Jadi Buronan Kejaksaan, WW Ditangkap Di Kenjeran

Rabu, 09 Jan 2019 | 10.04 WIB

Jadi Buronan Kejaksaan, WW Ditangkap Di Kenjeran

Proses eksekusi WW di Jl Kenjeran. (ist)


Centroone.com - Buronan Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, mantan Ketua DPRD Surabaya Wisnu Wardhana atau akrab disapa WW, akhirnya tertangkap, Rabu (9/1/2019) pukul 06.15 WIB. Tersangka kasus dugaan korupsi aset BUMD Jatim, PT Panca Wira Usaha, tertangkap di Jl Kenjeran. Bahkan dalam penangkapan itu, kendaraan yang digunakan WW sempat menabrak dan melindas sepeda motor petugas kejaksaan yang mencegatnya.

WW yang kurang lebih sudah sebulan menjadi buronan Kejaksaan menggunakan kendaraan Daihatsu Sigra M-1732-HG yang dikemudikan anaknya. Saat ditangkap, Wisnu mengenakan jaket, topi dan masker. Menurut informasi dari salah satu staf Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, saat penangkapan WW, anak WW yang menjadi sopir sempat melakukan perlawanan dengan menabrak sepeda motor anggota Kejari yang menghadang hingga terlindas dan masuk dalam kolong mobil. Namun petugas itu selamat dan hanya mengalami lecet-lecet.

Saat dicegat hendak ditangkap, WW enggan membuka pintu mobilnya. Lebih lanjut, dikatakan petugas Kejaksaan, WW mau keluar dari mobilnya setelah diancam petugas bahwa kaca mobil akan dipecahkan dan pintu dibuka paksa. Dengan dipimpin langsung Kajari Surabaya Teguh Darmawan dan Kasie Intel I Ketut Kasna, penangkapan koruptor itu pun berhasil dijalankan Kejari Surabaya. 

Penangkapan atau eksekusi WW ini merupakan tindak lanjut dari putusan Mahkamah Agung (MA) atas kasasi Kejaksaan. Dalam putusan tersebut, WW divonis enam tahun penjara. Dia juga diharuskan membayar denda Rp200 juta subsider enam bulan penjara. WW juga harus membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp1,5 miliar.

Sebelumnya, WW divonis bersalah terkait dugaan korupsi aset BUMD Jatim PT Panca Wira Usaha. WW dalam sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya pada 2017 lalu divonis majelis hakim pidana tiga tahun penjara, membayar denda Rp200 juta dan uang pengganti Rp 1,5 miliar. Hal itu tertuang dalam Putusan PN bernomor 243/Pid.sus.TPK/2016/PN.SBY tanggal 7 April 2017, dengan amar putusan pidana penjara selama tiga tahun dan denda sebesar Rp200 juta subsider dua bulan dan uang pengganti Rp1.566.150.733 subsider satu tahun penjara.

Rupanya atas putusan itu, WW mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jatim dan divonis satu tahun penjara. Dengan Putusan PT Nomor 50/Pid.sus-TPK/2017/PTSBY tanggal 31 Agustus 2017 dengan amar putusan pidana penjara selama satu tahun dan denda Rp100 juta subsider satu bulan dan membayar uang pengganti sebesar Rp628.650.733 subsider empat bulan penjara.

Selanjutnya giliran Kejaksaan yang mengajukan kasasi ke MA atas putusan PT Jatim tersebut. WW diduga terlibat dugaan korupsi pelepasan dua aset PT PWU di Kediri dan Tulungagung pada 2013. Saat itu, WW yang menjabat sebagai kepala biro aset dan ketua tim penjualan aset PT PWU dianggap menjual aset yang tak sesuai prosedur.

Dalam kasus ini, WW tidak sendirian. Nama mantan Menteri BUMN periode 2011 hingga 2014 Dahlan Iskan juga ikut terseret dalam pusaran kasus ini. Sebab, pada saat itu Dahlan menjabat sebagai Direktur PT PWU. Di tingkat Pengadilan Tipikor Surabaya, Dahlan dinyatakan bersalah dan divonis selama dua tahun penjara dan denda Rp200 juta pada April 2017 lalu. Mantan direktur utama PT PLN pun hanya menjalani tahanan kota. Tak terima dengan vonis ini, Dahlan mengajukan banding. Di tingkat Pengadilan Tinggi (PT) Jatim, Dahlan divonis bebas. Atas Vonis ini, Kejaksaan pun melakukan upaya kasasi ke MA.

WW sebagai terpidana dieksekusi berdasarkan putusan MA 1085 K/Pid.sus/2018 tertanggal 24 September 2018. Dalam amar putusan itu menjatuhkan pidana penjara selama enam tahun dan denda sebesar Rp200 juta subsider enam bulan penjara dan uang pengganti sebesar Rp1.566.150.733 subsider tiga tahun penjara. (windhi/by)