Sabtu, 19 Mei 2012 - 01.31 WIB
Follow : Like : RSS : Mobile :
Latest News

300 Motif Batik di 35 Tahun Teater Koma

Kamis, 01 Mar 2012 - 19:30 s/d Sabtu, 31 Mar 2012 - 19:30

Teater Koma edit

Nano Riantiarno (kiri)&istri Ratna Riantiarno, pendiri Teater Koma, dalam syukuran 35 tahun Teater Koma berkarya, Rabu (22/2), di FX Senayan Jakarta - CentroOne/Yose Riandi

Jakarta - Tak terasa, tahun 2012 ini Teater Koma memasuki usianya yang ke-35 tahun. Memperingati perayaan ulang tahun yang ke-35 tahun itu, teater milik Nano Riantiarno ini kembali mempersembahkan pementasan yang berlakon Sie Jin Kwie 3: Sie Jin Kwie di Negeri Sihir, pada tanggal 1 sampai 31 Maret 2012, pukul 19.30 WIB, di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini Jakarta.

Istri pendiri Teater Koma, Ratna Riantiarno, Rabu (22/2), di FX Senayan Jakarta, mengatakan pentas seni ini merupakan lanjutan dari episode kisah Sie Jin Kwie 1 dan 2. Disadur dari roman karya Tio Kengjian dan Loko Anchung, pementasan sebelumnya sukses dengan karya Sie Jin Kwie 1 (2010) dan Sie Jin Kwie 2 Fitnah (2011).

Menariknya, pementasan seni selama sebulan ini, akan menghadirkan desain motif batik peranakan karya Rima Ananda dan suaminya Subarkah Hadisarjana. Sebanyak 300 busana bermotif batik akan ditampilkan dalam pertunjukan ini. Bahkan, sisik liong naga pun akan hadir dalam motif batik. Motif-motif batik tersebut telah diakumulasikan selama 34 tahun.

Ide awal dari pertunjukan kali ini, kata Ratna, terinspirasi dari dalang wayang kulit Cina-Jawa, Gan Thwan Sing (1885-1966), yang menciptakan lebih dari 900 sosok wayang berwujud ksatria China, tapi berbusana batik Jawa. Ratna sendiri, menyatakan senang Teater Koma sampai saat ini masih bisa terus berkarya.

"Sudah tiga generasi dari diri sendiri sampai anak cucu menonton Teater Koma yang sudah ada sejak tahun 1977, 500 orang masih aktif dan ada juga yang tidak aktif," ujar Ratna.

Keberadaan Teater Koma hingga 35 tahun ini, lanjut Ratna, tidak lepas dari keikhlasan dan loyalitas para pemain yang membuat Teater tersebut sampai saat ini tetap berkarya. Dalam perjalanannya, Teater Koma secara konsisten menghadirkan pentas-pentas yang bermutu serta menjunjung nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan bisa terus bertahan itu merupakan kebanggaan.

"Selama 35 tahun sungguh merupakan perjalanan yang luar biasa, kami dapat berkarya hingga pementasan ke-126. Itu, bukan hal yang mudah dan biasa," ucap Ratna.

Banyak kendala dan tantangan yang Teater Koma hadapi, terutama karena pementasan Teater Koma dinilai membawa kritik-kritik politik. Suatu kebanggaan, khususnya bagi pendiri Teater Koma, untuk terus bersumbangsih melalui teater.

Teater Koma telah membuat sebuah pencapaian yang cukup membanggakan dan belum pernah dilakukan oleh teater orang lain. Itu, sudah menempatkan Teater Koma secara istimewa dibandingkan dengan teater lain.

Oleh: Vito Adhityahadi - Editor: Ary Nugraheni

Komentar

Belum ada yang memberikan komentar.

Kirim Komentar

Untuk kirim komentar silahkan Login atau Register

NEWSLETTER
Get our free Centro One newsletter and stay in touch with the latest news and updates from your email inbox!
POLLING