Jembatan Ujung Galuh dan MERR 10,8 Kilometer Resmi Rampung

Jumat, 31 Mei 2019 | 03.00 WIB

Jembatan Ujung Galuh dan MERR 10,8 Kilometer Resmi Rampung

Wali Kota Tri Rismaharini saat meresmikan MERR dan Jembatan Ujung Galuh.(windhi/centroone)


Centroone.com - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meresmikan Jembatan Ujung Galuh dan jalan arteri Middle East Ring Road (MERR) sepanjang 10,8 kilometer, Kamis (30/5/2019). MERR yang merupakan salah satu rangkaian jalan arteri primer di Kota Pahlawan ini menjadi pintu gerbang Kota Surabaya sisi Timur.


Proyek pembangunan MERR ini tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya Tahun 2014-2034. Selain itu, MERR ini merupakan salah satu prioritas pembangunan dalam Rencana 

Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Surabaya Tahun 2016-2021. Dengan adanya jalan ini, diharapkan menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan lalu lintas, yaitu kemacetan yang ada di koridor utara–selatan di wilayah tengah Kota Surabaya.
Wali Kota Risma mengatakan, selama ini pembebasan lahan untuk pengerjaan MERR, Pemkot Surabaya dibantu dengan Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya. 

Sehingga proses pengerjaannya bisa sesuai waktu yang ditetapkan. Dia menilai, jika MERR ini sangat penting untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas di tengah kota. “Alhamdulillah bisa kelar, meskipun prosesnya agak lama dengan aturan yang baru,” kata Wali Kota Risma saat peresmian MERR di Gunung Anyar Surabaya.

Dia menyampaikan, setelah ini Pemkot Surabaya akan meneruskan pengerjaan Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT). Selain itu, Pemkot Surabaya ke depan akan melakukan pengerjaan Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB). “Untuk (proyek, red) box culvert tahun depan harus selesai. Kemudian kita akan njebol dari jalan Wiyung sampai ke Lakarsantri, ya itu target kita,” jelas Wali Kota Risma.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Kota Surabaya Erna Purnawati mengatakan, total panjang MERR mencapai 10,8 kilometer, dimulai dari Jl Kenjeran hingga Jembatan (Tol) Tambak Sumur Sidoarjo. MERR terbagi menjadi tiga segmen, pertama MERR II-A mulai Jl Kenjeran sampai perempatan Kampus C Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. MERR II-B mulai perempatan Kampus C UNAIR sampai perempatan Jl Arif Rahman Hakim. Sementara MERR II-C, mulai perempatan Jl Arif Rahman Hakim sampai jembatan/Tol Tambak Sumur.

“Setidaknya, untuk menyelesaikan pembangunan MERR tersebut, Pemkot Surabaya telah melakukan pembebasan persil lahan sebanyak 608. Pembebasan lahan dilakukan mulai 2009 sampai 2018 dengan anggaran total mencapai Rp92.171.413.000," kata Erna.

Untuk MERR II-C segmen Gunung Anyar dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya. Erna mengungkapkan, MERR II-C segmen Gunung Anyar, panjang jalan mencapai 1,8 kilometer. Jalan ini memiliki 2 jalur dan 3 lajur, dengan lebar jalan mencapai 40 meter. Namun, untuk lebar badan jalan 30 meter dan sisa 10 meter digunakan pedestrian dan saluran air di tengah.


“Saat ini, MERR II-C sisi timur atau arah luar kota sudah dibuka, sementara sisi barat arah dalam kota dalam tahap rekonstruksi. Anggaran sekitar Rp297 miliar digunakan untuk pembebasan dan fisik pembangunan jalan," jelasnya.

Sementara Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya Irvan Wahyudrajat mengatakan, MERR II-C ini mampu mengurangi kepadatan arus lalu lintas yang cukup signifikan biasa terjadi di tengah kota seperti Jl Ahmad Yani. Dia menyebut, sebelum ada MERR II-C, saat sore hari antrian panjang kendaraan di tengah kota ke arah Sidoarjo bisa menyentuh Masjid Al-Falah Raya Darmo dan Jl Diponegoro.

"Sehingga ketika ada pembebanan (kendaraan, red) yang kemudian dialihkan ke MERR II-C, kepadatan lalu lintas di tengah kota bisa berkurang, kisaran 40-60 persen harian lalu lintas rata-rata. Sehingga sekarang tidak terjadi lagi antrian sampai ke Masjid Al-Falah Raya Darmo," kata Irvan.

Irvan menjelaskan, berdasarkan kesepakatan dan kajian bersama Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), batas kecepatan kendaraan yang diperbolehkan melaju di MERR II-C maksimal 40 kilometer. Sementara itu, berdasarkan evaluasi yang dilakukan Dishub Surabaya, selama dua minggu terjadi peningkatan volume kendaraan. 

"Sementara ini dilakukan pemasangan kamera pemantau (CCTV). Tapi ke depan akan dilengkapi dengan Rambu Pendahulu Petunjuk Jalan (RPPJ) dan Speed kamera pemantau kecepatan," pungkasnya. (windhi/by).