Seumur Hidup Rela Menjaga Makam dr Soetomo

Senin, 20 Mei 2019 | 23.52 WIB

Seumur Hidup Rela Menjaga Makam dr Soetomo

Asmoro Murti Ningrum.(windhi/centroone)


Centroone.com - Asmoro Murti Ningrum atau akrab disapa Murti, bagi sebagian warga Surabaya yang sering berkunjung ke kompleks makam dr Soetomo Jl Bubutan, mungkin sangat mengenalnya. Wanita yang Agustus tahun ini genap berusia 74 tahun, kini sudah tak bisa lagi ditemui di kompleks makam yang lebih dikenal dengan Gedung Nasional Indonesia (GNI). 

Pasalnya, wanita yang sebatang kara itu, kini sudah menjadi penghuni UPTD Griya Werdha Jambangan milik Pemkot Surabaya.


Murti sudah 1,5 tahun menghuni tempat tersebut. Awalnya, pada Juli 2018, Murti mengaku tiba-tiba tubuhnya terbanting tiga kali. Padahal tak tersandung apapun dan tak sakit apa-apa. 

“Tiba-tiba tubuh saya dibanting tiga kali, setelah itu saya sakit tak bisa berjalan. Oleh pimpinan saya, termasuk Pak Pomo (Supomo, Kepala Dinas Sosial Surabaya, red), saya lantas dibawa ke RS dr Soewandhie. Saya dirawat beberapa hari di tempat itu, kemudian saya ditempatkan di Griya Werdha ini,” aku Murti, wanita kelahiran 29 Agustus 1945.

Wanita yang seumur hidupnya memilih mengabdi sebagai penjaga makam pahlawan nasional itu, sejak SMP sudah membantu ayahnya Ahmad, di GNI. 

“Saat itu masih makam biasa, belum GNI. Zaman Pak Karno (Soekarno, Presiden RI pertama, red) makam itu dipercantik dan jadilah seperti saat ini. Saya juga pernah bertemu dengan Presiden Soekarno saat berkunjung ke makam itu. Mulai SMP, SMA sampai kuliah di IKIP daerah Pecindilan (bergelar Sarjana Muda, red) saya sudah mengurusi makam ini,” kenang Murti yang sampai saat ini belum pernah menikah dan berkeluarga.

Anak pasangan Ahmad (meninggal tahun 1966) dan Wakinah (meninggal tahun 1955), tak pernah memikirkan untuk berkeluarga. Semua kehidupannya tercurah untuk mengurusi makam pendiri Budi Utomo. Di tempat itu, dia bertemu dengan orang-orang dari berbagai karakter, namun dia tetap ramah melayani satu persatu ‘tamu’ atau pentakziah makam dr Soetomo.

Dia selama ini memang mendapat mandat (pesan) dari ayahnya yang juga Komandan BKR (Berisan Keamanan Rakyat) Kota Surabaya untuk menjaga makam tersebut. Karena itu, sebagai bentuk patuh dan taat pada orangtuanya, Murti tak pernah mengeluh dengan pekerjaannya tersebut. “Saya menjalaninya dengan ikhlas,” kata dia.

Selama menjadi penjaga makam tersebut, Murti yang mengaku diangkat sebagai pegawai GNI sejak SMA, selama ini menjadi tenaga honorer. Dia digaji oleh tiga instansi, termasuk Dinas Sosial dan Dinas Pariwisata Surabaya. 

Dengan gaji yang tak mau disebutkan berapa nilainya, Murti mengaku menerimanya dengan ikhlas.
Kini saat kangen dengan lingkungan makam dr Soetomo, Murti sudah tak bisa lagi dengan bebas mengunjungi tempat itu. Mengingat usianya yang sudah uzur dan menjadi tanggung jawab pihak UPTD Griya Werdha, Murti hanya bisa bertandang ke GNI jika ada perayaan hari besar saja. 

“Saya masih diundang jika ada perayaan hari tertentu saja. Saya gak bisa lagi bebas datang ke GNI, karena saya memang tak bisa keluar dari tempat ini tanpa pengawasan,” ujar Murti yang masih memiliki indera penglihatan dan pendengaran yang baik.


Di lingkungan Griya Werdha pun diakui salah satu perawat, Anna, Murti memang orang yang tak bisa berdiam diri. Murti banyak kesibukan, khususnya memberi semangat penghuni panti yang sakit dan di rawat di ruang khusus. 

"Di sini ada 152 penghuni, terdiri dari 75 penghuni pria dan sisanya wanita. Di sini masih belum ada pemisahan antara penghuni pria dan wanita, ini juga merepotkan. Tapio kita di tempat ini memang harus selalu sabar dan siap melayani para penghuninya yang memiliki berbagai karakter. Di sini, penghuni yang berasal dari jalanan, justru lebih rewel karena karakternya keras,” aku Anna. (windhi/by).