Rangkul 53 Anak Bermasalah Untuk Kembali Sekolah

Sabtu, 05 Jan 2019 | 21.00 WIB

Rangkul 53 Anak Bermasalah Untuk Kembali Sekolah

Wali Kota Risma memberi motivasi untuk anak-anak putus sekolah. (Windhi/Centroone)



Centroone.com - Sebanyak 53 anak yang bermasalah pendidikan dan kesejahteraan sosial, diberi wejangan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Dalam treatmen khusus itu, wali kota menemui langsung anak-anak untuk diberikan pembinaan secara psikologis, agar anak-anak ini mau melanjutkan pendidikannya.

Wali Kota Risma mengatakan, setelah dilakukan outreach ke rumah masing-masing, diketahui bahwa anak-anak itu mempunyai berbagai permasalahan sosial. Sehingga, beberapa anak-anak itu mengalami masalah putus sekolah. “Anak-anak ini tertangkap Satpol-PP dan setelah kita outreach, dia memang tidak sekolah,” kata Wali Kota Risma.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Risma juga menghadirkan beberapa anak yang dulunya sempat putus sekolah, namun kini telah sukses dan berhasil bekerja di tempat yang lebih baik. Dengan harapan, agar anak-anak putus sekolah ini termotivasi untuk kembali melanjutkan pendidikannya.

Menurutnya, kebanyakan anak-anak putus sekolah ini menjalani kehidupannya dengan cara mengamen dan bekerja serabutan.  Kendati demikian, Wali Kota Risma ingin agar ke depan, anak-anak itu bisa kembali sekolah dan merubah hidupnya menjadi lebih baik. Jangan sampai hal itu menular ke anak-anak yang lain.

Wali Kota Risma mengungkapkan, ada salah satu anak yang usianya masih 7 tahun dan selama ini tidak sekolah karena diajak oleh pamannya mengamen. Kendati demikian, Wali Kota Risma pun mengambil langkah tegas untuk menjadikannya sebagai anak asuhnya. Nantinya, dia akan dirawat dan disekolahkan oleh Pemkot Surabaya.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Surabaya Chandra Oratmangun menambahkan, 53 anak yang dilakukan pembinaan itu, diketahui mempunyai berbagai permasalahan sosial. Beberapa anak-anak itu, tertangkap saat ngamen, bolos sekolah, hingga tertangkap menjadi pekerja di warung sekitaran jembatan kaki Suramadu, padahal masih berusia di bawah umur.

“Mereka rata-rata usia 14-15 tahun dan mereka putus sekolah. Sehingga tadi dikumpulkan, dimotivasi sehingga mereka mau sekolah lagi,” katanya.
Sementara bagi yang ingin bekerja, akan difasilitasi untuk mengikuti training atau pelatihan di Surabaya Hotel School (SHS). “Kalau dia ndak mau sekolah lagi, kita arahkan kejar paket. Tapi kalau dia mau sekolah, kita kembalikan ke sekolah asalnya,” pungkasnya. (windhi/by)