Urusan Aktivitas Online Anak, Ortu di Indonesia Lebih Protekfif

Minggu, 30 Jun 2019 | 16.00 WIB

Urusan Aktivitas Online Anak, Ortu di Indonesia Lebih Protekfif

Ilustrasi (pixabay)



Centroone.com - Facebook, Instagram, YouTube, Twitter, Snapchat adalah sebagian dari daftar platform media sosial yang terus bertambah setiap waktu.

Dengan ketersediaan smartphone, tablet, laptop, dan desktop yang mudah, tidak mengherankan banyak anak-anak menghabiskan waktu mereka untuk kegiatan online.  Pencegahan selalu menjadi konsep utama dalam memberikan perlindungan terhadap anak, konsep ini yang menjadi poin penting dalam Parental Control.

Selain Parental Control, orang tua sendiri juga harus bertanggung jawab atas aktivitas anak-anak mereka saat online. Dari hasil survei APAC hanya 36% responden yang melakukannya dengan memantau aktivitas anak saat menggunakan perangkat pintar mereka. Studi ini menunjukkan kurang perhatiannya orangtua terhadap aktivitas online anak, padahal di titik ini orangtua harus punya andil lebih banyak dalam mengawasi anak. Usia muda adalah usia yang sangat krusial.

Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi Indonesia, responden yang mengikuti survei sebanyak 72% sepakat jika mereka harus mengawasi aktivitas online anak. Dengan demikian orangtua di Indonesia adalah yang paling protektif terhadap keamanan anak di kawasan Asia Pasifik. Selaras dengan temuan sebelumnya di mana 56% responden Indonesia menggunakan Parental Control untuk perangkat anak.

“Anak-anak hanya tahu internet adalah entitas ajaib yang mampu menjawab semua pertanyaan dan keingintahuan mereka. Yang tidak mereka tahu adalah tentang virus atau malware, privasi online, phising, etika jejaring sosial dan masalah internet lainnya.  " tukas Yudhi Kukuh IT Security Consultant PT Prosperita – ESET Indonesia

Sebagai orang tua, sudah seharusnya menggunakan perangkat pintar sebagai sarana mendidik dan menghibur anak-anak. Karena itu penting untuk memastikan bahwa konten, platform, dan pengguna lain yang mereka terlibat dan terhubung dengan anak, aman.

Seperti kita ketahui bahwa penjahat dunia maya seringkali mengambil keuntungan dari keluguan anak, dari sifat mudah percaya anak untuk mendapatkan informasi pribadi atau finansial yang akan mengarahkan pada penipuan atau pencurian identitas.

" Di sini orangtua punya kewajiban untuk hadir sebagai jembatan penghubung yang mangarahkan anak agar sampai di seberang dengan aman tanpa harus mengekang aktivitas anak, ”  tambah Yudhi.   by