Mantan Bos Cambridge Analytica Sering Temui Donald Trump

Kamis, 22 Mar 2018 | 19.00 WIB

Mantan Bos Cambridge Analytica Sering Temui Donald Trump

logo Cambridge Analytica (newsweek)



Centroone.com - Skandal data Facebook -  yang melibatkan perusahaan analis Cambridge Analytica membuat situs jejaring sosial terbesar dunia itu kalang kabut.  Skandal sendiri bermula setelah seorang whistleblower bernama Christopher Wylie, mantan pegawai Cambridge Analytica yang bekerja sama dengan tim kampanye Trump.  Christopher mengungkapkan bahwa data sekitar 50 juta pengguna Facebook diangkut oleh perusahaan bernama Cambridge Analytica untuk memenangkan kampanye Donald Trump.  

Terkait skandal tersebut, Cambridge Analytica seperti dilaporkan Channel 4 News baru saja menskors Kepala Eksekutif mereka yang bernama Alexander Nix.   Sebelumnya perusahaan yang berbasis di London itu merupakan perusahaan analis yang  menyediakan penelitian pengguna sosial media, iklan dan layanan lainnya terkait data kepada pelanggan politik dan korporasi. 

Sebelumnya Nix dalam keterangannya mengaytakan kampanye online oleh perusahaan tersebut membantu kemenangan Presiden Donald Trump saat pemilu Amerika Serikat 2016.   Nix yang 'berkali-kali' menemukan Trump saat beliau menjadi calon presiden Partai Republik juga menjelaskan perusahaan itu melakukan semua penelitian, analisis dan target pemilih untuk kampanye digital dan TV Trump.

Terkait pernyataan tersebut, Cambridge Analytica menyebut "  Hal itu (pernyataan Nix) tidak mewakili nilai atau operasional perusahaan  yang mencerminkan keseriusan yang kita lihat dalam pelanggaran ini, "kata Cambridge Analytica dalam sebuah pernyataan kemarin.

Data 50 juta pengguna Facebook didapat Cambridge Analytica dari peneliti Cambridge University bernama Aleksandr Kogan menghadirkan "ThisIsYourDigitalLife" di Facebook pada tahun 2013 lalu.  Terkait hal tersebut,  Dr Aleksandr Kogan  menyebut dirinya hanyalah kambing hitam dari Facebok dan Cambridge Analytica. by