Debat Publik, Rasiyo Kuasai Pendidikan - Risma Unggulkan Pelayanan Publik

Jumat, 30 Okt 2015 | 21.00 WIB

Debat Publik, Rasiyo Kuasai Pendidikan - Risma Unggulkan Pelayanan Publik

Rasiyo dan Tri Rismaharini (Centroone)



Pada sesi ketiga, Rasiyo memertanyakan masalah visi dan misi pasangan nomor urut 2 yang tak adanya koneksitas antara RPJM nasional, RPJM provinsi dengan RPJMD kota. Menurut Risma, untuk menyusun itu pihaknya jika terpilih barulah akan berkoordinasi dengan DPRD Surabaya, jadi tidak bisa menyusun sendiri. Begitu juga terkait indeks kemiskinan, angka itu bukan karangan pihak Risma tapi itu angka dari BPS.

Sementara Whisnu Sakti Buana dari pasangan urut 2 bertanya ke Rasiyo yang mantan Kepala Dinas Pendidikan Jatim terkait APBD Jatim sebesar Rp32 triliun namun alokasi pendidikan tak sampai Rp1 triliun. Sementara Surabaya dengan APBD Rp7,2 triliun, alokasi pendidikannya sebesar Rp1,2 triliun, apakah hal ini lebih baik Provinsi Jatim atau Kota Surabaya?

Menurut Rasiyo, keberhasilan itu tak bisa dilihat dari besaran anggaran, tapi tindakan nyata. "Walau Surabaya anggaran pendidikannya besar namun keberhasilan pendidikannya jauh dari Malang yang anggaran pendidikannya tak sampai Rp1 triliun. Surabaya justru peringkat 23, di bawah kabupaten/kota lainnya. Begitu juga prestasi pendidikan dasarnya, Surabaya urutan 3 dari bawah di Jatim, ini kan tak benar. Para guru ketakutan, salah sedikit dipindah. Caranya tidak seperti itu, jika kami terpilih tentu hal itu akan kami perbaiki," tandas Rasiyo yang sudah berpengalaman mengurusi pendidikan di Jatim.

Pada sesi keempat, Rosiana Silalahi sebagai moderator memersilahkan masing-masing pasangan calon untuk saling bertanya. Risma bertanya terkait dana pendidikan yang tak mencapai 20 persen, apakah bisa menyelamatkan anak agar tak putus sekolah. Menurut Rasiyo pihaknya tetap akan menganggarkan dana pendidikan di atas 20 persen. Apalagi saat ini masalah pendidikan menengah atas sudah jadi ranahnya provinsi, maka dengan anggaran yang ada tentu sudah cukup bagi pendidikan dasar dan menengah pertama di Surabaya.

Menurut Rasiyo, Surabaya ini aneh karena masalah pendidikan sudah jadi ranah nasional. Misalnya penerimaan siswa baru masih ada tes prestasi, padahal sudah ada Unas. Surabaya seperti tak percaya dengan nasional, lagipula kasihan calon muridnya. "Di Surabaya masih ada disparitas pendidikan. Ini sama saja pendidikan di cluster-cluster," kata Rasiyo.

PREV NEXT