Sejumlah Anggota DPRD DKI Disebut di Sidang UPS, Lulung CS Menghindar

Jumat, 30 Okt 2015 | 16.00 WIB

Sejumlah Anggota DPRD DKI Disebut di Sidang UPS, Lulung CS Menghindar



Pengadaan UPS untuk sekolah-sekolah menengah di Sudin Dikmen Jakarta Barat tidak direncanakan sesuai kebutuhan riil sekolah. Hal itu karena justru yang dibutuhkan sekolah bukan pengadaan UPS, melainkan perbaikan jaringan listrik dan penambahan daya listrik. Pada pelaksanaan pengadaannya, Jaksa mendakwa telah terjadi penggelembungan harga serta ada penunjukkan langsung dalam lelang.

Lantaran pengadaan UPS telah berhasil digolkan melalui kongkalingkong dengan anggota Komisi E, realisasi komitmen fee 7 persen kemudian diberikan dari perusahaan pemenang lelang yakni PT Offisatrindo Adhiprima dan PT lstana Multimedia Center. "Pokok Pikiran kepada anggota DPRD DKl jakarta sebesar 7 persen atau Rp21 miliar, dimana transaksi pengeluarannya dilakukan oleh Sari Pitaloka selaku Marketing PT Offistarindo Adhiprima," kata Jaksa.

Pengeluaran dilakukan dengan cara beberapa kali menyerahkan uang secara tunai yang dibungkus dengan bungkusan warna cokelat seperti kertas satu rim, yang kemudian dimasukan ke dalam tas kecil warna hitam. Bungkusan berisi uang itu diberikan kepada petugas keamanan rumah kost milik anak Alex bernama Ahmad Marzuki. Penyerahan dilakukan selalu di dalam mobil Nissan Extrail hita, yang dibawa oleh Sari. Uang yang diserahkan pada Marzuki selalu diserahkan pada keponakan Alex yang bernama Devita dirumah Alex.

Sesuai dengan arahan Alex, Devita menyerahkan bungkusan berisi uang kepada Erwin Mahyudin dengan cara meletakannya ke dalam jok bagian tengah mobil yang dikendarai Erwin. Uang tunai yang diterima beberapa kali antara bulan Agustus sampai bilan Desember selalu diserahkan oleh Erwin kepada Agus Sutanto, yang kemudian diteruskan kepada Firmansyah. Jaksa menambahkan, pada pelaksanaan pengadaannya, Alex dengan Harry Lo juga telah menyepakati bahwa sebelum diadakan lelang, dilakukan perencanaan untuk meloloskan perusahaan Harry sebagai pemenang lelang.


Harry diketahui juga pernah memberikan uang sebesar Rp4 miliar kepada Alex di restoran lantai dasar Hotel Pullman pada bulan Februari 2015. Uang itu merupakan uang terima kasih karena pekerjaan UPS telah selesai. Namun Alex belum mau menerima dan menyampaikan supaya uang tersebut dipegang dulu oleh Harry Lo.

Atas perbuatannya, Alex didakwa jaksa telah melanggar Pasal 2 ayat 1 atau 3 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana. by
PREV