457 Sarana Olahraga Untuk Kembangkan Bakat-Cegah Perilaku Negatif

Sabtu, 19 Jan 2019 | 23.00 WIB

457 Sarana Olahraga Untuk Kembangkan Bakat-Cegah Perilaku Negatif

Salah satu lapangan futsal milik pemkot yang dimanfaatkan anak-anak. (Windhi/Centroone)



Centroone.com - Upaya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk menghindarkan generasi muda Surabaya dari hal-hal negatif melalui olahraga, sudah bisa dibuktikan. Saat ini, upaya yang dijalankan di Surabaya adalah terbangunnya 457 sarana prasanan olahraga. Sarana ini tidak terpusat di satu tempat saja, melainkan tersebar di perkampungan hingga taman kota. 

Ini jelas komitmen pemerintah yang ingin menumbuhkan minat masyarakat untuk berolahraga. Disamping itu, pemkot juga ingin menumbuhkembangkan bibit-bibit atlet baru di berbagai bidang olahraga.
Disampaikan Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Surabaya Afghani Wardhana, fasilitas olahraga yang tersebar di Surabaya terbagi menjadi dua kriteria. Pertama, fasilitas olahraga yang sudah berpayung hukum atau di bawah naungan perda. Artinya, sebelum menggunakan fasilitas itu, pemohon akan dikenakan biaya administrasi atau sewa. Sebelum menggunakan, pemohon bisa mengajukan penggunaan fasilitas olahraga itu ke Dispora.

“Beberapa sarana prasarana olahraga kita, memang ada naungan perda atau payung hukum dengan sewa. Yakni, Gelanggang Remaja Surabaya, Gelora Bung Tomo dan Gelora 10 Nopember Tambak Sari,” beber Afghany.
Sementara, lanjut Afghany, untuk fasilitas lapangan olahraga yang lain, sifatnya gratis. Masyarakat Surabaya bisa memanfaatkan fasilitas olahraga itu tanpa dikenakan biaya administrasi. Seperti lapangan futsal, basket, volly, softball, Thor, sirkuit balap motor, hockey, sifatnya gratis.

Dia berharap, masyarakat bisa memanfaatkan sarana prasarana tersebut dengan maksimal. “Kami berharap agar warga masyarakat bisa memanfaatkan sarana olahraga itu secara maksimal. Khususnya anak-anak muda kita yang punya bakat atau talenta di bidang olahraga, agar bisa memanfaatkan untuk pembinaan olahraga,” ujarnya.

Apalagi, kata dia, bagi sekolah yang tidak mempunyai sarana prasarana olahraga, bisa memanfaatkan fasilitas olahraga itu secara optimal. Misalnya, seperti lapangan olahraga atletik berstandar internasional, sekolah bisa memanfaatkan fasilitas itu untuk kegiatan ekstrakulikuler. “Di sana bisa dimanfaatkan sekolah-sekolah itu untuk kegiatan ekstrakulikuler. Begitu juga lapangan olahraga yang lain,” imbuhnya.

Namun, dia menyampaikan, sebelum pemohon menggunakan lapangan itu, terlebih dahulu agar mengurus perizinan ke Dispora. Tujuannya, agar pihaknya bisa mengatur jadwal kapan penggunaan lapangan olahraga tersebut. Harapannya, masyarakat Surabaya yang menggunakan fasilitas olahraga itu, bisa merata. 

“Misalnya ingin menggunakan lapangan hockey, silahkan ajukan dahulu ke Dispora. Ada isian blangko yang harus diisi dan beberapa aturan yang harus ditaati. Kita cek jadwal, jika tidak ada yang menggunakan, maka surat izin langsung keluar dan bisa digunakan,” jelasnya.

Terkait dengan masalah perawatannya, Afghany menyampaikan, masyarakat Surabaya tidak perlu khawatir. Sebab, pihaknya memastikan, seluruh perawatan fasilitas olahraga akan dilakukan oleh Dispora. Masyarakat Surabaya tinggal memanfaatkan fasilitas olahraga tersebut secara maksimal.

Namun, dia juga berpesan kepada masyarakat, agar turut serta membantu pemerintah menjaga fasilitas olahraga tersebut. “Kalau ada kerusakan-kerusakan, nanti masyarakat bisa menyampaikan ke Dispora dan segera akan kami tindaklanjuti,” katanya.

Afghany menuturkan bagi masyarakat yang menggunakan fasilitas olahraga yang bersifat gratis, pemanfaatannya tidak boleh dimonopoli atau dikuasai pihak tertentu. Seperti lapangan basket, volly ataupun sirkuit balap motor. Namun, jika di lapangan ditemukan adanya hal tersebut, dia mengimbau kepada masyarakat agar melaporkan ke Dispora. “Kalau ada seseorang atau oknum tertentu yang menarik retribusi atau memonopoli, silahkan laporkan ke Dispora,” pesannya.

Sementara Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya M Fikser menambahkan jumlah fasilitas olahraga di Surabaya terus bertambah. Dalam tiap tahun, rata-rata bertambah sekitar 60 sarpras olahraga. Karena, dari awal Pemkot Surabaya ingin memberikan ruang kepada anak-anak dan masyarakat agar mengembangkan bakat dan minat di bidang olahraga.

“Dan ke depan jumlahnya pasti akan bertambah. Jadi memang bu wali sengaja memberikan fasilitasi ini, agar anak-anak muda Surabaya bisa menyalurkan bakatnya,” kata Fikser.

Fikser mencontohkan seperti sirkuit balap motor yang ada di Benowo, dari awal Pemkot Surabaya ingin memfasilitasi anak-anak muda supaya tidak lagi balapan liar di jalan. Paling tidak, ada wadah bagi anak-anak muda penghoby balap motor untuk menyalurkan bakatnya. Sehingga, mereka tidak lagi membahayakan diri sendiri, bahkan merugikan orang lain.

“Sirkuit balap motor ini penggunaanya tidak bayar, baik kelompok atau perorangan, mereka bisa datang kapan saja memanfaatkan sirkuit balap itu. Namun, ada standart aturan-aturan yang harus ditaati,” pungkasnya. (windhi/by)


...
0



There are 0 comments in this current article