Olah Air Laut Dan Limbah Jadi Air Layak Minum

Senin, 30 Des 2019 | 20.57 WIB

Olah Air Laut Dan Limbah Jadi Air Layak Minum

Stella memandu wisatawan mengelilingi gedung NeWater. (Windhi/centroone)



Centroone.com - Indonesia dan Malaysia, tercatat pernah menjadi negara penyuplai air bersih ke Singapura. Kota Singa itu harus merogoh kocek miliaran dollar setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan warganya. Kini hal itu sudah tak terjadi lagi, lantaran negara kecil itu sejak 1970 sudah maju dan mampu dengan mandiri mengolah air minumnya.

Di negara itu, bahan baku air minumnya juga tak berasal dari sumber air tanah, melainkan air laut dan air limbah. Air laut yang diolah sedemikian rupa oleh NeWater, semacam PDAM-nya Kota Surabaya sudah mampu diminum langsung tanpa dimasak.

Kebutuhan air di Singapura dicukupi dengan 50 persen impor air dari Malaysia, 30 persen memanfaatkan air recycling yang diolah NeWater, dan 20 persen memanfaatkan air hujan dengan menampung di waduk (Reservoir) serta desalinasi (mengolah air laut).

Nah, untuk bisa mengolah air hingga mencapai kategori layak minum membutuhkan biaya yang sangat mahal. Karena itulah, PDAM Surya Sembada milik Kota Surabaya harus mengoptimalkan seluruh pembiyaannya secara mandiri, termasuk operasional sehingga masih belum mampu mengolah air untuk layak minum.

Di NeWater, pembiayaan pengolahan air itu ditanggung pemerintah. Sehingga untuk melakukan riset, pengadaan peralatan hingga operasionalnya, lebih ringan. Ada beberapa NeWater yang tersebar, mengelilingi Singapura. Tiap NeWater akan menangani beberapa bagian di negara itu, sehingga lebih ringan. Bahkan NeWater itu pada 2060 sudah bisa menangani 50 persen kebutuhan air bersih dan layak minum di Singapura.

Saat itu, semua air limbah baik yang berasal dari rumah tangga (domestic), industri, perkantoran dan lain-lain di tampung melalui jaringan pipa yang kedalamannya 50 meter dan kemudian ditampung di waduk (Reservoir) di kawasan Changi.

Disampaikan pemandu NeWater Stella, air limbah yang diolah di NeWater siap menjadi air baku untuk air minum. “Selanjutnya air tersebut diproses menggunakan teknologi Ultrafiltrasi, Reverse Osmosis dan Ultra violet untuk disinfectannya, sehingga siap didistribusikan serta bisa langsung diminum,” paparnya.

Di salah satu gedung NEWater Visitor Center (NVC) merupakan wujud keseriusan pemerintah setempat dalam mengolah air. Bahkan di gedung itu terlihat dikelilingi kolam ikan yang cukup luas. Keberadaan kolam tersebut untuk memastikan air yang diproduksi Public Utilities Board (PUB) (semacam perusahaan air minum di Indonesia) benar-benar berkualitas tinggi.

Terlihat dari berpuluh ikan Koi ukuran besar bergerak lincah kesana-kemari meski kolam tidak dilengkapi alat pensuplai oksigen. Artinya kadar oksigen dalam setiap tetes airnya telah mencukupi standar air sehat dan hieginis.

Walau telah mampu menghasilkan air minum, pemerintah setempat juga terus menggalakan kampanye hemat air. Berbagai teknik kampanye diupayak untuk tidak menyia-nyiakan air. Hal ini cukup berdasar, karena Singapura memang membutuhkan biaya mahal untuk menghasilkan air bersih.

Di Singapura, juga disuguhkan bagaimana caranya suplai air yang dibangun PUB untuk 100 tahun ke depan. Sebuah terowongan terintegrasi dibangun jauh di kedalaman bawah tanah, disebut Deep Tunnels Sewerage System (DTTS), air limbah dari rumah tangga dan industry dialirkan melalui jaringan DTTS menuju pusat Water Reclamation Plant (WRP) yang telah tersertifikasi oleh lembaga internasional.

 Kecanggihan jaringan DTTS selain memanfaatkan daya gravitasi untuk menarik seluruh air limbah dari permukaan tanah menuju WRP yang terletak ratusan meter di bawah tanah, DTTS juga bertugas mensuplai energy untuk rumah pompa dan Electricity (Listrik).

Jantung dari DTTS ini berada di Changi WRP, yakni sebuah fasilitas jaringan pengolahan air limbah berteknologi paling maju dan canggih yang dimiliki PUB saat ini. Sejauh 48 km jaringan pipa telah ditanam antara Kranji dan Changi. Memiliki diameter pipa antara 3-6 meter. Jaringan DTTS rencananya akan dibangun lagi sejauh 60 km diseantero penjuru Singapura agar penyerapan air limbah ini dapat bekerja secara maksimal.

Director Water Supply Network (PUB) Mr Chong Hou Chun memastikan air produksi PUB telah lolos uji sertifikasi dari WHO. 

“Lebih dari 80.000 uji laboratorium dikerjakan setiap bulannya menggunakan 300-an parameter yang berbeda-beda. Akhirnya para ilmuwan kami berhasil mempresentasikan 130 uji parameter yang eqivalen, sesuai  dengan standart spesifikasi yang ditentukan oleh United States Environmental Protection (WHO),” ujar Hou Chun. (windhi/by).