Kompetisi Makin Ketat, Fokus Edukasi Tetap Diutamakan

Jumat, 18 Okt 2019 | 17.00 WIB

Kompetisi Makin Ketat, Fokus Edukasi Tetap Diutamakan

salah satu peserta JD.ID High School League (JD.ID HSL) (Centroone)


Centroone.com - Liga esports antar-sekolah lanjutan atas se-Indonesia, JD.ID High School League (JD.ID HSL) 2019  memasuki musim kompetisi ke-2. Christian Suryadi, Business Development Director, JD.ID HSL. mengungkapkan musim ini peserta liga esports pelajar nasional ini bertambah.  Tidak hanya kuantitas peserta yang meningkat, persaingan antar tim juga bakal makin seru dengan para peserta pastinya telah mempersiapkan diri untuk meraih prestasi tertinggi di liga. 

Berkaca pada kompetisi musim sebelumnya, konsistensi mempertahankan prestasi yang berhasil diraih di sesi sebelumnya masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh kebanyakan tim esports SMA/SMK. 

SMA Marsudirini yang diawal kompetisi 2018 menduduki peringkat ketiga kompetisi DOTA 2, berhasil naik ke peringkat pertama pada musim kompetisi berikutnya. Pada JD.ID HSL 2019 musim kompetisi kedua ini, SMA Marsudirini Bekasi menjadi unggulan utama untuk kategori DOTA 2 dan harus bersiap menerima tantangan dari tim-tim esports tangguh penghuni SERI A lainnya, serta 4 tim baru yang berhasil lolos dari kualifikasi DOTA 2 yang diikuti oleh 124 Tim.

“Kami berharap, prestasi yang konsisten yang mampu diraih oleh SMA Marsudirini Bekasi dapat menjadi inspirasi dan studi kasus yang menarik bagi tim-tim lain tentang bagaimana membangun sistem pembinaan yang terus berkelanjutan. Ini penting, mengingat anggota tim esports sekolahan pastinya akan selalu berganti-ganti seiring dengan tim lama yang akan lulus sekolah,” ujar Christian Suryadi, Business Development Director, JD.ID HSL.

Untuk kategori kompetisi eksibisi PUBG Mobile, sebanyak 158 tim yang sudah terdaftar akan mengikuti kualifikasi sebanyak 4 babak. Sebanyak 20 tim terbaik PUBG Mobile hasil babak kualifikasi berhak untuk berlaga di babak utama.

“Salah satu peraturan unik JD.ID HSL yang terus kami pertahankan adalah tata cara pendaftaran dan pertandingan. Tim peserta yang ingin turut serta harus mendapatkan persetujuan resmi terlebih dulu dari pihak sekolah. Ketika bertanding, dari babak kualifikasi hinga final, mereka wajib didampingi oleh guru pembina,” tutur Christian lagi. 

Menggelar liga esport yang notabene diikuti para pelajar adalah sebuah tantangan tersendiri. Menurut Christian, ini terkait dengan persepsi masyarakat, terutama di kalangan pendidik dan orang tua, yang masih tidak tepat tentang dunia esports yang masih dihubungkan dengan kemalasan belajar dan kecanduan dalam bermain game.

“Untuk itu, di awal JD.ID HSL diselenggarakan, fokus kami adalah memberikan edukasi tentang esports sebagai bagian dari cabang olahraga prestasi yang membutuhkan kecerdasan dan kebugaran, esports sebagai industri kreatif digital baru yang menawarkan potensi ekonomi yang sangat besar, hingga memberikan edukasi tentang esports dari perspektif psikologi dan pembangunan karakter anak,” ujarnya.

“Sembari terus memberikan edukasi terkait hal-hal tersebut, mulai musim kompetisi kedua ini, fokus kami bertambah ke edukasi tentang bagaimana membangun pembinaan strategis untuk prestasi yang berkelanjutan pada tim esports sekolahan.”  tutup Christian.  by