan yang dimiliki Andhika. Namun tak dipungkiri, diantara mereka berdua juga pernah ada konflik kecil. Nah, kalau sudah ada konflik atau masalah, kata Ussy, harus pandai mensiasati agar masalah tak kunjung berlarut lama.
"Kami nggak pernah berantem lebih dari satu malam. Tiap ada masalah harus diselesaikan saat itu juga," ucap Ussy.
Yang mereka rasakan ketika konflik itu datang, disitulah sepertinya dibutuhkan rasa untuk saling mengerti, saling sabar, dan berani mengakui kesalahan.
Oleh: Fahrul Anwar, Vito Adhityahadi - Editor: Ary Nugraheni