Mengenal Faktor Penentu Sukses Program Bayi Tabung

Selasa, 07 Mei 2019 | 21.00 WIB

Mengenal Faktor Penentu Sukses Program Bayi Tabung

Dr Benediktus Arifin, MPH, SpOG, FICS (kanan baju biru)- dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Total Life Clinic serta Klinik Morula IVF Surabaya National Hospital saat menerima pasien untuk konsultasi (Centroone)


Centroone.com - Program In-Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung jadi pilihan bagi para pasangan yang telah lama menikah dan belum mendapatkan anak.  program bayi tabung sendiri sebaiknya tidak dijadikan pilihan terakhir untuk memiliki buah hati. 

"Sering ditemui kasus dimana pasangan terlalu lama menunggu dan mengira bayi tabung merupakan pilihan terakhir, sehingga datang pada kondisi dimana sudah kurang optimal untuk hamil. " tukas Dr Benediktus Arifin, MPH, SpOG, FICS - dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan  Total Life Clinic serta Klinik Morula IVF Surabaya National Hospital. 

Dokter yang akrab disapa Dr Benny ini  beberapa waktu lalu mewakili Morula Indonesia mengirimkan hasil penelitian terkait bayi tabung ke kongres dunia tentang Human Reproduction di Dublin, Irlandia.   Dari hasil seleksi, penelitian yang dilakukan oleh Dr.Benny, Dr.Amang Surya, Dr.Ali Mahmud tentang bagaimana menyiapkan dinding rahim yang ideal untuk implementasi bayi tabung terpilih untuk dipresentasikan dalam kongres tersebut. 

"Keberhasilan bayi tabung , satu adalah dari embrio, dari sperma yang bagus akan tumbuh embrio yang bagus. yang kedua adalah masalah rahim. Ibaratnya rahim adalah tanah, embrio adalah bibit.  Salah satu masalah utama sukses bayi tabung adalah bagaimana cara kita mempersiapkan rahim ideal untuk embrio yang bagus juga. Tapi sering kali pasien datang dengan mengatakan bayi tabung sebagai jalan terakhir.  Karena saat seperti itu, biasanya untuk mendapatkan embrio yang bagus akan susah, dan tingkat keberhasilannya pun tipis."  tutur Dr Benny lagi. 

Ia juga  menyebutkan sejumlah  indikasi mutlak maupun relatif untuk melakukan bayi tabung menurut Perfitri (Perhimpunan Fertilisasi In Vitro Indonesia)  yakni faktor sperma yang tidak dapat dikoreksi, kebuntuan kedua saluran telur yang tidak dapat dikoreksi, tidak hamil setelah 3x atau lebih inseminasi , endometriosis derajat sedang - berat. 

Selain itu gangguan ketidaksuburan yang tidak diketahui penyebabnya setelah 3 tahun menikah belum hamil (pasca pengobatan) serta gangguan ovulasi dan penurunan cadangan sel telur yg telah dicoba upayakan 3-6 siklus pengobatan juga bisa jadi indikasi. 

"Jika ada indikasi mutlak, maka jangan menunggu (hamil) alami selama belasan tahun. Itu yang kita perlu edukasi. Bayi tabung bukan jalan terakhir, tapi bisa jalan utama selama indikasinya tepat. " kata Dr Benny.  

Apabila indikasi mutlak adalah bayi tabung maka sebaiknya tidak menunda lama karena kualitas dan kuantitas sel telur wanita dan sel sperma pria akan terus menurun dengan bertambahnya usia. 


"Semakin kita menunda, semakin menurunlah kualitas sperma dan sel telur tersebut.  KIta berusaha memberikan pelayanan yang lebih murah dan terjangkau, agar orang-orang tidak perlu jauh-jauh melakukan teknologi bayi tabung ini. " tutup Dr Benny.  by 



...
0




There are 0 comments in this current article