ITS Siap Kembangkan Bisnis Mahasiswa Melalui IYT

Selasa, 18 Jun 2019 | 14.00 WIB

ITS Siap Kembangkan Bisnis Mahasiswa Melalui IYT

Kasubdit PK2M Direktorat Kemahasiswaan ITS Arief Abdurrakhman ST MT (WIndhi/Centroone)


Centroone.com - Wirausahawan khususnya yang berkecimpung dalam bidang teknologi sangatlah dibutuhkan di Indonesia. ITS Surabaya sebagai kampus yang berwawasan teknologi siap menghadirkan sumber daya wirausahawan dalam bidang teknologi melalui program ITS Youth Technopreneur (IYT) 2019.

Kasubdit PK2M Direktorat Kemahasiswaan ITS Arief Abdurrakhman ST MT menjelaskan, IYT 2019 adalah program yang dirancang oleh Subdirektorat Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Mahasiswa (PK2M) Direktorat Kemahasiswaan ITS. Program ini bekerja sama dengan Pengurus Ikatan Alumni (IKA) ITS PW Jawa Timur serta Satu Atap Coworking Space untuk menelurkan wirausaha muda baru dari Kampus ITS Surabaya, khususnya dalam bidang teknologi. 

IYT sendiri saat ini sudah memasuki edisi kedua pelaksanaan setelah sebelumnya IYT 2018 sukses dilaksanakan. Program ini dirancang untuk mencari bibit-bibit wirausahawan berbasis teknologi yang akan didampingi dan diberikan pendanaan untuk bisa mewujudkan produk teknologi inovatif yang dapat berguna di masyarakat. IYT sendiri merupakan program lama ITS yang di-redesign dan di-rename karena hadirnya konsep baru. 

“Dulu namanya adalah Program Wirausaha Mahasiswa (PMW) ITS yang sudah berjalan sejak 2009 hingga 2018 yang digantikan oleh IYT 2018,” jelas dosen Departemen TeknikInstrumentasi ITS ini.

Perbedaan dengan PMW sendiri, menurut Arief, lebih pada sisi pengusulan, pendampingan, hingga monitoring dan evaluasi yang ada. Saat PMW dulu, belum ada pendampingan yang komprehensif, termasuk belum banyak melibatkan praktisi dalam hal menilai inovasi bisnis mahasiswa.

“Saat ini kita libatkan praktisi bisnis yang mayoritas dari alumni 50 persen kerjasama dengan IKA ITS dan akademisi 50 persen untuk menilai inovasi bisnis mahasiswa,” paparnya.

Rangkaian program IYT 2019 diawali dengan pengumpulan proposal ide bisnis mahasiswa. Proposal bisnis ini akan diseleksi oleh panitia IYT 2019 untuk kemudian masuk ke rangkaian workshop. Peserta akan mengikuti empat rangkaian workshop yang dilaksanakan empat bulan dengan diisi materi mengenai pengembangan bisnis. Setelah itu, akan ada seleksi proposal tahap dua yang dinilai antar peserta melalui metode Peer Selection menggunakan website yang sudah disediakan oleh Satu Atap Coworking Space. 

Setelah itu akan diumumkan tim yang mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan ide bisnisnya. Pada IYT 2019 ini nanti, akan dihasilkan 10 tim junior yang berasal dari mahasiswa semester satu hingga empat dan 10 tim senior yang berasal dari mahasiswa semester lima hingga delapan untuk diberikan hibah dana oleh ITS. 

Dana yang diberikan pun sebesar Rp10 juta per tim junior dan Rp20 juta per tim senior. “Kami juga masih mengupayakan untuk mengadakan pemberian dana untuk sekitar 10 tim alumni yang akan didanai oleh IKA ITS, namun ini masih dalam tahap sosialisasi,” tambahnya. 

Hal yang menarik dari hasil inovasi program IYT ini adalah dilaksanakannya bursa modal di samping bursa kerja yang sudah setiap tahun dilaksanakan ITS. Bursa modal ini, kata Arief, adalah puncak acara dari sekian banyak insentif modal yang diberikan oleh ITS atau pihak lain untuk program bisnis mahasiswa.

Di bursa modal ini akan dihadirkan investor berskala nasional dan internasional untuk melihat dan mendengarkan paparan produk hasil mahasiswa ITS yang terpilih oleh IYT ataupun hasil dari mata kuliah tecnopreneurship. “Di situ nanti diharapkan banyak mahasiswa yang mendapatkan modal langsung dari investor besar untuk mengembangkan produknya hingga dapat terjual di masyarakat,” imbuhnya.

Dosen kelahiran 12 Juli 1987 ini pun berharap dengan adanya program IYT 2019 ini dapat meningkatkan motivasi mahasiswa untuk berinovasi dalam mengembangkan bisnis berbasis teknologi. Mahasiswa harus mampu mengukur potensi diri sejak dini ingin berkecimpung dalam wirausaha atau sebagai pegawai perusahaan. “Job Seeker dan Job Creator sama-sama pentingnya, namun jangan jadikan wirausaha sebagai last option karena butuh proses panjang untuk membangun sebuah usaha,” tutupnya mengingatkan. (windhi/by)