Transformasi Digital Berpeluang Jadi Solusi Masalah Sosial

Jumat, 19 Apr 2019 | 18.00 WIB

Transformasi Digital Berpeluang Jadi Solusi Masalah Sosial

Aruna, start-up asal Indonesia, keluar sebagai pemenang Alipay-NUS Enterprise Social Innovation Challenge. (Alipay-NUS Enterprise Social Innovation Challenge)



Centroone.com - Aruna, start-up asal Indonesia, keluar sebagai pemenang Alipay-NUS Enterprise Social Innovation Challenge.  Ajang tersebut diselenggarakan oleh Alipay dan dioperasikan oleh Ant Financial Services Group  bersama dengan NUS Enterprise, divisi kewirausahaan di Nasional University of Singapore (NUS). 

Aruna terpilih berdasarkan penggunaan teknologi digital dalam membantu nelayan di Indonesia meningkatkan mata pencaharian mereka melalui akses pasar yang lebih baik dan peluang penjualan yang lebih adil.

“Internet economy di Asia Tenggara bertumbuh dengan pesat pesat dan diproyeksikan mencapai gross merchandise value lebih dari US$240 miliar pada tahun 2025. Di balik transformasi digital yang cepat ini, ada potensi dan peluang yang besar dalam penggunaan teknologi untuk mengatasi berbagai masalah yang ada di tengah masyarakat kita,” kata Profesor Wong Poh Kam, Senior Director, NUS Entrepreneurship Center, sebuah divisi dari NUS Enterprise.

Pemenang dan seluruh finalis juga akan menerima bantuan mentoring dan inkubasi dari NUS Enterprise untuk jangka waktu tiga bulan, serta akses ke BLOCK71, suatu pembangun ekosistem dan komunitas konektor global bersama dengan berbagai co-working space di Singapura, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Suzhou dan San Francisco.

“Untuk menciptakan dampak yang positif dan berkelanjutan bagi masyarakat kita, maka perlu didorong lebih banyak wirausahawan teknologi mengaplikasikan kemampuan wirausaha mereka guna menyelesaikan berbagai masalah sosial dengan teknologi dan model bisnis yang inovatif. Itulah sebabnya kami berkolaborasi dengan Alipay untuk membangun suatu lingkungan yang mendukung lahirnya lebih banyak wirausahawan teknologi yang berdampak di Asia Tenggara.” tambah Profesor Wong Poh Kam.  by