Lawan Teroris Sejak Dini, BNPT Bekali Mahasiswa Baru ITS

Rabu, 15 Ags 2018 | 06.00 WIB

Lawan Teroris Sejak Dini, BNPT Bekali Mahasiswa Baru ITS

Kepala BNPT Brigadir Jenderal Polisi Ir Hamli ME saat kuliah umum di hadapan mahasiswa baru ITS. (Windhi/Centroone)


Centroone.com - Untuk membentengi mahasiswa dari paham radikalisme, ITS Surabaya mengundang Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia Brigadir Jenderal Polisi Ir Hamli ME, untuk menyampaikan kuliah umum bertema Strategi Pencegahan Terorisme di Perguruan Tinggi dalam acara Pengukuhan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2018/2019 di Graha Sepuluh Nopember ITS, Selasa (14/8/2018). BNPT mengajak mahasiswa untuk waspada dan melawan bahaya terorisme sejak dini.

Hamli mengawali penjelasannya dengan menyampaikan, terorisme merupakan permasalahan yang berskala internasional. Terlebih lagi di daerah yang sering terjadi konflik seperti Suriah dan Afghanistan. “Pelaku terorisme menganggap daerah tersebut merupakan lahan subur untuk melakukan aksi-aksi mereka,” terang pria kelahiran Juli 1962 ini.

Ditegaskan Hamli, aksi-aksi terorisme memiliki dampak yang sangat buruk, di antaranya mengakibatkan kerugian material yang sangat besar dan telah menyengsarakan masyarakat. “Mulai dari kehilangan harta, tempat tinggal, bahkan tidak sedikit yang kehilangan saudara-saudaranya karena telah meninggal akibat terorisme,” tandasnya.

Pria yang menjabat sebagai Direktur Pencegahan BNPT sejak 7 Februari 2017 ini menyampaikan, berdasarkan riset oleh Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP) pada tahun 2012 menyebutkan, 45 persen motif aksi teror adalah ideologi agama. “Banyak dari pelaku aksi teror juga merupakan korban dari pemahaman-pemahaman yang salah yang ditanamkan pada diri mereka, seperti memaknai jalan satu-satunya jihad adalah perang,” paparnya.

Selain itu, lanjutnya, narasi radikalisme dan intoleransi yang sangat kuat mengitari masyarakat juga merupakan penyebab utama timbul konflik dalam masyarakat. Narasi-narasi tersebut di antaranya narasi militansi yang menanamkan kebencian terhadap yang lain, narasi keterancaman, narasi teori konspirasi tentang terorisme, narasi umat yang diperlakuan tidak adil dan narasi intoleransi terkait sentiment keagamaan. “Narasi-narasi tersebut masih menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang berpotensi mengarah pada terorisme,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi potensi-potensi ancaman tersebut, BNPT telah menyusun strategi pencegahan radikal teror di perguruan tinggi yang diharapkan dapat diterapkan oleh setiap perguruan tinggi, termasuk di ITS. Dia juga mengajak kepada seluruh mahasiswa baru ITS untuk turut berkontribusi dalam pelaksanaan pencegahan radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Menurutnya, Perguruan Tinggi merupakan tempat yang sangat tepat untuk dapat mencerdaskan generasi bangsa agar mewaspadai tentang bahaya ancaman-ancaman terorisme. Karena pemuda dan mahasiswa rentan terpapar paham radikalisme. Hal ini dibuktikan, sebagian besar pelaku-pelaku terorisme di Indonesia merupakan seorang pemuda. “Oleh karena itu, ujung tombak yang paling tepat untuk melawan terorisme juga adalah pemuda,” imbuhnya.

Di akhir kuliah umum ini, Hamli juga mengundang Yudi Zulfahri, seorang mantan teroris yang pernah menjadi bagian dari pendukung Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memberikan testimoni di hadapan para mahasiswa mengenai pengalamannya.

Yudi menceritakan bahwa dirinya dulu merupakan pelajar dan mahasiswa biasa yang juga membenci terorisme. Namun, setelah dia mengikuti sebuah kelompok pengajian tertentu, semakin lama dia tidak sadar jika dirinya telah dihanyutkan oleh pemahaman yang menganggap bahwa ajaran yang diterimanya adalah yang paling benar dan ajaran yang lain adalah salah.

Berdasarkan pengalamannya tersebut, dia mengimbau kepada para mahasiswa agar menjauhi pemahaman-pemahaman yang mengarah kepada intoleransi dan merasa paling benar sendiri serta suka memvonis sesat di luar kelompok atau pemahamannya.

Untuk membagikan pengalamannya agar tidak ada lagi pemuda yang terjerumus dalam terorisme, Yudi sekarang menjadi Direktur dari Yayasan Jalin Perdamain yang fokus mengadakan sosialisasi-sosialisasi pencegahan terorisme di sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia.

Penjelasan dari Brigjen Hamli dan Yudi Zulfahri menarik antusiasme dari 4.994 mahasiswa baru ITS tahun akademik 2018/2019 tersebut. Yang terdiri dari 3.647 program sarjana, 642 program vokasi, dan 705 program pascasarjana. Mereka secara resmi dikukuhkan menjadi mahasiswa ITS oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof Dr Ir Heru Setyawan MEng yang bertindak mewakili Rektor ITS yang sedang berhalangan hadir. (windhi/by)