Tugas KPPS Berat, Pemeriksaan Kesehatan Asal-Asalan

Kamis, 25 Apr 2019 | 16.00 WIB

Tugas KPPS Berat, Pemeriksaan Kesehatan Asal-Asalan

ilustrasi (kpu)



Centroone.com - Pelaksanaan Pemilu 2019 di berbagai daerah di seluruh Indonesia tak saja menyisakan sengketa Pemilu, namun yang menarik banyak petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan keamanan yang meninggal dunia.

Data terbaru, di seluruh Indonesia tercatat ada 144 petugas KPPS yang meninggal dunia, ini belum ditambah dua petugas KPPS yang meninggal dunia pada Rabu (24/4/20019) petang dan Kamis (25/4/2019) pagi. Tentunya, hal ini harus menjadi evaluasi penyelenggara Pemilu untuk tahun-tahun mendatang.

Pekerjaan pemungutan suara (Pungra) dan penghitungan suara (Tungra) di Pemilu 2019, memang sangat melelahkan. Setiap KPPS harus menghitung lima surat suara (Presiden, DPR RI, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota). Hal yang tak pernah diperhitungkan adalah pemeriksaan kesehatan seluruh KPPS. Padahal syarat menjadi anggota KPPS adalah harus menyertakan bukti tes kesehatan.

Ironinya, beberapa petugas KPPS hanya menjalani pemeriksaan kesehatan ala kadarnya saja di puskesmas atau rumah sakit pemerintah. Namun ada juga yang diperiksa lengkap, itupun hanya sebatas periksa tekanan darah (tensi), periksa detak jantung dengan stetoskop dan tanya jawab tentang riwayat penyakit yang diderita.

Salah satu KPPS di TPS 02 Kelurahan Kutisari Kecamatan Tenggilis Mejoyo mengaku jika dia menjalani pemeriksaan kesehatan hanya sebatas tes mata, dengan membaca huruf-huruf dari jarak yang ditentukan. Setelah itu tak ada pemeriksaan lainnya. “Saat saya tanya, apa tidak ada pemeriksaan lainnya, petugas di puskesmas mengatakan itu saja sudah cukup. Saya juga bayar Rp5.000 untuk mendapatkan surat itu,” aku Teguh AW yang menjadi anggota KPPS di TPS tersebut.

Hasilnya, setelah menjadi petugas KPPS dengan melakukan pungra tungra sampai jam 02.00 dinihari, dia merasa kepalanya sangat sakit. “Sampai di rumah, saya mengkompres kepala saya dengan air es. Saya merasakan kerja itu sangat berat. Saya tekankan, seharusnya ke depan KPU harus mengintervensi pemeriksaan kesehatan itu harus benar-benar di jalankan, mengingat kerja KPPS mulai pagi sampai pagi lagi,” jelas dia.

Berbeda dengan Hamid, anggota KPPS di TPS 19 Kelurahan Banjarsugihan Kecamatan Tandes. Dia mengaku mengikuti tes kesehatan sebagai syarat mendaftar sebagai KPPS. “Pemeriksaannya berupa cek tensi dan periksa detak jantung. Selain itu saya juga ditanya-tanya tentang riwayat kesehatan, seperti pernah menderita stroke atau tidak, memiliki riwayat darah tinggi atau tidak, itu saja. Saya juga mendapatkannya gratis,” jelas Hamid.

Namun dia mengakui jika pekerjaan sebagai petugas KPPS memang sangat melelahkan. Pungra tungra di TPS 19 Banjarsugihan terbilang cepat. Terhitung sejak pagi hingga jam 23.00, sudah rampung. Ini lantaran para petugas KPPS di tempat itu sudah berpengalaman dengan kegiatan Pemilu. 

Ketua KPU Kota Surabaya Nur Syamsi yang dikonfirmasi di dua nomor teleponnya, tak berhasil. Begitu juga saat dikonfirmasi melalui media sosialnya (whatsapp), juga tak ada balasan. (windhi/by)