Waspada, DB Banyak Serang Usia Muda

Senin, 01 Jul 2019 | 11.00 WIB

Waspada, DB Banyak Serang Usia Muda

Sufiah Rahmawati, Susana dan dr Teguh Raharjo. (Windhi/centroone)


Centroone.com - Waspada, saat ini penyakit diabetes melitus (DM) sudah tidak bisa lagi dicap sebagai penyakitnya orang tua. Saat ini, melalui pola atau gaya hidup yang tak sehat, penyakit ini justru banyak menyerang usia muda. Untuk itu, perlu bagi semua orang tahu tentang pentingnya deteksi dini dan pencegahan prediabetes.


Karena itu, Nutrifood bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Surabaya dan Pengurus Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Cabang Kota Surabaya, mengadakan program edukasi ‘Pentingnya Deteksi Dini dan Pencegahan Prediabetes' yang diikuti oleh 100 dokter umum puskesmas dan poliklinik wilayah Surabaya.


Prediabetes adalah pencetus penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2). International Diabetes Federation 2015 memperkirakan, pada tahun 2040 sebanyak 642 juta penduduk dunia akan mengalami diabetes dengan jumlah penderita prediabetes dua hingga tiga kali lipatnya. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan peningkatan prevalensi diabetes di tingkat nasional dari 6,9 persen pada 2013, menjadi 8,5 persen pada 2018. Ada pun angka kejadian diabetes di Jawa Timur juga meningkat, yaitu 2,1 persen pada 2013, menjadi 2,6 persen pada 2018.


Disampaikan drg Febria Rachmanita, MM, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Pemkot Surabaya memberikan perhatian khusus pada kondisi prediabetes dan diabetes yang kini tidak hanya diderita oleh kelompok usia tua, namun mulai banyak ditemukan di kelompok usia muda serta produktif. 

Kami mengajak seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun swasta, untuk bersama-sama melakukan gerakan pencegahan prediabetes melalui deteksi dini atau skrining faktor risiko Penyakit Tidak Menular di Posbindu sesuai standar yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan RI.


Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Surabaya, pada 2018 ada sekitar 15.007 penderita DM di rentang usia 15-59 tahun. Angka ini naik sekitar 5 persen dari tahun sebelumnya.


Sufiah Rahmawati SKM M.Kes selaku Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular & Kesehatan Jiwa, Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengatakan, saat ini kecenderungan penderita DM di Surabaya mengalami peningkatan, terlebih pada usia muda. Menurutnya, ini dikarenakan anak muda sekarang mendapatkan banyak kemudahan dalam beraktifitas. Karena tak heran, jika di salah satu puskesmas di Surabaya ditemukan adanya penderita DM di usia 0-14 tahun sebanyak 42 penderita. 


"Anak sekarang ini kurang bergerak. Apa-apa kan bisa dilakukan hanya dengan gagdet. Belum lagi banyaknya aktifitas yang dilakukan dengan paparan air conditioner (AC) setiap harinya. Mereka jadi kurang kena sinar matahari," katanya.


Sementara Head of Marketing Nutrifood Susana S.T.P M.Sc PD.Eng mengatakan, program ini bertujuan mengedukasi dan mengadvokasi berbagai pihak agar proaktif dalam melakukan deteksi dini dan pencegahan prediabetes maupun diabetes. "Melihat tingginya angka penderita DM, Nutrifood merasa perlunya kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak. Edukasi seperti ini salah satu cara yang kami pilih. Kita juga terjun langsung ke pasar," katanya.


Edukasi yang dilakukan diantaranya, mencermati konsumsi gula, garam dan lemak juga baca label kemasan makanan. Harapannya, program ini dapat membantu meningkatan kualitas kesehatan dan hidup masyarakat. Dia menambahkan, pihaknya akan terus mengedukasi masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Surabaya merupakan kota ketiga setelah DKI Jakarta, Bandung dan Semarang. "Kita akan terus mengedukasi masyarakat di berbagai kota. Kita ingin masyarakat Indonesia panjang umur dan sehat," pungkasnya.


Dr dr Brahmana Askandar SpOG(K), Ketua IDI Cabang Kota Surabaya menambahkan, Tenaga kesehatan memegang peranan penting dalam menjaga kondisi prediabetes agar tidak berkembang menuju DMT2. 

Prediabetes dan DMT2 adalah penyakit yang membahayakan dan erat kaitannya dengan angka morbiditas (angka kesakitan), risiko progresivitas penyakit, biaya dan mortalitas (angka kematian) akibat komplikasi, seperti penyakit kardiovaskular dini, gagal ginjal dan stroke. Namun penyakit ini dapat dicegah. Melalui program ini, kami berharap kemampuan para dokter umum semakin terasah, sehingga dapat memberikan deteksi dini dan edukasi pencegahan prediabetes kepada masyarakat.


dr Teguh Raharjo Sp.PD, pengurus PERSADIA Cabang Kota Surabaya menjelaskan, pertanda prediabetes secara laboratoris adalah kadar glukosa darah puasa 100-125 mg/dl dan atau kadar glukosa darah 2 jam post prandial 140-199 mg/dl. Umumnya kelompok berisiko prediabetes adalah orang dengan obesitas/kegemukan, sering abortus, melahirkan bayi dengan berat badan 4 kg atau lebih, porsi makan besar tetapi kurang gerak, serta keluarga memiliki riwayat diabetes.


Dalam jangka waktu 3-5 tahun, 25 persen prediabetes dapat berkembang menjadi DMT2, 50 persen tetap dalam kondisi prediabetes dan 25 persen kembali pada kondisi glukosa darah normal. Upaya yang dapat dilakukan agar prediabetes tidak berkembang menjadi DMT2 adalah dengan beristirahat cukup, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan membatasi asupan gula, garam dan lemak serta aktivitas fisik 150 menit dalam seminggu.


Program edukasi 'Pentingnya Deteksi Dini dan Pencegahan Prediabetes' merupakan bagian dari rangkaian kampanye 'Cermati Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) dan Baca Label Kemasan Makanan' yang telah Nutrifood jalankan secara konsisten sejak 2013.  (windhi/by).