Penerapan Perwali Tak Berjalan, Sekolah Swasta Kekurangan Murid

Sabtu, 28 Jul 2018 | 16.00 WIB

Penerapan Perwali Tak Berjalan, Sekolah Swasta Kekurangan Murid

ilustrasi pelajar di salah satu sekolah di Surabaya (Centroone)


Centroone.com - Ada dugaan pelaksanaan amanat Perwali Kota Surabaya 47/2013 tentang Wajib Belajar tak dijalankan dengan benar. Akibatnya, saat ada penerimaan peserta didik baru (PPDB), justru yang terimbas adalah SMP swasta di kota ini yang justru kekurangan murid. 

Disebutkan dalam Perwali itu, salah satunya mengatur tentang besaran jumlah siswa yang masuk ke sekolah-sekolah negeri melalui jalur mitra warga. Namun pada kenyataannya, Perwali itu banyak yang dilanggar.

Memang, jalur mitra warga (khusus anak warga tak mampu) diatur dalam Perwali itu. Namun pelaksanaannya tetap harus sesuai aturan. Saat ini, pada PPDB yang dijalankan, justru terkesan pemenuhan mitra warga seperti digerojok. 

Sayangnya, pihak wakil rakyat, sampai saat ini belum memiliki data jumlah pelajar di seluruh sekolah negeri. Komisi D DPRD Surabaya bahkan melakukan komunikasi dengan Dinas Pendidikan, namun belum ada kepastian kapan data itu diberikan ke dewan. ”Banyak kepala sekolah mengadu mengenai masalah ini, ya kita sampaikan. Rata-rata mengeluhkan kurangnya siswa di tiap rombongan belajar (rombel) yang disediakan,” kata Ibnu Shobir, anggota Komisi D. 
Dia mengatakan, jika kondisi semacam ini terus dibiarkan, maka sekolah-sekolah swasta terancam bangkrut. Sebab, kata dia, dengan jumlah siswa yang tidak mencukupi maka kondisi dan sistem mengajar para tenaga pendidik jelas terpengaruh.

Dia berharap Dinas Pendidikan bersedia membuka data mengenai partisipasi siswa yang masuk ke sekolah-sekolah negeri dari semua jalur. ”Biasanya kan diumumkan di tiap sekolah, jumlah siswa berapa masuk dari jalur ini dan jalur itu berapa, sehingga kita bisa memastikan tidak ada aturan yang dilanggar. Namun sampai kini belum ada data itu,” katanya.

Selain karena sistem PPDB yang dinilai banyak melanggar aturan, lanjut dia, berkurangnya jumlah siswa di sekolah-sekolah swasta juga karena banyaknya pembangunan sekolah negeri. Saat ini, kata dia, ada lebih dari 62 SMP Negeri yang ada di Surabaya dari jumlah sebelumnya yang hanya sekitar 50-an. ”Ini menyedot habis siswa-siswa di sekolah swasta,” katanya.

Dari pengaduan para kepala sekolah menyebutkan, ada beberap sekolah yang muridnya berkurang mencapai ratusan orang. ”Bayangkan kalau setiap rombel atau kelas idealnya 23 siswa, berapa kelas yang kosong di sekolah-sekolah swasta, ujung-ujungnya banyak sekolah yang rombel-nya tidak ideal, melebihi kapasitas atau bahkan kurang,” katanya.

Dia berharap, Pemkot Surabaya tidak tinggal diam dengan membiarkan kondisi seperti ini. Sebab, apabila tidak ada penanganan maka bisa dipastikan sekolah-sekolah swasta yang dilindungi dalam menggelar kegiatan belajar mengajar akan bubar. (windhi/by)