Ini Tantangan Perawatan Estetika di Era Beauty 4.0

Sabtu, 23 Feb 2019 | 06.00 WIB

Ini Tantangan Perawatan Estetika di Era Beauty 4.0



Centroone.com - Seperti halnya revolusi industri berkembang dan mengalami perubahan dari industri 1.0 menuju 4.0 demikian pula beauty industry mengalami revolusi. Di era Beauty 4.0, kehadiran dunia digital terutama sosial media memberikan dampak besar. 

Pada Beauty 1.0, konsep perawatan fokus hanya pada 1 dimensi saja, yaitu dokter menggunakan apa yang disebut dengan golden ratio. Dan dari sudut pandang dokterlah yang menentukan perawatan yang terbaik bagi pelanggan.Pada Beauty 2.0, masyarakat menginginkan tampilan wajah dengan perfect look namun tetap memiliki keaslian, versi terbaik dari dirinya, tidak menjadi diri orang lain. 

"Beberapa tahun yang lalu, dokter akan mengarahkan mana perawatan yang tepat bagi klien, namun seiring berjalannya waktu, mereka juga mempunyai keinginan untuk mengikuti tren yang sedang terjadi. " tutur dr. Lanny Juniarti, Dipl. AAAM, Founder dan President Director MiracleAesthetic Clinic Group. 

Di  era Beauty 3.0 tuntutan masyarakat kian berkembang. Mereka tidak hanya sekadar ingin menyempurnakan tampilan wajahnya namun perawatan kecantikan yang dilakukan dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka.   

Di era Beauty 4.0 kini tidak lagi fokus pada sudut pandang dokter. Tidak lagi terikat pada sudut pandang dan keinginan individu saja. Tidak juga berorientasi hanya pada 1 atau 2 dimensi, namun multi dimensional. Di era ini kecantikan terikat pada banyak faktor, terkait pada opini orang lain yang menilainya, social awareness hingga opini publik, yang berorientasi dengan fisik dan emosional individu.
‚Äč
"Sebagai ahli di bidang estetik, kami harus dapat menyarankan perawatan apa yang tepat,  apa yang menjadi keinginan klien, dengan tetap memilki kekhasan yang menjadi versi terbaik dari dirinya. Sehingga rasa percaya diri  bertambah. Namun tidak cukup sampai disitu saja, juga perlu dipahami juga apakah  kecantikan yang dilakukan dapat memberikan dampak yang baik pada kehidupan sosial mereka. Jangan sampai, misalnya wajah pelanggan malah menjadi bahan hujatan orang lain, seperti tidak proporsional maupun terlihat aneh." tambah  dr. Lanny Juniarti.  by