Perusak Tembok Penjara Koblen Harus Diusut

Senin, 24 Jun 2019 | 00.54 WIB

Perusak Tembok Penjara Koblen Harus Diusut

Anggota Komisi B Baktiono (windhi/centroone)


Centroone.com - Anggota DPRD Surabaya menyoal perusak tembok penjara Koblen di Bubutan. Sebab penjara Koblen masih tercatat dalam cagar budaya Kota Surabaya. Anggota Komisi B Baktiono menegaskan, perusak cagar budaya jelas terancam sanksi hukum yang cukup berat.

Penjara Koblen yang berada di Jl Yasan Praja Surabaya, Kecamatan Bubutan, sudah sejak lama masuk daftar situs cagar budaya. Bata tembok itu asli peninggalan zaman Belanda ratusan tahun silam.

"Yang merusak atau membongkar tentu berurusan dengan aparat hukum, dalam hal ini kepolisian," tegasnya kepada wartawan di gedung DPRD Kota Surabaya, Minggu (23/6/2019).

Baktiono menjelaskan, situs cagar budaya di Kota Surabaya dilindungi oleh Perda 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan atau Lingkungan Cagar Budaya, termasuk tembok penjara Koblen. 

Dia mengatakan, jika masalah perusakan tembok penjara Koblen dibiarkan tanpa penyelesaian hukum, maka hal ini menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di Kota Surabaya. Pembongkaran tembok pagar penjara Koblen pernah terjadi pada 2006, tapi sampai saat ini tidak pernah diusut siapa yang merusak.

Padahal, ujar Baktiono, di dekat temoat itu ada kantor Kelurahan dan Kecamatan Bubutan, serta Koramil Bubutan yang jaraknya tidak jauh dari penjara Koblen. "Mosok aparat Kelurahan dan Kecamatan tidak tahu jika ada perusakan situs cagar budaya tembok pagar penjara Koblen," tegasnya.

Dia juga menegaskan, yang merusak tembok pagar penjara Koblen baik disengaja ataupun tidak disengaja akan berurusan dengan aparat penegak hukum, disamping harus mengembalikan sesuai bentuk bangunan aslinya. 

Menurutnya, sesuai aturan, perusak harus menggantinya dengan bahan baku seperti batu, pasir, semen dan bata serta bahan baku lainnya harus sama dengan sebelum di bongkar. Jika tidak menemukan bahan baku aslinya maka Pemkot Surabaya harus berkonsultasi ke Tim Cagar Budaya, agar bisa mengembalikan kebentuk aslinya.

"Pengembalian bangunan tidak mengurangi unsur pidana, nanti biar pengadilan yang menetapkan." kata Baktiono.

Ke depan, kata Baktiono, Pemkot Surabaya harus lebih mengawasi dan menindak cepat jika ada perusakan terhadap bangunan cagar budaya. "Jangan sampai insiden seperti rumah siar Bung Tomo kembali terjadi," ungkapnya.

Sementara Camat Bubutan Eko Kurniawan saat dikonfirmasi mengakui belum tahu sama sekali jika tembok penjara Koblen dibongkar. "Malah saya baru tahu dari media, coba nanti saya cek ya," ujar Eko. (windhi/by)