Era 4.0, Masyarakat Harus Mumpuni Teknologi

Jumat, 31 Ags 2018 | 06.00 WIB

Era 4.0, Masyarakat Harus Mumpuni Teknologi

Dr Yanuar Nugroho Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Sosial, Budaya dan Ekologi Strategis. (Windhi/Centroone)


Centroone.com - Globalisasi yang masuk ke negara kita sangat pesat dan disertai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0 yang selalu menekankan pada pola digital disegala lini. Hal ini disikapi Fakultas Bisnis dan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), menggelar kuliah umum dengan tema Skill-Shift (Pergeseran Keahlian) di Era Ekonomi Digital.

Era 4.0 (revolusi industri keempat) dicirikan oleh kompleksnya persoalan yang akan dihadapi penduduk dunia. Semua jenis pekerjaan akan semakin kompleks. Hal ini disebabkan kombinasi globalisasi dengan teknologi informasi yang kecepatan perkembangannya sangat di luar dugaan. Untuk dapat berkiprah di era 4.0 diperlukan kecakapan menangani persoalan yang kompleks.

Dalam kuliah umum itu, Fakultas Bisnis dan Fakultas Ilmu Komunikasi menghadirkan pembicara, Dr Yanuar Nugroho Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Sosial, Budaya dan Ekologi Strategis. “Diikuti 400 mahasiswa dari Fakultas Bisnis dan Ilmu Komunikasi, melalui kuliah umum ini mahasiswa sebagai generasi milenial dituntut untuk menyadari dan menyiapkan diri dalam menghadapi era revolusi industri 4,0,” tutur Dr Lodovicus Lasdi MM Ak CA, selaku Dekan Fakultas Bisnis UKWMS.

Materi Yanuar berangkat dari tanda-tanda zaman, ketika digital mulai masuk dalam kehidupan manusia. Pengguna internet di seluruh dunia yang terus bertambah, hingga percepatan pertumbuhan pengguna teknologi. Beberapa hal penanda revolusi industri 4.0 diantaranya, menyatunya dunia fisik, digital dan biologis secara daring, dimana perangkat ponsel pintar sudah mampu menghitung berapa langkah kita berjalan, kalori yang masuk dalam tubuh. Penyimpanan memori atau data sekarang tidak perlu menggunakan hard drive yang harus dibawa kemana-mana, melainkan bisa menggunakan sistem cloud.

Yanuar menjelaskan bahwa pergeseran keahlian bukanlah menjadi masalah namun tantangan bagi generasi muda yang ada, untuk menjadi lebih kreatif dan mampu mengingkatkan kemampuan dirinya. Karena jika kita tidak mau beradaptasi, dengan mudahnya hal-hal yang bisa kita lakukan akan digantikan oleh robot. Hal ini merupakan salah satu dampak dari revolusi industri 4.0, ketika jutaan pekerjaan akan berkurang digantikan oleh mesin, robot, kecerdasan buatan dan perangkat komputasi.

Kecanggihan teknologi justru harus menjadi kekuatan untuk mencari peluang di masa depan. “Mudahnya saja usaha seperti airbnb bisa mempunyai keuntungan yang berlimpah, padahal mereka tidak mendirikan hotel namun hanya menjadi perantara antara pemilik hotel dan pelanggan. Contoh yang lain juga di dunia perbankan, jumlah orang yang menggunakan online banking lebih banyak daripada yang datang ke bank secara langsung,” ujar Yanuar.

Jadi, kita harus menjadi lebih peka dalam melihat kebutuhan pekerjaan, keterampilan apakah yang lebih dibutuhkan dan tinggalkan yang bisa dikerjakan oleh robot. “Universitas pun harus mempertimbangkan kembali kurikulum yang akan digunakan agar relevan dengan era digital ini, atau mungkin membuka program studi baru yang membantu mahasiswa menghadapi tantangan digital,” tutur Yanuar dihadapan para mahasiswa. 

Yanuar menambahkan, kerangka kebijakan disini harus visioner dan antisipatif, kerangka institusi harus fleksibel dan kerangka akuntabilitas yang terbuka. Tak bisa dipungkiri, karena era digital saat ini juga menimbulkan tegangan kebijakan antara yang kovensional dengan daring.

“Perkara sekarang ini bukan teknologinya, anda suka atau tidak suka teknologi akan berjalan terus, akan selalu berkembang. Teknologi adalah teknologi. Jangan menyalahan teknologi kalau Anda mengalami kesulitan. Memiliki perangkat berarti harus mengerti digital,” pungkasnya. (windhi/by)