Buka Prodi S1 Studi Pembangunan Didukung Teknologi

Kamis, 07 Feb 2019 | 06.32 WIB

Buka Prodi S1 Studi Pembangunan Didukung Teknologi

Dekan Fakultas Bisnis dan Manajemen Teknologi (FBMT) ITS Prof Dr Ir Udisubakti Ciptomulyono MEngSc (windhi/centroone)


Centroone.com - ITS ingin menghilangkan jarak antara berbagai disiplin keilmuan dengan elemen masyarakat, terkait pembangunan. Untuk itu, pada 2019, institut kebanggaan Surabaya ini membuka program studi (Prodi) jenjang sarjana (S1) Studi Pembangunan.

Dekan Fakultas Bisnis dan Manajemen Teknologi (FBMT) ITS Prof Dr Ir Udisubakti Ciptomulyono MEngSc menegaskan, Prodi S1 Studi Pembangunan (SP) yang masuk dalam kelompok sosial humaniora (soshum) ini berbeda dengan prodi Ekonomi Pembangunan yang sudah ada di sejumlah perguruan tinggi lain. “Bila yang ada selama ini lebih difokuskan pada pembangunan ekonomi, sedang Prodi S1 SP di ITS ini lebih mengedepankan pembangunan di bidang sosial dengan didukung teknologi sesuai latar keilmuan di ITS,” jelasnya.

Dosen Teknik Industri ITS ini mengatakan, pendirian Prodi S1 SP ini merupakan jawaban atas permasalahan yang terus-menerus terjadi dalam proses pembangunan negeri. Seperti pembangunan yang sering diambil langkah hanya berdasar satu atau dua dimensi keilmuan. 

“Sehingga terjadi pembangunan yang kurang sesuai dengan masyarakat sebagai target pembangunan itu sendiri,” ungkapnya, Rabu (6/2/2019).
Dengan latar belakang tersebut, tim pendiri Prodi S1 SP yang terdiri dari enam dosen ITS melanjutkan usaha pendirian prodi baru yang telah diwacanakan sejak tiga periode pergantian rektor ITS. Prodi ini merupakan disiplin ilmu yang mempelajari, menganalisa, menentukan dan memutuskan segala hal yang berhubungan dengan proses pembangunan.

Prodi ini memiliki tiga pilar utama yakni ekonomi, sosial dan hukum. Melalui tiga pilar ini, Prodi S1 SP bertujuan menciptakan platform pembangunan dengan memperhatikan serta lebih dekat kepada masyarakat. Prodi baru ini juga akan melibatkan wawasan maritim. “Hal ini mengingat ITS merupakan perguruan tinggi yang fokus dalam pengembangan maritim di Indonesia,” ujarnya.

Di Indonesia, prodi SP seperti di ITS ini memang masih asing bagi masyarakat. Di luar negeri, prodi ini sudah dipelajari diberbagai kampus-kampus besar. Untuk metode pembelajaran, prodi ini mengambil contoh dari University of Newcastle, Australia. Harapannya, ITS bisa jadi percontohan bagi perguruan tinggi lainnya. Prodi ini mulai dibuka tahun ini dan dapat dimasuki para calon mahasiswa baru angkatan 2019. 

Jalur masuk yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan prodi-prodi lain di ITS, yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan jalur Program Kemitraan dan Mandiri (PKM). Untuk SBMPTN, prodi ini tergolong dalam kelompok Soshum. 
Sedangkan kuota penerimaan mahasiswa angkatan pertama tahun 2019 ini sebanyak 50 orang mahasiswa baru yang berasal dari tiga jalur tersebut. Yakni sebanyak 15 kursi dari jalur SNMPTN, 20 kursi dari jalur SBMPTN serta 15 kursi dari jalur PKM.

Prospek kerja yang bisa diambil lulusan prodi ini mencakup Praktisi Pembangunan, Asisten Peneliti serta Wirausahawan. Lulusan S1 Studi Pembangunan ini juga bisa menjadi pendamping pemberdayaan masyarakat, manajer pengembangan masyarakat (community development) ataupun penanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility). (windhi/by)