Rencanakan Konsep Transportasi Puluhan Tahun Ke Depan

Senin, 30 Des 2019 | 19.00 WIB

Rencanakan Konsep Transportasi Puluhan Tahun Ke Depan

Salah satu sudut LTA yang menyuguhkan ide masa depan untuk transportasi Singapura. (Windhi/centroone)



Centroone.com - Sarana pengembangan transportasi publik di Singapura patut diacungi jempol. Warga setempat lebih memilih berjalan kaki jika jaraknya dekat, dan lebih memilih menggunakan transportasi publik jika jaraknya jauh. Hal ini sudah menjadi kebiasaan warga setempat, karena itu jalan-jalan di Singapura legih lengang.

Salah satu faktornya adalah mahalnya harga mobil di negara tersebut. Apalagi untuk membeli mobil, harga pajak kendaraan bermotornya juga disertakan dalam penjualan mobilnya selama 10 tahun.

Artinya, jika mobil yang sudah terbeli masuk kedaluarsa 10 tahun, apabila ingin memperpanjang pajaknya, nilainya lebih mahal lagi. Untuk itulah, warga setempat akan berpikir dua kali untuk memiliki kendaraan pribadi. Karena itu, mereka lebih memilih naik trasportasi publik yang sudah ada, seperti bus, kereta ataupun LRT.

Pengembangan transportasi publik di negara itu juga didukung warga sehingga hasilnya cukup signifikan. Singapura termasuk negara yang terus melakukan reformasi terkait problem klasik kota-kota besar di seluruh dunia, yakni pembenahan sistem transportasi publik. Hal ini terbukti cukup ampuh dalam mengatasi kemacetan lalu lintas secara komprehensif sehingga mampu mengakomodasi jutaan warganya yang tiap hari memiliki mobilitas tinggi.

Untuk melihat secara keseluruhan kondisi transportasi di Singapura, kita bisa mengunjungi galeri milik Land Tarnsportation Authority (LTA), semacam Dinas Perhubungan di Surabaya. Di galeri itu menampilkan bermacam skema transportasi di negara tersebut. Di tempat itu ada konsep transportasi Singapura hingga 2040. Sebuah masterplan untuk tahun 2040 yang akan diwujudkan oleh Pemerintah Singapura untuk transportasi publiknya.

Dari situ diatur tentang jarak yang mampu ditempuh hanya dalam hitungan menit.  Itu karena Singapura memiliki mimpi membangun jembatan layang sepanjang 1.000 km di seluruh penjuru negeri. Jembatan itu dikhususkan bagi pejalan kaki, standing skuter dan sepeda. Dalam konsep itu, Singapura sangat terbuka pada ide-ide anak muda, tujuannya untuk kemajuan negara tersebut.

Walau memiliki konsep transportasi masa depan, Singapura juga tak mengabaikan aturan. Mereka sangat ketat dengan aturan lalu lintas. Karena itu di galeri tersebut juga ada komitmen warganya untuk tetap taat pada aturan.

Bahkan di Singapura, fungsi CCTV yang menyebar di seluruh titik negara tersebut, sangat berguna. Karena itu pula di Singapura nyaris jarang ditemui anggota kepolisian jalan raya, karena semua ruas jalan sudah terhubung dengan CCTV.

Di Singapura disiapkan Autonomous Shuttles Available on Demand (AVs), sebuah program pusat pengendali dan pengatur lalu lintas yang mampu menjaga jarak antar shuttle bus untuk menghindari crash (tabrakan) atau bersalipan serta mengemudikan bus tanpa intervensi seorang sopir ke tempat tujuan dengan nyaman dan aman.

AVs adalah program terintegrasi paling canggih yang akan diwujudkan LTA di 2040. “Telah teruji mampu mengurangi kecelakaan, program AVs juga dapat membuka komunikasi antar shuttle bus, lebih smooth, lebih optimal dan menciptakan jalanan yang ramah dan aman bagi public,” ujar Chairman of Government Committee for Transportation Mr Sitoh Yih Pin. (windhi/by).