Lupakan Perbedaan Etnis, Bernyanyi Bersama dii Taman Bungkul

Senin, 26 Ags 2019 | 05.00 WIB

Lupakan Perbedaan Etnis, Bernyanyi Bersama dii Taman Bungkul

Warga berbagai etnis berbaur joget dan nyanyi di Taman Bungkul.(windhi/by)


Centroone.com - Suasana Car Free Day (CFD) di Taman Bungkul Surabaya, pada Minggu (25/8/2019) pagi, sangat berbeda seperti biasanya. Ribuan masyarakat, saat itu terlihat berbaur untuk bernyanyi dan berjoget bersama di arena  taman yang terletak di Jl Raya Darmo.

Sejak pukul 06.00, masyarakat mulai menikmati pertunjukkan salah satu band yang beberapa personilnya berasal dari Papua. Menariknya, masyarakat yang hadir di gelaran CFD, bukan hanya warga Surabaya, tapi juga berbagai etnis di Indonesia. Diantaranya Sulawesi, Papua, Bali hingga NTT (Nusa Tenggara Timur). Dengan iringan musik dari Abouhwim Band, tua muda hingga anak-anak berbaur bersama untuk berdendang dan menari.

Salah satu warga asli Papua yang hadir di gelaran CFD mengaku, sangat antusias menikmati pertunjukkan musik pagi ini. Menurutnya, selama tinggal di Surabaya, masyarakatnya sungguh ramah dan saling menghormati satu sama lain. "Semua bisa hidup bergandengan di sini, dan kami juga merasa senang dan merasa nyaman tinggal di Kota Surabaya," kata Daniel Mabamba saat ditemui di sela pertunjukkan.

Bahkan, kata Daniel, dalam pertunjukkan musik itu, beberapa lagu daerah tak lupa dinyanyikan. Diantaranya, Sajojo, Aku Papua, Tanah Papua, Tanjung Perak, Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan dan ditutup dengan lagu Maumere. "Tadi kita menari lagu Sajojo dan teman-teman yang dari panggung juga menyanyikan lagu-lagu Papua dan itu membuat kami senang," ungkap pria asli Sorong Papua itu.

Kebersamaan ini terlihat semakin akrab, ketika anak-anak Papua bersama ribuan masyarakat Surabaya bergandengan tangan menari berkeliling di Taman Bungkul. Momen haru pun terlihat, ketika mereka saling berpelukan usai menari dan bernyanyi bersama.

Daniel menilai, keberagaman etnis masyarakat yang tinggal di Surabaya, membuat Kota Pahlawan semakin nyaman untuk ditinggali. Apalagi, selama ini banyak mahasiswa asal Papua menempuh pendidikan di Surabaya. “Setiap mahasiswa yang dari Papua juga merasa nyaman di Surabaya dan semua masyarakat sama, tidak ada perbedaan,” jelasnya.

Dia berharap, keberagaman masyarakat di Surabaya bisa terus terjaga. Dengan begitu, Kota Surabaya akan terus nyaman dan aman untuk ditinggali dari berbagai masyarakat, suku, etnis di Indonesia. “Karena kita satu, kita sama, tidak ada perbedaan masyarakat satu dengan yang lain,” terangnya.

Di waktu yang sama, Tri Buana Tunggal Dewi Rahma, warga asli Surabaya mengaku, sangat antusias menikmati pertunjukkan CFD Minggu ini. Apalagi menurutnya, ribuan masyarakat dari berbagai daerah bisa berbaur, bernyanyi, dan berjoget bersama. “Semoga kebersamaan ini terus terjaga, karena kita semua sama, satu saudara, satu Indonesia,” pungkas Rahma. (windhi/by)