Jadi Tulang Pungggung Keluarga, Ibu Ini Pantang Menyerah  

Selasa, 19 Nov 2019 | 17.00 WIB

Jadi Tulang Pungggung Keluarga, Ibu Ini Pantang Menyerah  

Ibu Elvira Damayanti M. Noer mantap menjadi mitra GrabCar (istimewa)


Centroone.com - Seorang ibu memiliki beban dan tugas yang sangat berat. Tidak hanya harus menjaga buah hati, tapi juga harus mendidik dan membimbing anak agar di masa depan anak menjadi orang yang bermanfaat. Tidak jarang, bahkan seorang ibu juga harus turut menjadi tulang punggung keluarga. Seperti yang dilakukan Elvira Damayanti M. Noer.

Wanita Surabaya, 5 November 1970 harus rela banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.   Ibu yang akrab disapa Vira ini sebelumnya adalah seorang ibu rumah tangga biasa, hingga saat suaminya terkena stroke dua tahun lalu. Tanggung jawab mencari nafkah beralih pada Vira.

Kini Vira tidak hanya ibu rumah tangga biasa, tetapi juga merangkap sebagai kepala rumah tangga. Vira menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, suami, anak, dan ibunya. “Saya anak sulung dari tiga bersaudara. Semenjak ayah saya meninggal, ibu saya ikut tinggal bersama saya dan menjadi tanggung jawab saya,” tuturnya. 

Vira pun harus memutar otak dan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.  Sampai pada suatu ketika adik laki-laki Vira yang bekerja sebagai mitra pengemudi GrabCar mengajak Vira untuk mencoba menjadi mitra pengemudi GrabCar. Vira yang sudah menyetir mobil sejak SMA pun ikut mencoba.

“Saya kemudian berpikir, kenapa tidak dari nyetir ini untuk mencari nafkah. Apalagi sekeluarga bergantung pada saya. Selain itu, saya juga melihat adik saya menggantungkan hidupnya dari penghasilan nge-Grab. Saya memastikan, memang bisa menghasilkan dari sini saja? adik saya bilang bisa. Akhirnya saya coba dan alhamdulillah bisa bergabung menjadi mitra. Setelah bergabung ternyata kok menyenangkan. Penghasilannya juga alhamdulillah, bisa untuk asap dapur juga,” bebernya.  

Awal mulai bekerja menjadi mitra GrabCar memang tidak mudah. Vira mengaku butuh waktu untuk melakukan penyesuaian.   Karena punya banyak tugas di rumah, Vira pun mengakali dengan membagi waktu. Vira turun ke jalan setiap hari satu minggu full. Apalagi menurutnya, saat weekend merupakan momen keberuntungan karena saat itu orderan GrabCar membanjir.

“Jadi saya konsen (konsentrasi) ke weekend. Tapi kalau Senin sampai Kamis saya sambi dengan kegiatan lain. Kebetulan suami juga masih terus terapi dua kali seminggu di rumah sakit. Di sela-sela waktu itu saya bisa mengantar suami terapi dan kontrol,” ujarnya.

Setiap hari, biasanya setelah menunaikan ibadah sholat Subuh dan sang anak berangkat sekola Vira mulai mengaktifkan aplikasi.  

“Kira-kira pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore. Iya, 12 jam. Tapi siangnya biasanya saya cari orderan yang arah pulang ke rumah, karena harus menyiapkan makan suami dan makan ibu saya. Nanti setelah semua selesai, saya menunggu ada order lagi baru berangkat,” katanya.

Menurut Vira, menjadi mitra GrabCar adalah pilihan terbaik. Pasalnya, ia bisa bekerja dengan nyaman - meskipun terkadang pukul 7-8 malam baru sampai rumah.  Namun demikian, Vira mengaku sangat menikmati pekerjaan ini. Dalam sehari, biasanya Vira bisa menyelesaikan 11 hingga 18 trip. Vira juga aktif mengikuti grup Whatsapp Ladies Grab, yakni komunitas mitra Grab perempuan yang membuatnya semakin termotivasi.

“Di sana. mereka juga bersedia sharing. Mereka juga ngasih tahu jalan mana yang macet atau buntu. Pekerjaannya menjadi lebih mudah dengan mengikuti grup seperti ini. Pernah kalau kekurangan armada, mereka akan memberitahu. Kadang mereka juga share, hari ini dapat sekian-sekian jadi ikut terpacu,” tuturnya. 

Vira selalu memotivasi diri memang dirinya yang dipercaya oleh Tuhan dengan nikmat sehat. Oleh karena itu, Vira harus bisa menjadi tulang punggung keluarganya. “Alhamdulillah, dari Grab penghasilan saya minimal Rp350.000 dalam sehari bisa tercapai,” imbuhnya. 

Vira berharap, kedepan Grab bisa menyediakan permintaan khusus untuk driver perempuan. Menurutnya, berdasarkan pengalaman selama ini membawa penumpang, penumpang perempuan akan merasa lebih nyaman, enjoy, dan safety dengan sesama perempuan.

“Bisa ngobrol-ngobrol gayeng walaupun baru pertama kali bertemu. Apalagi rata-rata 80-90 persen pelanggan GrabCar adalah perempuan. Karena logikanya kalau cowok bisa nyetir sendiri. Jadi pangsa pasar kami rata-rata ibu-ibu, mahasiswi, dia sangat konsen dengan keselamatan dia. " ujar Vira.

Soal keamanan, Vira mengaku tidak khawatir. “Selain pelatihan berkendara aman dan bela diri dasar, Grab juga punya teknologi keamanan yang luar biasa. Sekarang ada fitur “Pusat Keselamatan” untuk mitra pengemudi dan pengguna. Di situ ada berbagai macam fitur seperti bagikan lokasi perjalanan, tombol darurat dan layanan bantuan. Selain itu ada juga fitur Free Call, jadi nomor telepon pribadi penumpang dan pengemudi tidak akan bisa dilihat. Saya jadi tenang, penumpang juga harusnya merasa lebih nyaman.” tambahnya lagi.

Khusus di kota Surabaya, data menunjukkan Grab berkontribusi sebesar Rp 9 triliun pada tahun 2018. Kontribusi terbesar dihasilkan oleh mitra GrabFood sejumlah Rp 4,22 triliun, diikuti GrabBike sebesar Rp 3,51 triliun, GrabCar senilai Rp 1.17 triliun, GrabKios individual dan toko sebesar Rp 50 miliar. Sementara, pendapatan mitra pengemudi GrabBike meningkat sebesar 144% dan mitra GrabCar sebesar 114%.  by