Likuiditas Terkelola Baik, Sekaligus Pertahankan Kualitas Aset

Rabu, 20 Mar 2019 | 05.00 WIB

Likuiditas Terkelola Baik, Sekaligus Pertahankan Kualitas Aset

ilustrasi (danamon)



Centroone.com - PT Bank Danamon Indonesia Tbk  (Bank Danamon) -  mencatatkan laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar Rp 3,9 triliun pada tahun 2018, atau tumbuh 7% dari tahun sebelumnya.  

Dibeberkan dalam laporan keuangan untuk tahun 2018, pertumbuhan laba didorong oleh pertumbuhan dua digit di sejumlah segmen kunci, antara lain Perbankan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Consumer Mortgage, Enterprise Banking serta pembiayaan kendaraan bermotor melalui Adira Finance.  

Bank juga mencatatkan kualitas aset yang lebih baik.  ditandai dengan turunnya rasio biaya kredit (cost of credit ratio) sebesar 30 basis poin menjadi 2,5%, dibandingkan 2,8% pada tahun sebelumnya. 

Bank Danamon  mempertahankan kualitas asetnya melalui penerapan prosedur pengelolaan risiko yang pruden serta proses collection dan credit recovery yang disiplin. Rasio kredit Dalam Perhatian Khusus membaik menjadi 9,8% dibandingkan 11,0% setahun sebelumnya. Sementara rasio kredit bermasalah (non-performing loans/NPL) ada di posisi 2,7% dibandingkan 2,8% di akhir tahun 2017.  

" Bank Danamon terus membukukan pertumbuhan laba dari inisiatif transformasi jangka panjang kami, dalam melakukan diversifikasi sumber pendapatan, memperkuat layanan nasabah, serta menerapkan solusi berbasis teknologi dan digital secara komprehensif,” kata Direktur Utama  Bank Danamon Sng Seow Wah. 

Dengan dengan rasio intermediasi makroprudensial (RIM) atau Macroprudential Intermediation Ratio pada 97,2%, likuiditas terkelola dengan baik. Untuk giro dan tabungan (CASA) naik stabil menjadi Rp 52,1 triliun, sementara rasio CASA berada di posisi 47,1%. Rasio kecukupan modal Danamon (capital adequacy ratio/CAR) juga tetap kuat untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. CAR konsolidasian naik menjadi 22,2% pada akhir tahun 2018 dibandingkan 22,0% di tahun sebelumnya.

Sementara pendapatan biaya yang tidak terkait kredit atau non-credit related fee income tumbuh 13% menjadi Rp 1,3 triliun. Kenaikan ini didukung oleh net underwriting profit Adira Insurance yang tumbuh 24% menjadi Rp 615 miliar. Pendapatan biaya dari Bancassurance juga naik 12% menjadi Rp 384 miliar. by