Wakili Asia, Tim Antasena ITS Lolos DWC 2019 London

Jumat, 03 Mei 2019 | 23.31 WIB

Wakili Asia, Tim Antasena ITS Lolos DWC 2019 London

Tim Antasena ITS (Windhi/Centroone)



Centroone.com-Tim mobil hemat energi ITS semakin mantap menancapkan prestasinya di kancah dunia. Setelah sukses merajai ajang Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2019, ITS berlanjut meloloskan timnya ke ajang Drivers’ World Championship (DWC) Grand Final 2019 di London, Inggris yang kali ini diwakili oleh Tim Antasena. 

Tim Antasena yang merupakan mobil hemat energi berbahan bakar hydrogen ini berhasil melesat di posisi ke-2 saat bertarung di kompetisi DWC Asia 2019 di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, Kamis (2/5/2019) sore waktu setempat. DWC Asia ini sebagai lanjutan dari kejuaraan SEM Asia 2019. Sedang posisi ke-1 diduduki Tim Nanyang E Drive dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura dan posisi ke-3 diraih Tim LH-EST dari Lac Hong University, Vietnam.

Ketiga tim tersebut dinyatakan berhak mewakili Asia di ajang grand final DWC 2019 di London, pada 1 Juli 2019. Sebelumnya, Rabu (1/5/2019), di SEM Asia 2019 Tim Antasena yang merupakan pemain baru setelah cukup lama vakum di ajang ini berhasil meraih juara 2 untuk kategori Urban Concept di kelas bahan bakar hydrogen. Sedang tim mobil hemat ITS lainnya, yakni Tim Sapuangin yang bermain di kelas bahan bakar gasoline menduduki juara 1 dan Tim Nogogeni yang berbahan bakar baterai atau listrik juga meraih juara 2.

General Manager (GM) Tim Antasena ITS, Ghalib Abyan mengaku tidak menyangka bisa menjadi perwakilan Indonesia di ajang DWC tingkat dunia ini. “Karena target kita sebelumnya hanya finish di tiga besar Urban Concept Hydrogen (di SEM Asia red), jadi nggak menyangka malah sampai bisa lolos ke DWC di London ini,” tutur mahasiswa Departemen Teknik Material angkatan 2016 ini dihubungi melalui pesan daring. 

Ghalib mengaku banyak sekali tantangan besar yang harus dihadapi timnya di Sirkuit Internasional Sepang ini. Pasalnya, suhu lintasan yang mencapai 35 derajat celcius dapat mengganggu performa mobil Antasena tersebut. “Selain itu, jalurnya banyak sekali tanjakan yang cukup tinggi dan panjang sangat membahayakan, sehingga hal itu merugikan bagi mobil hemat energi,” ungkap pemuda kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1998 ini.

Awalnya, lanjut Ghalib, timnya memang sempat pesimis untuk bisa menang melihat karena kondisi jalur yang seperti itu. “Namun, berkat kerja sama, persiapan, dan semangat dari Tim Antasena, alhamdulillah dapat mencapai target setinggi ini (juara 2 DWC Asia, red),” ujarnya penuh syukur.

Namun, Ghalib merasa yakin untuk pertarungan di DWC London nanti, tim Antasena akan mampu tampil dengan performa lebih baik. Hal ini dikarenakan kondisi temperatur di London yang relatif lebih dingin dan juga track yang lebih bersahabat tentunya. “Dengan kondisi tersebut, kami yakin akan mendapatkan hasil yang lebih baik,” tandasnya optimistis.

Sementara itu, untuk Tim Nogogeni ITS dan Tim Sapuangin ITS yang juga mengikuti adu cepat pada DWC Asia 2019 ini masih belum berkesempatan lolos tiga tercepat. Selain itu juga, aturan baru menegaskan bahwa dari satu universitas hanya boleh satu tim yang dapat lolos atau melanjutkan ke grand final DWC tingkat dunia di London.

Prestasi ini terbilang sangat membanggakan dan mengejutkan, mengingat Tim Antasena yang dulu mengawali ITS berpartisipasi di ajang SEM Asia meski di kategori prototype, telah lama vakum mengikuti laga mobil hemat energi ini. Kembalinya Tim Antasena untuk kali pertama langsung membuat gebrakan dengan menyabet juara 2 untuk kategori Urban Concept bahan bakar hydrogen.

Bahkan kali ini, Tim Antasena juga berhasil mendapat penghargaan Most Innovative Hydrogen Fuel Cell Newcomer by Linde. Kejutan lebih besar ditunjukkan dengan berhasilnya Tim Antasena meraih tiket ke grand final DWC 2019 di London.

Tahun lalu, ITS berhasil diwakili Tim Sapuangin untuk bertarung di grand final DWC di London tersebut dan berhasil menjadi juara dunia. Diharapkan, kali ini Tim Antasena juga mampu mengulang kesuksesan tersebut.

Tim Antasena ITS yang dikemudikan oleh Yoga Mugiyo Pratama yang juga mahasiswa Departemen Teknik Material ini pun menjadi tim satu-satunya yang lolos ke grand final DWC dunia dari Indonesia. Tentunya hal ini juga sangat membanggakan bagi bangsa Indonesia. (windhi/by)