Terima Keluhan Mahasiswa Papua, Wali Kota Risma Siap Bantu

Selasa, 20 Ags 2019 | 22.57 WIB

Terima Keluhan Mahasiswa Papua, Wali Kota Risma Siap Bantu

Mahasiswa asal Papua yang diterima wali kota di rumah dinasnya.(windhi/centroone)


Centroone.com - Pada Senin (20/8/2019) malam, selain menerima kunjungan staf khusus kepresidenan, Wali Kota Tri Rismaharini juga menerima 11 mahasiswa asal Papua yang kuliah di Surabaya. Rombongan mahasiswa dari beberapa kampus di Surabaya (Unair, Unitomo, Narotama dan beberapa kampus lainnya) berkesempatan mengadukan beberapa hal yang selama ini mereka alami.

Malam itu, wali kota yang menerima keluhan para mahasiswa itu dengan tegas mengatakan siap membantu. Di rumah dinasnya, awalnya wali kota menerima keluhan Fredy, mahasiswa pendidikan profesi kedokteran gigi Unair. Fredy yang lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi, selama kuliah mendapat beasiswa dari Papua. Namun untuk meneruskan pendidikan profesi, dia harus membayar sendiri.

Mendengar cerita itu, Wali Kota Risma meminta Fredy untuk mengurus kelanjutan biayanya ke Pemkot Surabaya. "Kenapa kamu baru cerita. Nanti akan saya bantu," ujar Risma yang meminta Kabag Humas Surabaya M Fikser untuk menindaklanjuti masalah tersebut.

Tak hanya Fredy, mahasiswa lain juga menceritakan soal pengalamannya yang gagal meraih mimpi jadi penyanyi karena kendala KTP. Menurut Isak, mahasiswa Unitomo asal Nabire Papua, walau dirinya bukan asli Surabaya, namun dia sempat akan menjadi wakil Kota Pahlawan dalam audisi Indonesia Idol. Sayangnya hal itu gagal lantaran setelah pemeriksaan administrasi, dia tak memiliki KTP.

"Lah kan salah kamu, kenapa dari awal gak ngomong ke saya. Apa sih yang sulit, kalau KTP aja kan gampang saya buatkan? Kalau begini kan kamu jadi gak bisa meraih harapanmu. Ngomong kalian, kalau diam saja, mana saya ngerti?" tegas wali kota disambut tawa 11 mahasiswa asal Papua tersebut.

Ke-11 mahasiswa ini rata-rata kuliah di Surabaya karena mendapat beasiswa. Menurut Pendeta Riko yang menjadi pendamping 11 mahasiswa Papua ini, anak-anak yang didampinginya banyak juga yang putus pada pendidikan awalnya dan meneruskan atau harus pindah kampus atau fakultas.

"Mereka mendapat beasiswa, sudah ditentukan fakultasnya. Ada mahasiswa yang menerima beasiswa dan fakultas yang dipilihkan, ternyata tak sesuai dengan minatnya. Akhirnya mereka putus dari pendidikan itu dan memilih yang sesuai minatnya. Tentu resikonya mereka harus bayar sendiri agar tetap bisa kuliah di Surabaya. Itulah yang jadi kendala mereka," beber Pendeta Riko.

Mendengar keluhan-keluhan para mahasiswa itu, Risma yang juga mendapat gelar Mama Papua dari warga pulau kepala burung itu, menegaskan siap membantu mereka. "Saya siap membantu, asal kalian juga cerita ke saya. Kalau kalian diam saja, mana saya tah? Kami di Surabaya ini siap membantu siapa saja," tegas wali kota yang sangat peduli pendidikan warganya. (windhi/by).