Waspadai Bahaya Si "Silent Killer" Diabetes

Kamis, 14 Nov 2019 | 16.00 WIB

Waspadai Bahaya Si

Pemeriksaan gula darah secara reguler merupakan kunci melawan Diabetes. (centroone)



Centroone.com - 14 November setiap tahun diperingati sebagai Hari Diabetes Sedunia.   Indonesia sendiri - menurut Indonesia Diabetic Federation (IDF) pada tahun 2017,  masih berada di urutan ke-6 di dunia dengan sekitar 10,3 juta penyandang diabetes di rentang usia 20 – 79 tahun. 

Sementara data Riskesdas (Data Riset Kesehatan Dasar) Litbangkes tahun 2018 dan Konsensus PERKENI 2015, menyebutkan di Indonesia, sebanyak 75% dari total penderita diabetes belum menyadari dirinya penderita diabetes. Adapun 25% penderita diabetes yang sudah menyadari dirinya menyandang diabetes, hanya 17% yang menjalani terapi diabetes, sedangkan 8% tidak menjalankannya. Inilah yang bisa menyebabkan banyaknya penyandang diabetes yang terkena komplikasi. 

Terkait hal tersebut-  masyarakat harus terus disadarkan akan horornya diabetes. “Diabetes adalah silent killer dan ibu dari segala penyakit atau induk dari berbagai penyakit degeneratif seperti stroke, hipertensi, jantung koroner dan disfungsi ereksi. Diabetes disebut silent killer karena banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya menyandang diabetes,” tukas Konsultan Metabolik Endokrin Dr. dr. Fatimah Eliana, SpPD, KEMD, FINASIM di sela diskusi “Gerakan Lawan Diabetes Bersama Dia”,  Rabu, (13/11/2019). 

Data Riskesdas Indonesia turut memperlihatkan peningkatan angka prevalensi Diabetes yang cukup signifikan, yaitu dari 6,9% di tahun 2013 menjadi 8,5% di tahun 2018; sehingga estimasi jumlah penyandang diabetes di Indonesia mencapai lebih dari 16 juta orang yang kemudian berisiko terkena penyakit lain, seperti serangan jantung, stroke, kebutaan dan gagal ginjal bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian. 

“Masyarakat harus sadar beberapa gejala diabetes karena terkadang tidak disadari. Beberapa gejala diabetes yang sering muncul antara lain rasa haus yang berlebihan, sering buang air kecil, sering merasa ngantuk, sering merasa lapar dan lemas,” papar Dr. dr. Fatimah lagi. 

Diagnosis dan tindakan cepat menjadi titik awal untuk hidup sehat dengan diabetes. Semakin lama diabetesnya terdiagnosis dan diobati, akibatnya akan lebih buruk bagi penyandang diabetes. Teknologi dasar seperti pemeriksaan gula darah umumnya telah tersedia di berbagai fasilitas kesehatan di negeri ini. 

Jika sudah terdeteksi, maka langsung diskusikan pola perawatan yang tepat dengan dokter, sehingga semakin kecil kerusakan akibat risiko diabetes.  “Mengontrol diabetes adalah komitmen harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Karena dengan melakukan pengontrolan dan penanganan diabetes yang tepat dapat menghindari komplikasi akibat diabetes,” lanjut Dr. dr. Fatimah.
  
Terkait hal tersebut, Diabetasol mengajak masyarakat Indonesia untuk secara bersama-sama melawan diabetes dengan cara pengaturan pola makan, konsultasi dengan tenaga medis, olahraga, serta minum obat yang diperlukan. 

Pada kesempatan yang sama, Kiki Maria Sembiring, Group Business Unit Head of Special Needs Nutrition Kalbe Nutritionals menegaskan peran Diabetasol sejak diluncurkan pada 1996 sebagai total solusi nutrisi bagi penyandang diabetes untuk membantu mereka mengatur pola makan harian. 

“Ini adalah wujud komitmen Diabetasol yang merupakan pemimpin pasar dalam kategori pangan nutrisi diabetes untuk melawan Diabetes Melitus di Indonesia secara konsisten setiap tahunnya. Pada tahun ini, Diabetasol melakukan kampanye “Lawan Diabetes Bersama Dia”. “Bersama Dia” di sini mengandung makna mengajak semua pihak terkait diabetes untuk melakukan kontribusi bersama melawan diabetes, mulai dari keluarga, teman, tenaga medis.” papar Kiki.  by