Gerakan Literasi Untuk Pacu Minat Baca Masyarakat

Selasa, 06 Mar 2018 | 22.00 WIB

Gerakan Literasi Untuk Pacu Minat Baca Masyarakat

Aksi literasi yang selalu dijalankan di perpustakaan Balai Pemuda. (Windhi/Centroone)



Centroone.com - Gerakan memacu minat baca di Kota Surabaya, sejak beberapa tahun lalu sudah berjalan. Hal ini merupakan langkah Pemkot Surabaya untuk terus menumbuhkan minat baca di masyarakat. 

Saat ini, pemkot miliki 1.430 titik layanan literasi yang tersebar di seluruh Kota Surabaya. Keberadaan titik layanan literasi ini, diharapkan menjadi ruang positif yang mampu meminimalisir dampak negatif dari perkembangan ilmu teknologi yang saat ini banyak disikapi secara berlebihan.

Disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Wiwiek Widayati, saat ini Pemkot Surabaya telah memiliki ribuan titik layanan akseliterasi, terdiri dari perpustakaan, Taman Baca Masyarakat (TBM), Paket seperti layanan mobil keliling dan program pendampingan mulai dari SD, SMP, Madrasah hingga pondok pesantren.

“Titik layanan akselitarasi ini, tersebar di seluruh Kota Surabaya, seperti berada di taman, Balai RW, rumah sakit, sekolah, instansi, rumah susun, terminal dan bahkan layanan kita juga ada di lingkungan pondok sosial (Liponsos, red) Keputih Surabaya,” ujar Wiwiek. 

Seperti di TBM, lanjut Wiwiek, selain terdapat layanan sirkulasi peminjaman dan pengembalian buku, pihaknya juga mengadakan aktivitas layanan literasi lainnya. Yakni, melayani bimbingan belajar (Bimbel) untuk anak-anak, Story Telling, membuat keterampilan, menggambar dan bermain alat edukatif lainnya.

“Kita juga punya program baru yaitu liga literasi dan Branding TBM. Selain itu, kita juga melayani paket di Panti Asuhan, TK dan Yayasan dan semua layanan ini bersifat gratis,” paparnya. 

Ditanya seberapa optimalkah titik-titik layanan akseliterasi ini? Wiwiek mengaku, keberadaan TBM saat ini tidak hanya dimanfaatkan oleh anak-anak, tapi juga para remaja dan orang tua. Keberadaan informasi ini yang menjadikan TBM sangat dibutuhkan untuk hadir ditengah masyarakat.

“Seperti ibu-ibu yang ingin mendapatkan informasi bagaimana mengembangkan UKM mereka, ada juga yang ingin belajar cara bercocok tanam. Hal-hal seperti ini lah yang menjadikan TBM sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Dimasing-masing TBM, kata Wiwiek, setiap dua kali dalam sebulan terdapat aktifitas yang bernama Aksi Literasi Taman Baca, pada minggu ketiga dan keempat. Yaitu, kegiatan literasi gabungan TBM disatu wilayah dalam satu kecamatan. “Ini juga termasuk upaya kita untuk investasi jangka panjang, bagaimana kita juga membangun habit daripada masyarakat di sekitar titik layanan ini,” kata dia.

Wiwiek mengungkapkan, data kunjungan titik layanan literasi yang tersebar di Kota Surabaya selama 2016 sebanyak 4 juta pengunjung. Sedangkan tahun 2017, data kunjungan mencapai 5 juta pengunjung. Peningkatan angka inilah yang menjadikan parameter utama, bahwa titik layanan literasi sangat dibutuhkan hadir ditengah masyarakat.

“Sebenarnya keberadaan layanan ini, juga mampu meminimalisir dampak-dampak negatif dari perkembangan ilmu teknologi yang saat ini disikapi secara berlebihan,” tegas Wiwiek.

Disamping itu, pihaknya juga mengadakan aktivitas kelas literasi setiap Sabtu, tempatnya di Balai Pemuda Surabaya, yang terbagi menjadi dua kelas. Yakni, kelas mendongeng dan kelas melukis. “Untuk kelas literasi dibuka setiap Sabtu, mulai pukul 13.00 sampai 15.00, yang bekerjasama dengan komunitas penggiat literasi,” pungkasnya. (windhi/by)