Peace Run 2020 'Goes to School', Terpukau Aksi Murid SLB

Sabtu, 08 Feb 2020 | 00.00 WIB

Peace Run 2020 'Goes to School', Terpukau Aksi Murid SLB

Penampilan anak-anak saat menyambut Rotary Club D3420 Indonesia bersama Sri Chinmoy Oneness-Home Peace Run (centroone)


Centroone.com - Hari kedua Rotary Peace Run 2020, diisi dengan kunjungan ke sejumlah sekolah, termasuk ke sekolah Luar Biasa (SLB) Karya Mulia Jl A Yani 6-8 Surabaya. 

Dalam kegiatan bertajuk Peace Run 2020 "Goes to School" ini, Rotary Club D3420 Indonesia bersama Sri Chinmoy Oneness-Home Peace Run disambut murid-murid SLB di bawah Yayasan Pembina Anak-Anak Tuna Rungu Karya Mulia. 

Anggota Rotary Club dan Peace Run, sebelum memasuki ruang acara, menyempatkan diri bersalaman dengan para murid yang berbanjar menanti kedatangan mereka, Jumat (7/2/2020) pagi. 

Setelah itu mereka disambut dengan antusias oleh para murid dan guru dari TK, SD, SMP dan SMA SLB Karya Mulia.Pada kesempatan itu, Ketua Yayasan Pembina Anak-Anak Tuna Rungu Karya Mulia Leni Hariyanti mengaku sudah lama menjalin hubungan dengan Rotary Club. 

"Kerjasamanya dalam hal sarana dan prasarana gedung yang rusak, Rotary memperhatikan kita. Misal perbaikan atap yang rusak, pengisian perpustakaan. Bahkan ada pertukaran guru, seperti saat ini ada pertukaran guru dengan negara Australia," beber Leni.

Leni juga menegaskan, selama menempuh pendidikan di SLB ini, khususnya untuk tingkatan SMA, muridnya disiapkan untuk bekerja.

"Kami biasa memberikan pelatihan, agar saat murid-murid ini kembali ke masyarakat, mereka sudah memiliki skill. Mereka sudah dipersiapkan dengan matang," kata Leni.

SLB Karya Mulia yang sudah ada sejak 1976 ini memiliki 200-an murid, mulai TK, SD, SMP hingga SMA. Bahkan banyak lulusan SLB itu yang sudah berkarya di beberapa tempat, seperti hotel, restoran dan lainnya. Tak sedikit pula, murid-murid SLB itu yang mahir berkesenian.

Karena itu, pihak Rotary D3420 dan Sri Chinmoy Oneness-Home Peace Run juga disuguhi berbagai kesenian. Para tamu, pada hari itu disuguhi drama tentang konferensi yang dihadiri delegasi negara-negara. Tentu saja, karena SLB Karya Mulia adalah sekolahnya anak-anak penyandang tuna rungu, mereka pun harus menggunakan bahasa isyarat.

Begitu juga dengan Adelia, murid kelas 8 SMP Karya Mulia, yang tampil berpidato tentang perdamaian dunia. Adelia yang menggunakan bahasa isyarat dan diterjemahkan oleh salah satu guru sekolah tersebut, menegaskan tentang pentingnya perdamaian dunia, khususnya bagi anak-anak agar bisa meraih masa depannya. Bahkan Adelia juga menyinggung tentang bullying agar tak dilakukan terhadap siapapun.

Selain itu disuguhkan pula tarian tradisional  Banyuwangi dan kesenian angklung. Murid-murid SMP memainkan angklung dengan mahirnya. Mereka membawakan lagu Michael Jackson, We Are The World yang fenomenal dengan apik. Tampilan seni SLB Karya Mulia mendapat applaus dari Rotary D3420 dan Peace Run.

Presiden Rotary Club Surabaya Kaliasin Etty Soraya mengacungi jempol seluruh penampilan murid SLB Karya Mulia. Dia kagum, dengan keterbatasan yang ada, para murid itu tak minder dan justru tegar menampilkan kemampuannya dihadapan para undangan.

Sementara pada kunjungan Rotary D3420 dan Sri Chinmoy Oneness-Home Peace Run, dilakukan penandatanganan di atas lukisan karya murid SLB Karya Mulia. Penandatanganan itu dilakukan District Governor Rotary D3420 Indonesia Febri Dipokusumo, Direktur Sri Chinmoy Oneness-Home Peace Run Salil Wilson dan utusan dari Unesco Davidson. Selain itu ada pula saling tukar cinderamata antara keduanya.

Usai mengunjungi SLB Karya Mulia, rombongan melanjutkan kunjungannya ke SpIns Interaction School di Jl Karangan Jaya III, Wiyung. 

Di sekolah itu, rombongan Rotary D3420 dan Peace Run juga disambut dengan meriah. Saat itu, sempat dilakukan meditasi bersama dengan khidmat. Di sekolah itu juga dipertunjukan berbagai kesenian yang dibawakan murid SpIns Interaction School.

Menurut Ketua Pelaksana acara Peace Run 2020 Franky Chandra, pada kegiatan ke sekolah-sekolah ini adalah membawa obor perdamaian kepada anak-anak. Ini sebagai simbol perdamaian dan untuk menunjukan bahwa dunia ini luas.

 "Mereka, utusan dari 10 negara membawa misi perdamaian, mengenalkan apa itu Peace Run. Dan dari segala bentuk apapun bisa menghasilkan perdamaian. Kami datang ke sekolah untuk memberikan contoh tentang apa itu perdamaian," beber Franky.

Selain itu, misinya juga untuk menanamkan budi pekerti, bagaimana tentang perdamaian, bagaimana menghadapi perbedaan dan bagaimana menjalani kebahagiaan dengan perbedaan yang ada.

"Ini juga kunci, bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia yang takdirnya sudah banyak perbedaan. Yang positif, bagaimana kita bisa terus hidup dengan perbedaan dan bisa dipersatukan, maka kita bisa maju," tambah dia. (win/by)