Elektabilitas Khofifah-Emil Meroket Meninggalkan Gus Ipul-Puti

Jumat, 22 Jun 2018 | 20.00 WIB

Elektabilitas Khofifah-Emil Meroket Meninggalkan Gus Ipul-Puti

Direktur Utama SSC Mochtar W Oetomo (WIndhi/Centroone)



Centroone.com - Elektabilitas pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur di Jatim, terus dipantau sejak Desember 2017 – Juni 2018. Ini dilakukan Surabaya Survey Center (SSC) terhadap sampel 1.070 responden di Jatim. Hingga saat ini, elektabilitas pasangan nomor urut 1, justru semakin meningkat. Padahal banyak isu miring yang diarahkan pada pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil L Dardak tersebut.

Lembaga riset SSC ini konsisten melakukan tracking survey untuk melihat pergerakan, trend dan dinamika perilaku memilih di Jatim sejak setahun lalu mulai Juni 2017, Desember 2017, April 2018 dan Juni 2018. Tracking survey ini penting bagi SSC, tidak saja sebagai komitmen untuk konsisten mengawal reformasi Pemilu dan politik lokal sebagaimana diniatkan diawal pendiriannya, tetapi juga dalam rangka mengukuhkan peran aktif dalam mendorong kualitas Pemilukada di Jatim.

Dari hasil survey SSC, elektabilitas pasangan nomor 1 (KIP-Emil) sejak Desember 2017, April hingga Juni 2018 terus meningkat. Semula elektabilitas pasangan itu hanya 33,9 persen pada Desember 2017, naik 41,1 persen pada April 2018 dan terus meningkat mencapai 47,2 persen pada Juni 2018. Kenaikannya mencapai 6,1 persen.

Sementara kenaikan elektabilitas pasangan nomor urut 2 (Syaifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno) dalam kurun Desember 2017-Juni hanya naik 2,9 persen saja. Diketahui, hasil survey SSC menyatakan pada Desember 2017 elektabilitas pasangan Gus Ipul-Puti hanya sebesar 36,2 persen, pada April 2018 hanya 39,2 persen dan Juni 2018 naik menjadi 42,1 persen. Ini masih jauh dari elektabilitas pasangan nomor urut 1.

Sementara yang perlu dijaring oleh kedua pasangan itu, menurut Direktur Utama SSC Mochtar W Oetomo adalah undecided voters (yang belum menentukan pilihan). Saat Desember 2017 terdapat 29,9 persen pemilih yang masuk kategori uncecided voters, pada April 2018 menjadi 19,7 persen dan kini pada Juni 2018 diketahui ada 10,7 undecided voters. Seluruh potensi di masing-masing pasangan itu harus mampu bergerak untuk merebut undecided voters.

“Basis pemilih kedua pasangan itu sudah jelas, tak bisa diapa-apakan lagi. Gus Ipul pemilihnya struktural, Khofifah kultural, Gus Ipul Ansor, Khofifah muslimat, basisnya sudah jelas. Popularitas mereka di atas 90 persen. Berdasarkan teori politik, orang yang popularitasnya di atas 90 persen, itu sulit untuk menaikan elektabilitas. Maka cawagubnya lah yang menjadi faktor penentu.

Kenapa di beberapa bulan terakhir Khofifah bisa menyalip, karena keberadaan Emil lebih bisa diterima di masyarakat Jatim daripada Puti. Emil orang Jatim, pimpin Trenggalek sudah dikenal sebelumnya. Tapi Puti adalah wajah baru, sosok baru yang belum dikenal masyarakat. Di hasil survey kita pun, saat debat publik, Puti tertinggal jauh daripada Emil yang dianggap menguasai masalah dan lebih pintar,” ungkap Mochtar yang juga dosen di Universitas Trunojoyo Madura. (windh/by)