Ambulance NETSS Mampu Tekan Kematian Bayi

Senin, 13 Mei 2019 | 23.59 WIB

Ambulance NETSS Mampu Tekan Kematian Bayi

Ambulance NETSS. (Windhi/Centroone)



Centroone.com - Melalui ambulance Neonatal Emergency Transport System Surabaya (NETSS), Pemkot Surabaya mampu menekan angka kematian bayi baru lahir. Upaya itu terus dilakukan dengan memaksimalkan fungsi dan kegunaan ambulance darurat untuk bayi. Terbukti, dengan adanya ambulance ini angka kematian bayi yang baru lahir bisa ditekan hingga 0,7 permil.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Surabaya Yohana Sussie E menjelaskan, ambulance NETSS ini sudah dioperasikan sejak 2017 hingga saat ini. Sejak dioperasikan, ambulance yang ada di Rumah Sakit Soewandhi itu sudah mampu menekan angka kematian bayi. “Kekurangannya sekitar 0,7 permil, karena penyebab kematian itu bermacam-macam,” kata Yohana saat jumpa pers di Kantor Humas Pemkot Surabaya, Senin (13/5/2019).

Menurut Yohana, berdasarkan data yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan, ambulance ini sudah menangani sebanyak 43 pasien bayi pada 2017. Sedangkan pada 2018, sudah menangani 30 pasien bayi. “Khusus untuk 2019 hingga Mei, ambulance ini menangani tujuh pasien bayi. Kami juga sangat bersyukur karena semua yang kami tangani selamat semuanya,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, pengadaan mobil ini memang untuk menekan angka kematian bayi yang ternyata cukup tinggi di Indonesia, termasuk di Surabaya. Ambulance NETSS ini merupakan ambulance satu-satunya di Kota Surabaya bahkan Indonesia sejak 2017, karena peralatan yang ada di dalamnya sangat lengkap.

“Idenya mengingat angka kematian bayi baru lahir yang masih cukup tinggi, sehingga ambulance ini kami siapkan untuk bayi baru lahir yang mempunyai masalah dengan pernafasan. Nah ini perlu ada suatu penanganan khusus,” kata Yohana.

Sementar Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Soewandhi Rinche Pangalila mengatakan, hingga saat ini Kota Surabaya baru memiliki satu ambulance khusus ini. Sebab, peralatan yang ada di dalam ambulance ini sangat lengkap, diantaranya inkubator beserta kelengkapan alat dan obat, ventilator beserta kelengkapan alat dan obat, peralatan dan obat untuk resusitasi bayi baru lahir termasuk jackson rees dan T piece resusiator, juga pacu jantung.

“Kami menyiapkan alat yang lengkap di ambulance itu, supaya bayi bisa mendapatkan penanganan yang optimal saat berada di dalam ambulance NETSS. Apa yang diperlukan bisa ditangani sebelum tiba di RS rujukan,” lanjut Rince.

Selain kelengkapan alat, Dinkes juga menyiapkan tenaga medis yang handal dan terlatih untuk menangani kedaruratan pada bayi. Bahkan, dia memastikan bahwa ambulance ini dioperasian oleh tim khusus yang sudah terlatih. Dia juga mengaku sudah berkali-kali melatih tenaga medis atau perawat yang ada di puskesmas atau rumah sakit swasta yang ada di Surabaya. “Jadi, kami bukan hanya menyediakan ambulancenya, tapi kami juga menyiapkan SDM khusus untuk menangani kedaruratan pada bayi. Sekali jalan, ambulance ini akan ada sopir, dokter dan perawatnya yang sudah terlatih,” imbuhnya.

Kepala SMF Anak atau dokter spesialis anak di RS Soewandhi Radix Hardiyanto sangat mengapresiasi fasilitas ambulansce ini. Sebab, dengan adanya ambulance ini bayi yang mengalami kedaruratan bisa terbantu.

“Ambulance itu luar biasa karena ada inkubator transport jadi mampu menjaga suhu tubuh bayi tetap stabil. Ventilator transport, kita punya tindakan bantuan nafas selama perjalanan. Dan itu tidak dimiliki oleh rumah sakit lain. Selama penjemputan kami memastikan mereka bisa bermafas dengan baik,” kata Radix.

Dia juga memastikan bahwa cara kerja ambulance ini tidak asal-asalan. Sebab, apabila ada bayi yang perlu dirujuk ke rumah sakit lain, maka dokter anak yang menangani akan menghubungi Rumah Sakit Soewandhi untuk mengantar penjemputan. Sebelum dilakukan penjemputan, bayi itu sudah harus dipastikan perawatannya dan sudah dipersiapkan untuk pemindahannya atau rujukannya.

“Bahkan, kami juga harus memastikan dulu akan dirujuk kemana? Setelah ada kejelasan, baru kami jemput dan rumah sakit itu harus menyiapkan bayi tersebut supaya aman untuk dipindahkan selama perjalanan,” kata dia.

Minimal, lanjut dia, bayi tersebut harus stabil pernafasannya dan bisa dikontrol selama perjalanan. Melalui sistem seperti ini, dia bersyukur, banyak pasien bayi yang selamat karena peralatan yang ada di dalam ambulance itu sangat maksimal untuk melakukan perawatan. “Jadi, kami tidak asal-asalan, apalagi ini sekali jalan biayanya cukup tinggi, bisa mencapai Rp2,5 juta hingga Rp3 jutaan, tergantung tindakannya. Dan itu semua ditanggung oleh Pemkot Surabaya. Saya selaku spesialis anak sangat senang dan support inovasi ini,” pungkasnya. (windhi/by)