Air Mineral Lebih Baik Dari Air Jenis Lain

Senin, 30 Sep 2019 | 23.57 WIB

Air Mineral Lebih Baik Dari Air Jenis Lain

dr Tria Rosemiarti, dr Nurul dan dr Diana. (Windhi/Centroone)


Centroone.com - Dalam seminar Hydration Talk yang digelar Indonesian Hydration Working Group (IHWG) dan Aqua di JW Marriott Hotel Jl Embong Malang Surabaya, Senin (30/9/2019), terungkap jika air mineral dalam kemasan masih lebih baik dari air jenis lain. Air jenis lainnya seperti air demineral, air oksigen dan air alkali (pH tinggi).

Sejak 2012, IWGH telah melakukan kajian dengan kelompok kerja hidrasi sehat. Bahkan kelompok ini sudah melakukan perubahan perilaku minum air yang dimulai dari anak. Melalui gerakannya yang dinamakan AMIR (Ayo Minum Air). Gerakan itu juga tak hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk ibu yang menyusui.

Dalam seminar yang menghadirkan tiga narasumber, Ketua Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr Nurul Ratna Mutu Manikam M.Gizi Sp.GK, Ketua IHWG Dr dr Diana Sunardi M.Gizi Sp.GK dan Hydration Science Director PT Tirta Investama (Danone-AQUA) dr Tria Rosemiarti, menegaskan jika perlu edukasi untuk masyarakat. Sebab, banyak hoax disebarkan dari berbagai pemilik merek air kemasan. Tentunya itu terkait keunggulan produknya, seperti air demineral, air oksigen dan air alkali dengan pH tinggi.

“Ada yang menyebutkan jika air alkali mampu melawan penyakit kanker. Hal ini jelas hoax. Ada juga yang menyebutkan jika air beroksigen baik digunakan untuk olahragawan, itu juga tak benar. Padahal untuk olahragawan itu tergantung dengan makanan yang dikonsumsi. Masalah melawan hoax seperti ini yang harus disampaikan ke masyarakat,” ujar Ketua IHWG Dr dr Diana Sunardi.

Terkait masalah edukasi atau sosialisasi air mineral itu lebih dibutuhkan tubuh yang dinilai terlambat dan hal tersebut bisa memunculkan tudingan persaingan bisnis, dr Nurul menjelaskan bahwa itu berhubungan dengan lamanya penelitian. “Penelitian masalah air mineral ini memang panjang. Bahkan saat penelitian yang berlangsung lama, justru muncul hoax di masyarakat tentang keunggulan air oksigen, air alkali dan air demineral. Ini bukan karena persaingan bisnis, tapi karena ini lebih mementingkan edukasi yang benar ke masyarakat. Kita harus mencari bukti ilmiah untuk bisa bicara masalah air mineral, agar ada bukti dan data,” tukas dr Nurul.

Dia menambahkan, dikatakan perang merk ini karena banyak perang klaim. “Ini harus dibuktikan secara ilmiah, jangan asal klaim tentang keunggulan air. Sebanyak 80 persen info kesehatan tentang air itu, justru banyak yang hoax, over claim. Karena itu juga muncul Permenkes 492 tentang air minum dalam kemasan, bahwa air itu harus ada SNI dan BPOM-nya,” tambah dia.

Air mineral merupakan air minum dalam kemasan paling mudah ditemukan di pasaran. Air mineral mengandung mineral-mineral dalam jumlah tertentu tanpa menambahkan mineral, sesuai dengan yang diatur dalam SNI yang berlaku. Dalam air mineral terdapat kandungan natrium, kalsium, zinc, florida, magnesium, kalium, dan silica yang dibutuhkan oleh tubuh. Sementara untuk jenis air demineral, air dengan pH tinggi, maupun air dengan tambahan kandungan oksigen, masih memerlukan dukungan kajian ilmiah lebih lanjut untuk mengetahui bahwa jenis-jenis air tersebut dapat memberikan manfaat kesehatan lain.

Dari data Badan Kesehatan Dunia (WHO) , mengonsumsi air yang tidak mengandung mineral dapat meningkatkan risiko osteoporosis, hipertensi, serangan jantung, dan hipotiroid. Penting diingat bahwa dalam memilih air minum untuk memenuhi hidrasi sehat, mengonsumsi air mineral biasa saja sangat bermanfaat untuk mendukung upaya menjaga kesehatan tubuh. (windhi/by)