Kaji Potensi Pajak Rokok Untuk Atasi Stunting

Kamis, 30 Mei 2019 | 14.00 WIB

Kaji Potensi Pajak Rokok Untuk Atasi Stunting

ilustrasi (pixabay)


Centroone.com - Untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045, stunting yang antara lain ditandai dengan tubuh pendek tidak sesuai dengan usianya harus segera diatasi. 

Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) Regional Centre for Food and Nutrition (RECFON) , organisasi bidang pangan dan gizi kerjasama menteri-menteri pendidikan se-Asia Tenggara dengan pengampuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah bekerjasama dengan The Union-Bloomberg dalam melakukan studi untuk menilai potensi peningkatan pajak dan cukai rokok dan pemanfaatannya untuk program gizi terkait stunting di Indonesia.

Umi Fahmida, peneliti utama SEAMEO RECFON menjelaskan, belanja rokok di Indonesia menjadi pengeluaran terbesar ketiga dalam rumah tangga (12,4 % dari pengeluaran rumah tangga). “Ini setara dengan dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli sayur-mayur (8.1%)  serta telur dan susu (4.3 %)”, ujar Umi. 

“Bayangkan, kalau yang 12, 4 % itu disisihkan, akan sangat berkontribusi untuk keragaman pangan yang bermanfaat bagi peningkatan gizi anak. Uang  itu bisa dibelikan sesuatu yang berguna, mungkin dibelikan telur, ikan  sayur dan buah,” tegasnya. 

Merujuk pada hasil analisis data Indonesian Family Life Survey (IFLS), kemungkinan anak dari keluarga perokok menjadi stunting lebih besar dari anak keluarga tanpa perokok.  Selain itu, berdasarkan studi dari Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) Universitas Indonesia, anak-anak dari keluarga perokok kronis memiliki kecenderungan untuk tumbuh lebih pendek dan lebih ringan dibandingkan dengan anak dari keluarga tanpa perokok.

Umi menegaskan, akar persoalan stunting bisa dilihat dari 3 hal.  “ Pertama, yang langsung itu karena asupan gizi anak jelek atau kurang. Kedua, dipengaruhi oleh seringnya anak sakit sehingga penyerapan zat gizi tidak optimal. Ketiga, adalah pengaruh pola pengasuhan keluarga. Keluarga ini bukan cuma ibu. Tetapi juga bapaknya“, ujar Umi.

Menurut wanita yang pernah mendapat penghargaan dari Universitas Indonesia ini, faktor keluarga berpengaruh cukup besar. Namun, Umi juga menjelaskan,  ada faktor-faktor lain di tingkat komunitas antara lain seperti akses pelayanan kesehatan , kesehatan lingkungan dan ketersediaan pangan. by