"Dihajar" Covid-19, Bisnis RFB Tetap Positif

Selasa, 31 Mar 2020 | 18.00 WIB

karyawan PT RFB saat berbagi hand sanitizer dan masker (centroone)


Centroone.com - PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) cabang Surabaya berbagi hand sanitizer dan masker kepada para pengguna jalan di Kota Surabaya dalam rangka mencegah penyebaran covid-19. Wabah Covid-19 sendiri membuat dunia bisnis gonjang-ganjing.  Baik nasional ataupun global. 

Meskipun begitu, menurut Pimpinan Cabang RFB Surabaya Leonardo, "badai" covid-19 tidak berpengaruh signifikan pada kondisi eksisting nasabah bisnis perdagangan berjangka termasuk nasabah RFB Surabaya. Para nasabah justru lebih fokus melakukan transaksi karena lebih banyak tinggal di rumah.

“Selama Covid-19 ini, kami tidak bisa melakukan kunjungan ke nasabah yang ada di luar kota mengingat ada beberapa kota yang melakukan pembatasan keluar masuk warga yang bukan dari daerahnya,”tutur Leo.

Untuk penambahan nasabah baru selama Covid-19, Leo mengatakan, masih dalam hitungan cukup positif dan tidak terlalu berefek. Pada kondisi normal, tambahan nasabah baru di RFB Surabaya perbulan rata-rata 25 hingga 30. Selama Maret ini (1-30 Maret 2020), tercatat ada 21 nasabah baru dimana 4-5 diantaranya pemain saham yang ingin memanfaatkan peluang berbisnis di industri perdagangan berjangka. 

Gonjang-ganjing - ditambahkan Leo - memang terjadi tapi pada  pasar bisnis perdagangan berjangka seperti Loco London. 

“London di lockdown otomatis marketnya juga ke lock. Dan beritanya, naik turun sangat cepat. Di sisi lain, nasabah jauh lebih senang, mengingat range harga transaksinya menjadi lebih cepat dan dinamis. Biasanya, range harga dalam kondisi normal di kisaran 10-20 poin, selama Covid-19, rangenya bisa 50 hingga 100 poin,”papar Leo. 

Sementara beberapa produk perdagangan berjangka yang favorit, sebut Leo, emas. Dan Hanseng (Hong Kong Index), range harga naiknya bisa 1000 poin, imbas market yang sangat aktif.

“Kemarin, harga saham di Amerika anjlok begitu Covid-19 merebak di sana, kemudian di Asia, Jepang, termasuk Indonesia, IHSG disuspend karena penurunannya sangat luar biasa, lebih parah dibanding saat krisis,”tukasnya. by